
- Ilustrasi: Jamasan Zaman di TegalReja Magelang (diambil dari FB nya Pakdhe BlontankPoer)
Membuka kembali satu posting photo yang di unggah oleh Pakdhe BlontankPoer sungguh membuat bangga akan keadaan kebersamaan antar kita. Tak membiarkan satu manusia terkungkung oleh satu pengkotakan dengan dibatasi sebuah keyakinan. Yang terkadang kita sendiri juga memasuki ruang pengkotakan itu dengan (tak) sengaja juga hanya berdasarkan ke egoisan satu dalil tanpa menghargai dalil dari kotak yang lain. Bahkan dari sini pula Pembenaran atas satu tindakan yang entah disadari atau tidak telah berlangsung, tanpa satu kepedulian akan membuat rusak norma yang ada, merugikan pihak lain serta hanya membuat untung satu pihak.
Peringatan Jamasan Zaman di Tegal Reja Magelang pada Malam Satu Sura beberapa hari yang lalu semoga tetap menjadikan kita semua terus berpacu dalam kebersamaan dan hidup berkerukunan. Kita jadikan tolok ukur dalam menjalankan kehidupan keseharian dengan penuh cinta dan kasih sesama anak manusia.
Tak lain dan tak bukan kita semua ini terlahir adalah juga karena buah dari kasih sayang dan belaian tangan cinta orang-orang yang berada disekeliling kita, utamanya kedua orang tua. Mereka telah dengan susah payah mengeluarkan keringat dan air mata namun semua itu dilakukannya penuh sukacita serta ikhlas dan rela.
Kita baru saja melewati tanggal duapuluh dua bulan yang keduabelas ini, dimana hari itu adalah hari yang diperingati sebagai hari ibu. Dengan itu mungkin akan terkenang dengan keberadaan akan jasa seorang Ibu dalam menumbuhkembangkan diri kita. Yach kesemuanya akan bermuara dan sudah berpangkal tak jauh dari pelukan kasih sayang dan belaiannya.
Dan selanjtnya Natal juga telah menjelang, ada dari sebagian saudara-saudara kita bakal merayakannya. Membaca sebuah renungan yang baru saja ditulis di koran Kompas, tersirat sebuah kalimat dari Bunda Teresa bahwa “Setiap kali kita tersenyum bersahabat kepada seseorang dan berbaik hati kepadanya, kita merayakan Natal. Setiap kali kita memberikan pengharapan kepada seseorang yang putus asa, kita merayakan Natal. Setiap kali kita memberikan kesempatan Yesus lahir kembali dengan membahagiakan orang lain, kita merayakan Natal.”
Tatkala selesai membaca itu semua, Sebuah kalimat yang terucap dari Simbok muncul kembali dalam benak saya, Urip sakderma akeh tresna – Hidup sederhana banyak Cinta – Simply Life with more Love.
Bermodalkan rasa cinta manusia ini ada. Tak bisa tidak rasa itu bakalan terus terbawa dalam hidup dan kehidupan kita. Dan karenanya maka segala segi yang mampu membangunkan rasa cinta itu juga tak bakalan terhilangkan dari diri kita. Ada rasa sedih disana, terlawan rasa benci dari keadaan yang ada, juga tertoreh rasa curiga atau cemburu buta, serta masih banyak lagi efek rasa yang lainnya.
Berbagai rasa yang ada ini memanglah sudah digariskan untuk wajib ada. Karena apa jadinya jika rasa itu tak ada dan berwarna, apabila di bumi ini hanya tersedia satu rasa yaitu cinta saja maka kita tak bakalan bisa berkata yang sedang kita rasakan saat ini adalah sebagai rasa cinta. Persis pada rasa manis, kita tak bakalan bisa merasakan manis jika pahit tak pernah kita kecap. Semua memang sudah dijadikan sebagai hukum alamNYA, dan kita manusia inilah yang musti mampu merenungi dan mempelajari.
Dari kenyataan akan rasa hidup diatas sudah seyogyanya apabila kita semua memaknai hakikat hidup ini adalah juga sebagai rangkaian cinta, tak hanya terfokus pada cinta anak manusia, lebih dari itu adalah rasa cinta terhadap segala keadaan yang telah diciptakanNYA. Cinta pada keadaan lingkungannya. Sebagaimana harapan Nabi dengan Rohmatan lil ‘Alamin nya bahwa kita tercipta adalah sebagai Rahmah dan barokah serta pembawa kedamaian bagi alam sekitar kita.
Hidup yang hanya sementara ini, urip amung sakderma iki, marilah kita gunakan sebagai lahan kita mencari jalan cinta, kasih, dan sayang terhadap semua CiptaanNYA, akeh tresna marang sak padha jalma. Bentuk jalan kasih cinta, dan sayang ini bisa dalam berbagai macam dan wujud. Melerai orang lain agar tak membuat rugi dirinya pun adalah juga termasuk bentuk kasih sayang kita, kita masih sayang maka akan kita cegah orang yang kita cinta tersebut karena telah menuju kepada hal-hal yang bakalan menjerumuskannya.
Tanpa membedakan satu keyakinan yang dinut, apapun keyakinan anda, bersama Natal ini marilah kita lahirkan kembali rasa cintakasih sesama tersebut. Karena apabila rasa itu kita biasakan terrekam dalam diri kita, tak menutup kemungkinan nantinya alam bakalan menyeleksi hingga akhirnya mampu menjadikan diri ini tahu akan sejatinya rasa. Ya Rasa sejati…
Bagi teman-teman yang merayakannya saya ucapkan Selamat Hari Natal, Damai dihati damai disanubari…! [uth]
Terlihat beda jauh wajah, penampilan, bahkan rumah-rumah manusia di mana belas kasih kerap dilaksanakan. Ada kesejukan, ada keteduhan, ada kedamaian. Jangankan menyakiti hati manusia, menginjak rumput pun masih perlu tuk dipikirkan berulangkali.
(I Gde Prama)


















