Hadiah Permata Ayin dan kabar es krim

ilustrasi: kompas (perawatan wajah Ayin oleh Dokter Specialist)
ilustrasi: kompas (perawatan wajah Ayin oleh Dokter Specialist)

Sore ini Plenthy yang baru saja pulang bekerja tak langsung menuju rumahnya, dia lebih tertarik untuk pulang ke tempat kakanya yaitu ke rumah Trimbil.
Sesampainya dirumah Trimbil Plenthy disambut cium tangan dari sang ponakan, Supreh. Sembari leyeh-leyeh rebahan di bale teras depan rumah Plenthy pun disuguhin segelas teh nasgitel bikinan Supreh. Dan tak lama berselang Semprul, istri Trimbil datang menyambanginya.

“Ada apa ta dik kok wajahmu kelihatannya muram gitu…?” Pertanyaan Semprul membangunkan Plenthy dari lamunannya.

“Oh nggak ada apa-apa kok mBakyu, hanya masih merasa kecapekan aja, makanya ini nggak langsung pulang ke rumah, masih pingin nyante  n kangen buat menyeruuout tehh bikinan Supreh” Plenthy menjawab sekenanya sambil mengeluarkan sebungkus rokok beserta koreknya. “Lha Kang Trimbil nanti pulang kerja jam berapa mBakyu..?” Lanjut Plenthy bertanya pada kakak iparnya.

“Ya seperti biasane ta dik, coba ditunggu sebentar lagi ntar juga nyampe rumah. Yawis sampean kalo gitu ku tinggal masak buat makan malam dulu ya dik” Semprul pun menjawab dan setelah itu beranjak dari bale bambu itu tanpa menunggu jawaban Plenthy…

Selanjutnya Plenthy menikmati sebatang rokok sambil sesekali menyeruput teh yang telah tersedia.
Sudah setahun ini Plenthy mendapatkan pekerjaan yang lumayan agak dia sukai walopun hanya bergelar sebagai seorang “jongos”. Plenthy bekerja sebagai karyawan swasta disebuah hotel berbintang yang tentu saja banyak melayani orang-orang tajir dan juga pejabat kaya. Dalam waktu setahun itu Plenthy juga telah banyak tahu tentang suka-duka melayani berbagi macam karakter manusia, baik itu berkewarganegaraan Lokal maupun manca negara, dari yng berkulit sawo matang, kulit hitam sampai dengan kulit putih. Lebih tepatnya Plenthy sering menggunakan istilah angon kebo, angon onta atau angon yang lainnya. Istilah sama sekali bukan sebagai perwujudan membinatangkan para tetamunya, namun ini  tak lain adalah karena dia merasa harus melayani mereka semua.

Setelah menghisap beberapa batang rokok akhirnya Trimbil yang sebenarnya sangat dinantikan Plenthy sebagai sosok kakak yang bisa diajak bertukar pikiran pun datang, pulang dari tugas kerjanya.

“Weh, kamu tumben tumbenan amat Thy sesore ini kok ya wis nyampe kene lho…! Wis suwe nangkene pa….?” Tanpa basa-basi Trimbil berucap pada adik laki-lakinya itu.

“Oh ya wis dari tadi ini je Kang, biasa sepulang kerja emang maunya kesini aja, lumayan bisa ngobrol ama sampean” Plenthy menjawab pertanyaan Kakaknya

“Oh gituuuu….. Yawis ini dah menjelang Maghrib, mendingan kita mandi aja dulu, ngobrolnya nanti setelah sembahyang Maghrib aja ya..! Rak ya kamu mau nginep sini ta…?” Trimbil mengajak Plenthy bergegas ke kamar mandi belakang.

