2010 baru saja memulai alirannya pada kehidupan kita.
Secara pasti saya tak kuasa menyebut anugerah ini sebagai berkah bertambahnya umur kita menghirup udara dunia, atau malah sebagai satu ketentuaNYA akan berkurangnya jatah usia kita. Ketika sudah digariskannya usia kita menuju pada kehidupan selama sembilan puluh tahun misalnya, maka apakah akan berkurang satu tahun jarak pada angka menuju sembilan puluh tahun tersebut. Atau semoga kita masih terus mampu mensyukurinya karena tambahan umur satu tahun tersebut pada kehidupan ini tetap masih dapat kita terima.
Bersama satu dendangan lagu “akan kemanakah angin” terdapat satu pertanyaan yang mengalir bersama lantunan lagu puisinya Sapardi Joko Pramono. Dengan tanpa disadari betapa angin ini telah membawa arti penting dalam kehidupan kita, ada kalanya dia membawa awan, atau mengantarkan kita pada satu perenungan tentang sepoi-sepoi langkah kehidupan yang telah di lalui. Bisa menderu menjadi ombak namun adapula kalanya menerbangkan angan pada satu bisikan mimpi. Yang pada akhirnya memang kita musti bermimpi jika akan menggapai satu cita mulia. Tanpa satu mimpi mustahil semua bakal terwujud. Tinggal bagaimana kita menyikapi satu gaya yang benar dalam proses mengkayuh dan mendayung mimpi itu, semua bergantung pada diri kita.
Kemeriahan perayaan pergantian tahun telah usai. Banyak dari temen-temen turut juga memperingatinya. Namun tepat sesaat sebelum peringatan itu kita juga telah melepas kepergian seorang anak bangsa bernama GusDur, disusul kemudian Frans Seda.
Coba kita renungkkan keadaan yang baru saja kita alami tersebut.
Angin yang berhembus telah mengabarkan kepada kita semua. Tentang semilir kehidupan yang jarang sekali kita sadari bahwa diantara kehidupan itu sendiri terselip satu hembusan nafas terakhir dengan sebutan kematian. Dari sini mampu kita ambil satu makna pelajaranNYA bahwa awan dan mendung beserta hujan hanyalah sekedar warna dari perjalanan yang dihembuskan oleh angin.
Sampai dimana berarak awan dan bagi siapa kita pejamkan wajah ombak bersinar rembulan tetap merunut pada arah angin. Diakhir pasti ada keadaan tenang sebagai pelukan.
Getar hati mungkin adalah pilihan terakhir sebagai tempat tertambatnya kesemuanya itu. Dari sana ada satu hal yang musti kita menyadarinya, yaitu tentang dimana kelak keberadaan kita.
Berhembus sebagaimana adanya, seperti biasanya. Bagaimanapun keadaan angin yang sedang menghidupi ini sudah semestinya pula kita pikir dan renungkan.
Kita ambil satu manfaat dari kejadian sepeninggal anak-anak bangsa diatas, bahwa disamping sadar akan hembusan segala macam bentuk angin,seyogyanya kita pun musti jauh memikirkan keadaan didepannya adalah muara yang berfungsi sebagai tempat tertambatnya hati nan suci, Illahi Rabbi.
Selamat Tahun Baru 2010, Semoga Hidup kita semakin bermakna. Bagi kita, bagi anda temen-temen tercintaku semuanya, dan yang pasti bagi sang penghembus anginNYA ini. Amien… [uth]
Untuk mendengarkan akan kemanakah angin silahkan ceklik playlist diatas!
Berbagi adalah Peduli...





























