
- Its Not Mallboro Country
Satu hal pernah dikatakan Suwargi (almarhumah) mbahUti pada satu saat dulu yang karena memang sudah sangat lama sewaktu masih kecil akhirnya sayang sekali saya lupa-lupa ingat.
Beliau pernah menceritakan tentang sebuah kalimat (berbahasa jawa) mengenai kata “Malioboro”, bersyukur sekali saat kemarin keliling Kraton Ngayogyakarta Hadinningrat saya diingatkan kembali oleh salah seorang pemandu wisatanya. Memang kebetulan kemarin saya mengajak main sepupu yang sudah lama sekali nggak ketemu untuk keliling ke komplek Kraton.
Hampir sama seperti cerita mBah Uti, maka diceritakan kembali oleh sang Pemandu (maaf ku lupa menanyakan namanya), salah satunya adalah mengenai kata “Malioboro”
Kata Malioboro berasal dari dua wanda (suku kata) yaitu “malio” dan “boro”. Kata malio sebenarnya berasal dari kata mulya yang mempunyai definisi “makmur” atau “mulia”, sementara boro diceritakan sebagai bagian dari kata “ngembara” atau dalam bahasa Indonesianya adalah mengembara.
Jadi arti dari kata Malioboro sebagai gabungan dua suku kata tersebut kurang lebihnya adalah, bahwa manusia ini apabila ingin hidupnya menjadi makmur musti melakukan pengembaraan, selanjutnya pengembaraan ini juga pada akhirnya selain mendapatkan satu bentuk kemakmuran maka tak menutup kemungkinan juga bakal memetik satu hasil kemuliaan.
Maaf tak bermaksud mendakwahi temen-temen, sehubungan dengan pengembaraan tersebut apabila dikaitkan dengan peristiwa perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yaitu mengenai kejadian Hijrah (dari Makkah ke Madinah), dari sana akan ditemukan satu bentuk pengembaraan juga. Artinya pengembaraan atau hijrah disini bukan saja hanya berarti pengembaraan yang bersifat fisik saja, lebih dari itu adalah pengembaraan yang bersifat batiniyah.
Tak bisa dipungkiri dewasa ini banyak dari temen-temen semua (termasuk juga saya) kurang begitu mahfum tentang kata Malioboro tersebut. Yang kita semua tahu hanyalah bahwa Malioboro adalah satu tempat yang terkenal sebagai obyek wisata sekaligus tempat belanja untuk para wisatawan yang berkunjung ke Jogja. Memang sebenarnya hal ini pun tak mengandung unsur kekeliruan, karena kenyataan yang ada memang terbukti seperti itu, tak terbantahkan lagi.
Semoga dari sini pun kita juga tak mengambil hanya pada satu keuntungan yang bersifat materi semata. Mengingat pada tujuan awal yaitu selain “makmur” yang cenderung pada kehendak yang bersifat materi, ternyata masih ada arti harfiah lain dari kata “malio” tersebut, tak lain adalah “mulia” yang menurut pemahaman saya mengandung satu pesan moral.
Bagaimana kita supaya menjadi insan yang bisa di “mulia”kan..? Jawaban dari pertanyaan ini adanya terletak pada pribadi kita masing-masing.
Sangat disarankan selama hidup kita selalu berusaha mengejar hal duniawi, namun kalau kita telaah lagi sebenarnya hal yang bersifat duniawi ini berfungsiguna hanya sebagai pengantar cita yang lebih tinggi yaitu adalah hakekat hidup itu sendiri.
Hakekat kebenaran hidup makhluk Tuhan ini dinantinya bakalan menemui mati. Dialam setelah mati inilah cita lebih tinggi berbentuk kemuliaan ini masih dapat kita nikmati, setidaknya itu yang saya yaqini. Temen-temen tercintaku semuanya boleh sependapat dengan pernyataan saya tersebut, namun apabila berbeda pendapat pun kami persilahkan.
Balik pada kata malio sebagai makmur, dan juga malio sebagai mulia ada dua hal yang mungkin bisa kita ambil satu manfaat.
Pertama mengenai kemakmuran yang saya garis bawahi adanya cenderung diwilayah dunia ini, sementara yang keduanya adalah mengenai kemuliaan yang (menurut saya) menuju pada arah kehidupan setelah ajal nanti, mulia didepan sang Pemilik Roh sebagai hasil yang dipetik atas tindak mulia selama di bumi ini…
Maka apabila merunut pada kata Malioboro tersebut diatas sudah sewajarnya kita juga bakalan teringat satu kalimat “Bekerjalah, berusahalah seakan akan kita bakalan hidup 1000 tahun lagi, namun beribadahlah serta bertobatlah seolah olah kita bakalan mati besuk pagi.”
Sedikit mengenai Malioboro ini berharap bisa dijadikan manfaat buat kita semua (terutama diri saya). Serta ramainya malioboro semoga juga masih mampu kita jadikan cermin atas keramaian hati kita dalam menyebut dan memanggil NamaNYA. Sehingga tak hanya tertutup keduabola mata kita ini oleh barang-barang dagangan yang ada di sepanjang Jalan malioboro (Ahmad yani) tersebut. [uth]
Malioboro, Malyo n Boro! Its not the Mallboro country


















