Malam satu Syura telah terléwati. Hari pertama bulan Asyura tahun ini bersamaan dengan hari Kamis, malam Jumat tepatnya. Oleh beberapa lapisan masyarakat Jawa bulan Syura ini dipandang sebagai bulan yang sangat penting, bahkan selain Bulan Ramadhan dalam tradisi Islam bulan Asyura ini juga termasuk bulan penuh rahmat dan barokah.
Waktu pertama pada bulan Asyura juga disebut sebagai detik permulaan… perkiraan tahun Islam Hijriah… karena diyakini juga sebagai waktu perpindahan Nabi dan Umat Islam dari Kota Mekah menuju Kota Madinah… Perpindahan ini lebih dikenal dengan sebutan Hijrah. Dari sinilah awal tahun penanggalan yang sering dipakai dibelahan bumi Arab sana. Tahun Hijriah.
Lain dari itu masyarakat Jawa lebih akrab dengan penggunaan Nama bulan Muharam atau Asyura tersebut dengan menyebutnya Wulan Syura. Dan tahunnya pun dikenal dengan nama Tahun Saka.
Bukan tanpa alasan Masyarakat Jawa menyebutnya sebagai Tahun Saka. Menurut banyak cerita hal ini masih berhubungan dengan Nama tokoh Ajisaka yang sempet berseteru dengan Dewatacengkar, dari sini akan muncul satu sejarah tentang awal timbulnya aksara Jawa. Dari Ajisaka akhirnya penanggalan Jawa dengan Tahun Saka nya ini tetap berlanjut seiring dengan dipegangnya tampuk kepemimpinan masyarakat Jawa oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Tangan Doa
Apabila kita menengok sejarah, memang tak dapat dipungkiri bahwa penanggalan Jawa ini juga berkiblat dari penanggalan Hijriah sebagai tahunnya orang Islam. Namun oleh penguasa Mataram hal ini bisa diadaptasikan kedalam bentuk budaya Jawa beserta hitungan-hitungannya, satu bentuk pengejawantahan yang fleksibel karena tak memaksakan kehendak utuk terlalu condong pada aturan budaya Arab. Disinilah yang saya salutkan pada generasi pendahulu tentang makna sebuah kebijakan akan satu tuntutan keadaan yang sama sekali tak ada niatan untuk memaksakan kehendak. Dari sini pula nantinya bakalan kita mengerti pada satu bentuk petuah dari orang tua terdahulu yang acapkali terucap sebagai satu pengèling-èling bagi orang Jawa, “Wong Jawa iku aja nganti ilang Jawané”
Kembali lagi pada peringatan malam satu Syura. Bersama dan tak ada satu kelompok organisasi manapun yang protes dan mengadakan peringatan di hari lain, semuanya serempak dan sepakat jika penanggalan satu Muharam (satu Syura) dilaksanakan pada hari Kamis malam Jumat kemarin. Tak seperti pada peringatan hari besar lain disini serasa adem ayem saja dalam memperingatinya, entah semua bisa enjoy atau malah merasa no caré namun kenyataan yang ada telah menunjukkan satu ketenangan tanpa ada perbedaan pendapat dalam menentukan hari dan penanggalannya, baik itu dari organisasi keagamaan (Islam) yang notabene adalah warna dari bangsa Indonésia yang beragama ini, ataupun organisasi budaya (adat) yang memperkaya alam kita.
Yah hari Kamis sore sebagian masyarakat yang menganggap Malam satu Syura adalah malam yang dibédakan dibanding malam-malam lain mulai melakukan aksinya. Karena saya dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Jawa maka disini yang coba akan saya kemukakan adalah sedikit tentang laku Jawa. Sejak sedari soré hari sebagian sudah melaksanakan ritual, entah itu ritual berupa mandi, jamasan atau hal lain beserta piranti serta ubarampénya. Ada juga yang melaksanakan hal lain seperti tapa mbisu sampai dengan tapa ngramé. Semua dilakukan atas kehendak pribadi masing-masing, tanpa ada pemaksaan dan hanya ada satu alasan disini yaitu tentang “wong nJawa yang tak bolèh lupa akan sifat keJawa’annya” Ada rasa tepa-slira, tahu tata-krama, dan paham akan unggah-ungguh (sopan-santun).
Terlepas dari pendapat dan pemikiran tentang bentuk tindakan musyrik, dari sini mohon tak hanya dipahami dari sisi kulit luarnya saja. Apabila memang terpaksanya kita tak mampu mengupas dalamannya alangkah lebih baik apabila kita dapat mencermati secara garis besar bahwa segala sesuatunya hanya bermuara pada satu tujuan yaitu pasrah serta berserah kepada Sang Penguasa Waktu. Segala bentuk lelaku tersebut hanyalah berfungsi sebagai sarana untuk meminta pada Sang Pemberi, tak lain adalah Gusti Kang Murbèng Dumadi -Tuhan Yang Menjadikan Kita.
Kata meminta diatas bukan berarti karena bertepatan dengan hari Kamis terus identik dengan mengemis ya…! Mémang keberadaan dari tindakan meminta hampir sama dengan mengemis, akan tetapi posisi meminta disini adalah satu bentuk permintaan kita kepada Yang Memberi Hidup dengan tujuannya masing-masing yang saya yakin tak jauh dari permintaan keselamatan serta keberkahan. Sementara mengemis adalah tindakan meminta yang diulang-ulang karena ya itulah pekerjaan yang sedang dilakoninya. Lebih jelasnya mengemis bisa dibilang sama dengan meminta-minta.
Sekali lagi perbendaharaan dari kata meminta-minta sangat berbeda maknanya apabila dibandingkan dengan kata meminta. Kata meminta lebih berkonotasi pada arah menuntut hak atau sekedar ada kemauan untuk mendapatkan jatah. ”Saya meminta kepada Tuhan agar tahun baru ini diberikan kemudahan dalam memperoleh rejeki” Sedangkan meminta-minta arahnya lebih cenderung pada posisi sedikit lebih merendahkan diri.
Entah apa yang akan kita sebut dalam melaksanakan doa, mémang apabila merunut pada dua kata minta diatas kita bakalan berposisi lebih merunduk dan merendahkan diri kepada Dzat yang kita pinta. Namun apabila dihadapkan pada keadaan sekarang ini, akan tetap demikian jugakah jika kita meminta kepada para punggawa negeri ini atas ketidak beradilannya terhadap umat…? [uth]
ilustrasi: tangandoa (www.harataya.multiply.com)
Berbagi adalah Peduli...




























