Ibuku temanku. Hari Ibu diperingati tak secara bersamaan disetiap negara, dan kebetulan saat ini kita negeri Pertiwi ini sedang memperingati “mothers day” yaitu setiap hari ke dua puluh dua bulan yang ke dua belas ini.
Silahkan ceklik PlayList diatas untuk mendengarkan That’s What Friends Are For..!
.
‘
Jarang sekali (atau bahkan mungkin tak pernah) ku memanggil perempuan yang melahirkanku itu dengan nama Ibu, mama atau mami. Orang tua yang melahirkan dan membesarkanku itu paling akrab aku panggil dengan sebutan “simbok” atau paling-paling aku selingi panggilan itu dengan kata “emak”, “mamak”. Memang serasa pas banget panggilan “simbok” itu ku terapkan karena sesuai dengan keadaan dan latar belakang keluarga kami sebagai keluarga yang bukan termasuk golongan berada. Ahh, maafkan saya bukan maksud mengeluh dan kurang mensyukuriMU…
Kembali pada keberadaan seorang Ibu dikehidupan kita ini. Masih terbungkus rapi dalam ingatan saya mengenai pesan piwulang seorang ibu dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini. Kalimat yang sungguh saya rasa sangat bermakna “Anglakoni urip iku amung sakderma ananging kudu akeh tresna, tresna marang sapadha-padha jalma, amarga tresna bakal anuwuhake rasa kekancan, kamangka kanca iku ya donga” Coba sedikit saya alih bahasakan , “Menjalankan hidup ini hanya sekedarnya, akan tetapi musti banyak cinta, rasa cinta terhadap makhluk Tuhan, sebab dengan cinta bakal timbul rasa pertemanan/persaudaraan, sementara teman itu berarti do’a”
Dapat saya garis bawahi pesan dari Simbok saya tersebut, yang pertama adalah Urip sakderma akèh trésna – simply Life With More Love, dan yang kedua Kanca iku donga – The friendship is Prayer. Untuk kali pertama ini akan saya coba berceloteh tentang hal yang kedua, yaitu bahwa “Teman itu berarti adalah do’a”.
Kanca iku donga, sebenarnya sempet saya kemukakan pada satu tulisan saat mamak dirawat di rumah sakit sini. Namun untuk kali ini coba dengan bentuk lain. Seperti temen-temen lihat pada bagian paling atas tulisan ini, disana terpajang sebuah lagu dengan judul “That’s What Friends Are For”. Pokok bahasan sebenarnya masih berhubungan dengan keberadaan seorang simbok, agak lain memang…tak seperti biasanya… sama sekali bukan lagu bertemakan “Ibu”.
That’s What Friends Are For, Sebuah lagu yang mamaknai tentang arti sebuah pertemanan. Sungguh selama dibesarkan oleh seorang Ibu saya baru bisa sadar walaupun saya tahu belummampu sepenuhnya menyadari tentang keberadaan saya. Bahwa sungguh sangat egois yang sudah saya lakukan selama ini, saya mau menghubungi seorang simbok hanya jika saya membutuhkannya (meski itu hanya sekedar butuh doa restu). Cukup singkat dan cepat menyapa dan setelah itu langsung saja to the point menyampaikan maksud yang ada. Jarang sekali saya bisa menjadi pendengar yang baik dan berlaku layaknya pendengar setia, saya lebih bersikap “sok sibuk” sehingga tak berkesempatan tuk memberikan ruang bagi simbok sekedar membalas sapaan basa-basi saya diatas.
Padahal kalau kita mau mengulang kembali dari sewaktu kecil kita tumbuh besar, kemudian menjadi dewasa, tak bisa dipungkiri apabila kesemuanya itu juga atas perlakuan simbok kita sebagai orang tua yang membesarkan sekaligus berfungsi sebagai pendengar setia ita. Beliau mampu membaca buku petunjuk yang berjudul “gerak-gerik dan polah tingkah” kita, beliau setia mendengarkan lantunan lagu meski kadang tak berirama, dan lagu itu terlantun dari mulut kita sebagai anak-anaknya yang tentu saja karena tak berirama akan terasa sumbang dan fals di perasaannya. Bahkan meski tanpa suara dan sikap beliau juga akan bisa merasakan gelombang frekuensi yang ada pada diri kita.
Kerap sekali seorang simbok mengajak kita anak-anaknya ini untuk berbicara berdua, becanda bersama atau melakukan kegiatan lain yang menunjukkan satu sikap akan kebersamaan. Yach kebersamaan sebagai seorang sahabat dan teman, tanpa kasta dan terhilangkan pembeda disana. Tahukah kita akan kesemuanya itu…?
Jarang sekali kita bisa menyadari itu semua, tak munafik termasuk juga saya…
Seorang ibu sedari kecil tanpa banyak berhitung telah dengan rela memberikan apa yang beliau punya, ya harta ya tenaga. Lebih dari itu apabila terpaksanya memang tidak ada namun sangatlah dibutuhkan oleh kebutuhan anak-anaknya seorang ibu pun akan tetap berusaha secara sukarela bahkan tak pantang mengorbankan dirinya, bisa dilihat mulai pada saat seorang ibu berusaha keras mengeluarkan kita dari rahimnya.
Dari keadaan yang seperti tersebut diatas sudah menjadi kewajiban apabila kita pun musti selalu patuh dan perhatian pada Ibu. Setidaknya kita akan merasa tertuntut apabila kita mampu mengenang dan mengingat keberadaan kita sedari kecil sampai dengan tumbuh dewasa. Selain berfungsi sebagai orang tua yang memberikan pertanggungjawaban kepada kita, seorang simbok ternyata juga menempatkan diri layaknya teman yaitu sebagai tempat sharing bagi anak-anaknya. Karena tanpa harus berpedoman pada sebuah dalil, beliau sadar, mengerti dan mampu merasakan bahwa keberadaan teman itu adalah juga tersedianya do’a. Kanca iku donga!
Do’a tak harus dipanjatkan di Masjid, Gereja, atau tempat ibadah lainnya. Tak juga musti mengenakan kalung salib atau pakaian bersurban. Namun sebuah harapan dari seorang Ibu agar kita anak-anaknya ini menjadi anak yang soleh dan berguna pun sudah termasuk doanya.
Layaknya sebagai teman pula, maka bersama dengan hari ibu, marilah kita anak-anak beliau ini tetap berbenah dalam menghiasi ruangan kalbu dengan menggunakan sebuah rangkaian bunga-kata berharap, semoga, dan memanjat….. sehingga harapan serta doa tersebut mampu kita display sebagai pajangan di hadapanNYA.
Selamat Hari Ibu. Terimakasih Ibu atas semua yang kau berikan kepada kami, anak-anakmu ini. Semoga keberadaanmu selalu dalam LindunganNYA, Semoga, Semoga, dan Semoga… [uth]
____________________________________________________
Ibuku temanku and next is Simply Life With More Love
Berbagi adalah Peduli...





























