
- december calendar
Sebaris kalimat yang menjadi deretan syair pada tembang “menghitung hari” nya Krisdhayanti seringkali saya dengar pada akhir-akhir ini . Lantunan nada lagu tersebut sama sekali tak ada hubungannya dengan gosip tentang KD atau barangkali tentang Luna Maya yang baru saja lebih merebak akibat telah tersandung jempolnya pada keyboard berlabel Twitter. Lain dari itu, “menghitung hari” kali ini bener-bener dilakukan dengan jari jemari guna menyongsong hari yang ditunggu-tunggu sebagai hari pertama pada tahun berikutnya, 2010.
Hari demi hari telah setiap hari kita lalui, tak usah jauh-jauh selama bertahun tahun, dalam sepuluh hari terakhir saja mari coba kita tarik balik sebagai sebuah renungan yang patut kita jadikan bahan introspeksi diri.
Berawal tanggal duapuluh dua yang diperingati sebagai hari Ibu telah banyak kita jumpai penjabaran berbagai makna dari tulisan-tulisan yang ada, berbagai sudut pandang tertuang pada bermacam media pula. Berbagai macam ide dan cerita tersebut tertuang beraneka warna pula. Namun satu yang menjadi inti makna, yaitu tentang Ibu yang telah dengan susah payah melahirkan kita, umat manusia. Terbentuknya diri kita sebagai hasil cinta kasih dan sayang sepasang sosok yang disebut manusia tersebut tentu atas berkah dan RahmatNYA.
Bergeser beberapa hari didepannya sebagian dari kita juga sempat merayakan sebuah peringatan Tahun Baru. Baik itu disebut Tahun Baru Hijriah ataupun Tahun Baru Saka. Mungkin teman-teman tercintaku semua telah mahfum tentang awal cerita kejadian yang di sebut sebagai Tahun baru tersebut.
Tahun Baru Hijriah dimulai semenjak peristiwa Hijrah atau pindahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, sementara Tahun Baru Saka yang saya ketahui adalah terlahir dari ide dan gagasan cerita Ajisaka bersama Prabu Dewata Cengkar. Setidaknya itu ilmu dangkal yang baru saya ketahui. Maaf kalau disini saya salah, karena memang tak dapat membeberkan secara lengkap disertai bukti-bukti yang ada mengenai peristiwa-peristiwa tersebut. Untuk itu saya tetep mengharap pencerahan, koreksi dan pembenaran dari temen-temenku semuanya terutama yang lebih mengetahuinya.
Setelah tanggal duapuluh dua, tiga hari kemudian sebagian teman-teman tercintaku yang lainnya juga berbahagia karena telah mendapatkan berkahNYA dapat menikmati dan merayakan Hari Natal, dimana Hari itu adalah hari yang dipercaya sebagai waktu Kelahiran Sang Juru Selamat Umat Manusia di bumi ini.
Tak secara pasti, bersamaan, dan saling berbeda semua meyakini sebuah penanggalan. Akan tetapi ada yang lebih pasti dan semua dari kita mengalaminya, yaitu waktu pada saat kita ini dilahirkan di muka bumi ini, waktu dimana pertama kali kita dapat menghirup udara yang berada di bumi ini. Keseharian yang sama-sama kita ketahui hanyalah bergulirnya bumi ini sehingga tersebutlah pada sebuah kata, pagi, siang, sore, dan juga malam. Semua kondisi dan keadaan itu sama dan serupa, yaitu akibat berlakunya hukum alam.
Begitu juga nanti beberapa saat lagi yang bakalan kita jalani adalah satu waktu bergantinya hari ini yang bakalan kita peringati sebagai Tahun Baru Masehi.
Apabila kita tarik sebuah benang merah dari keadaan ini, waktu yang berganti ini adalah sebuah proses keseharian kita. Waktu saat ini yang telah lewat dapat kita sebut saat yang lalu dengan istilah Bahasa Inggrisnya Past, sementara waktu sekarang namun masih belum datang bisa kita sebut sebagai besuk juga di berikan istilah future.
Kembali lagi pada proses, Semua itu terjadi tak lain dan tak bukan adalah karena bergulirnya proses perjalanan waktu sekarang ini yang orang barat bilang juga dengan kata present.
Berlanjut pada kata Present, selain dapat kita artikan sebagai waktu yang kita alami sekarang juga mampu kita definisikan sebagai hadiah. So present is equal with prize.
Waktu sebagai hadiah. Ya, hadiah dari Sang Penguasa Alam ini…
Sungguh sangat wajar sesuai perjalanannya apabila dalam pergantian waktu pula kita merayakannya dengan bertukar atau bahkan memberikan hadiah, baik itu kepada sesama kita ataupun terhadap orang lain.
Kita semua bergembira merayakannya.
Namun jarang sekali kita (terutama diri saya) menyadari bahwa kebenaran yang ada telah berulang kali kita ini selalu melupakan sebuah kewajiban memberikan hadiah padaNYA. Padahal keadaan yang sebenarnya apabila hal itu kita lakukan, maka akibat yang bakalan timbul bukan saja sekedar kegembiraan dimuka bumi ini saja. Sesuai janjiNYA maka beliau nanti pada hari diakhir masa ini bakalan mengundang kita pada PestaNYA. Pesta di haribaannya, saat kita semua ini di kumpulkan di Padang Makhsar, atau temen lain ada yang menyebutnya sebagai undangan permohonan atas kehadiran kita pada pesta Perjamuan AgungNYA.
Semua voucher yang kita gunakan untuk memasuki pintu tempat pesta tersebut bergantung pada pemakna’an akan hari perayaan sewaktu kita berada di dunia ini. Jikalau kita telah memberikan hadiah kepadaNYA seperti layaknya kita melakukan perayaa setiap hari , tak menutup kemungkinan nanti pada saatnya tiba kita pun bakalan memiliki banyak voucher yang dapat ditukar pada pintu-pintu Perjamuan AgungNYA tersebut.
Di akhir hari yang sepakat kita sebut sebagai hari akhir pada tahun 2009 ini, semoga kita juga mampu menghitung kekurangan atas hadiah permohonan doa dan ampunan kepadaNYA. Sehingga tidak saja hanya sekedar menghitung hari ini yang bakalan berubah menjadi hari esuk sebagai Tahun Baru tanpa ada satu pemaknaan baru atas diri kita. Semoga… [uth]


