Setelah semuanya beres urusan didapur, Supreh dan Semprul pun saling bergantian mandi sembari menunggu Trimbil dan Plenthy kelar mandi juga.  Mereka berempat tak lupa mengadakan sembahyang berjama’ah.
Setelah itu Plenthy dan Trimbil lebih memilih bale bambu di teras depan sebagai tempat berbincang sambil menunggu Supreh dan Semprul mempersiapkan makanan untuk jatah makan malam.
Beja yang baru saja pulang dari Masjid lewat depan rumah Trimbil pun tak lupa dipanggil untuk menemani mereka berbincang, maka mampirlah si Beja bercakap dan duduk bersama didepan teras rumah Trimbil.
Sebelum asyik dengan gurau dan canda ternyata sajian makan malam telah dibawa Semprul dan juga Supreh.

Sajian makan malam keluarga kecil kali ini agak lumayan “wah” karena pagi hari tadi mendapatkan jatah dessert alias menu penutup dari kabar es krim, maka tak lain menunya pun berujud Es Krim. Dan lebih heboh lagi karena sebelum acara makan malam ini pun Plenthy yang bekerja di sebuah Hotel memberikan oleh-oleh berupa batu Permata kepada kakak Ipar beserta ponakannya, Semprul dan Supreh, masing-masing medapat jatah satu satu. Batu Permata tersebut berlabelkan Ayin.

“Ini sebelum maem ku mo ngasih bingkisan yang tadi ku dapat dari pameran jewelery, bingkisan ini lebih cocok kalo dikenakan oleh mBakyu Semprul dan nDhuk Supreh, silahkan mBakyu… Ini nDhuk buatmu…!” Plenthy berucap sambil menyodorkan dua bingkisan rapi kepada Supreh dan Semprul.

“Ohhhhhh…. Makasih banyak OmPakLik Paman Plenthyyy….. Paman kali ini ganteng dechhhh…….hihihihi…..” Supreh memeluk dan menciumi pipi Omnya sambil juga kegirangan menerima bingkisan dari Pamannya tersebut.

“Halah alah alahhhh……. mbok kamu itu jangan lebay ta ndhukkk, ngomong-omong makasih bingkisannya ya dikkk….!!” Semprul pun nampak ceria dan tersenyum.

“Lah terus jatah buatku mana ta Thy…?” dengan nada becanda Beja mendadak berucap seakan-akan komplain tak mendapatkan jatah bingkisan.

“Wehehehe, Beja Bejaaaaa… ternyata kamu mau juga taaa…… Yawis bingkisan buat kamu langsung di bingkis diperut aja yaa…. ayo bareng-bareng ama aku ngebingkisnya” Sambil berkata begitu Trimbil sang empunya rumah mengambil sepiring nasi beserta lauk-pauknya.

Acara makan malam bersama mereka berlima pun akhirnya selesai, setelah beres beres semuanya tinggal menyisakan minuman berujud teh nasgitel nya Supreh, akhirnya Semprul meneruskan membereskan kotoran piring di dapur dan Supreh masuk kedalam kamarnya tuk belajar.
Sementara Plenthy, Beja dan juga Trimbil melanjutkan sembahyang Isya’ berjamaah.

Acara nongkrong di bale bambu teras depan rumah pun segera mereka  lanjutkan kembali. Obrolan dimulai dari suara Plenthy, “Aku tuh sebenarnya hari ini capek banget je Kang…”

“Loh capek piye ta Thy, kamu itu khan sekarang dah lumayan dapet kerjaan yang nggenah taaa…?, Coba kau bandingkan dengan kerjaannya Si Beja itu. mBok ya jangan terlalu nengadah ta ngliatnya itu….” Trimbil menyahut omongan Plenthy

“Nah mbok ya gitu ta Thy, dipikirke omongane Kakangmu itu….!” Beja pun tak mau ketinggalan tuk menimpali pembicaraan tersebut.

“Bukan itu masalahnya Kang, Hari ini ada temen kerjaku lagi apes…” Plenthy sambil bercerita pun mendesah, sambil menghisap rokok di tangannya.

Selanjutnya Plenthy bercerita panjang lebar menganai ikhwal kecapekan di tempat kerjaannya.
“Ceritanya hari kemarin itu temenku mendapatkan masalah yang sebenarnya bukan masalah. Ku bilang bukan masalah karena dirinya hanya menjalankan tugas sesuai SOP yaitu Standar Operasional Prosedur yang ada. Namun karena yang di layani adalah yang empunya sawah, jadi hal tersebut sudah tak pernah digubris lagi oleh yang punya sawah tersebut.  Ada sesuatu yang sepertinya tak sesuai maunya, akhire yang jadi korban adalah temenku itu. Yang empunya sawah bilang -Saya sudah tak mau ngliat dia lagi disini-  maka dari kata-kata yang diucapkan sang owner tersebut temenku itu tak bisa menahan emosinya. Mau ditonjok itu sang pemilik sawah. Kontan jadi ribut saat itu”

“Oh jadi gitu ta ceritanyaaaa….hemmmmmm….” Trimbil menyela omongan diantara cerita Plenthy tersebut ssambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Itu kejadian kemarin khan Thy, trus kenapa kok kamu keknya kelihatan keselnya malah hari ini…?” Beja bertanya pada Plenthy

“Yups, bener banget kejadian ini berlangsung kemarin Kang. Yang membuat hatiku capek dan kesel hari ini karena akumulasi dari kemarin itu. Kejadiannya berefek pada hari ini.  Tadi akhirnya temen ku itu dilaporkan kepada pihak yang (sok) berwajib menangani hukum. Dan diproseslah dia, suruh bikin kronologi, ditandatangani diatas kertas bermaterai. Tapi ujung-ujungnya ya tetep punishment a.k.a hukuman Kanggg…. Dibawalah dia ke kantor pengadil” Tak hentinya Plenthy menceritakan kejadian yang ia alami

“Lah terus berarti temenmu itu sekarang masih di kecrek dikujara kono pa Thy…?” Beja bertanya dengan semangatnya.

“Iya kang, dia masih disana. Sebenarnya saya dan teman-teman tadi sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi masih menemui hambatan. Malah yang lebih aku kagetkan, tadi mendapatkan telpon dari pihak yang berwajib itu dan kebetulan aku yang menerima. Kira-kira Manager anda bisa memutuskan enggak ya Mas, temenmu ini mau ditaruh di blog apa…?” Plenthy berhenti sesaat bercerita, diambilnya sebatang rokok lagi.

“Trus kelanjutannya sekarang gimana Thy…?” Trimbil pun makin simpati pada cerita Plenthy tersebut.

“Nah dari sini saya baru tahu kalo ternyata disana itu juga ada kelas kamarnya lho Kang, menurut berita yang kudapat dari telpon tadi, persis seperti kerjaanku di sawah angon kebo juga lho Kang….  Kalo yang standar isinya sepuluh orang ya bisa berkisar tigaratus sampai dengan limaratus ribu, sementara kalo mau yang empat sampai dengan enam orang dalam satu kamarnya ya dihargai satu sampai dengan satu setengah juta, dan naik-naik terus kelasnya sesuai pelayanan Kang… fyuuuhhhh….” Plenthy menghembuskan nafas disertai asap rokok ari mulutnya.

“Weladalahhh, blaik tenan ta jebule thy………” Trimbil menggeleng-gelengkan kepala…..

“We’e'e’e'e’e……. hemmmmm, duuuhhhhh  untunggggg waktu aku dulu kelaperan trus nyolong singkonge mBah Sastra itu nggak di ladek’ke ya Kang. Kalo kelakon di laporken pada pihak berwajib boro-boro aku bisa mbayar yang standar kamar PresidenSuite di komplek Pakunjaran itu. Lha wong yang kelas Standar rakyat wae tetep ra gableg dhuwit buat ngebayarnya jee……” Beja ngomong ngelantur menanggapi cerita Plenthy. [uth]



Berbagi adalah Peduli...