
- muatan ngipri prikitiw
Bangga serta memanjakan rasa seiring berjalannya kedewasaan saya membuat ingatan ini terngiang pada satu masa. Masa seumuran saya sewaktu memasuki bangku Sekolah Pertama, dimana mulai tertarik dengan teman sebaya yang berlainan jenis (baca: gender).
Susah sekali untuk bisa membedakan antara rasa suka dan hasrat cinta. Awalnya terlihat pada pandangan pertama, ada rasa suka disana, selanjutnya memberanikan diri sekedar tegur sapa. Dan keadaan ini berjalan berkawan cerita, hingga tiba saatnya tuk ungkapkan rasa cinta. Walaupun boleh dibilang hanya cinta monyet disana, namun saya yakin tiap pribadi yang sempet mengalaminya tak kan gampang tuk bisa terlupa.
Saya tak begitu paham kenapa musti dikatakan sebagai cinta monyet, adakah temen-temen bisa memberikan alasannya…?
Jawaban yang saya tahu sampai dengan saat ini berhubungan dengan hal tersebut yang dikatakan sebagai satu anekdot cinta monyet adalah hanya karena pelaku cinta masih berujud anak yang sedang bertumbuh proses menjadi dewasa, anak yang masih berstatus ingusan, anak abege istilah kerennya.
Maaf jawaban saya ini silahkan boleh disanggah karena pada dasarnya saya tak akan memaksakan temen-temen tercintaku semuanya tuk selalu berada pada pendapat yang sama. Sebagaimana temen-temen memiliki alur cerita lain dan plot dikisah yang tak serupa.
Kembali pada satu kejadian tentang rasa suka berlanjut cinta diatas. Hal yang berulangkali saya alami adalah rasa rindu tuk selalu bertemu, bahkan adakalanya karena tak selalu kesampaian kehendak bertemu tersebut saya juga selalu bercerita pada temen-temen dan sahabat deketku semua. Serasa ada hasrat membanggakan seseorang yang saya cinta pada saat titik kerinduan ini mencapai puncaknya. Pamer istilah tepatnya…
Pamer dan bangga akan kecantikannya, pamer dan bangga akan kepintarannya, pamer dan bangga akan kelihaiannya, serta masih banyak paparan positive yang bisa kita pamerkan pada orang disekitar kita. Itu semua saya lakukan karena dulu awal pertamanya ada rasa suka dan berlanjut dengan cinta. Bangga adalah muaranya…
Rasa yang dulu muncul dan berkembang semasa masih abege itu tak pernah berubah apalagi punah, masih saya miliki sampai dengan saat ini. Pasang surut dan ada kalanya tumbuh dan berkembang. Jika dulu mungkin cenderung dominan pada hasrat tuk menguasai dan atau memonopoli, semoga tuk saat ini saya lebih bisa menimbang dan tak larut dalam euforia diri tuk memiliki, sehingga layak tuk tak disebut sebagai perwujudan cinta monyet lagi.
Agak berbeda pada satu kondisi yang saya alami akhir-akhir ini dalam menikmati sebuah rangkaian rasa suka,cinta, dan bangga pada Ibu yang bernama “Pertiwi”.
Dimana sebagai manusia yang baru mampu melihat, membaca, dan mendengar berita, akhirnya sebaris puisi bertemakan suka dan cinta pada Ibu Pertiwi musti saya refisi kembali.
Rasa suka dan cinta saya itu seakan-akan telah ternoda akibat kotoran yang dihembuskan dari kendaraan yang dikemudikan oleh anak-anak Ibu Pertiwi itu sendiri. Mereka-mereka yang memegang kemudi sudah sangat lupa akan jati diri, sehingga silau dalam melihat arah yang dituju, terlalu nikmat menapaki jalan halusnya… padahal kebenaran yang ada jalan halus tersebut dibangun atas biaya lunak yang di sebut bantuan, sementara kenyataan biaya lunak itu tak jauh dari dana keras berujud utang, harus mengembalikan disertai nilai jasa dan biaya administrasinya.
Mungkin hal ini sudah berlangsung lama dan membudidaya, hanya saya saja yang kurang tanggap dalam hal mengetahuinya. Dan sebenarnya bersamaan waktu tersebut pun saya masih bisa menikmati rasa suka dan cinta menumpangi bahteranya.
Namun kali ini lain sekali rasa dijiwa tersebut, setelah semua anak Ibu Pertiwi yang memegang kemudi itu melanggar rambu. Terkoyak dan tersibaklah semuanya. Meski mereka-mereka yang melanggar ini telah di-tilang, namun ternyata hal ini benar-benar membuat jarum pengukur rasa suka dan cinta saya pada Ibu Pertiwi yang telah mendekati sebuah titik rasa bangga tercampakkan lagi. Bahkan mampu mengurangi rasa cinta dan suka itu sendiri.
Kalau waktu dulu (dan belum lama ini) rasa suka serta cinta tersebut sempet mendekati titik bangga tak lain adalah karena Sipadan-Ligitan, batik, tari Pendhet, Reog Ponorogo, Jamu, Masakan Padang dan hal lainnya yang notabene asli milik Ibu Pertiwi hendak diakui tetangga. Akan ita bela sampai mati, Itu benar adanya. Karena memang ada hal yang sungguh pantas kita banggakan.
Tetapi sungguh berribu sayang kali ini…. semua ini berubah arah seratus delapan puluh derajat setelah bertumpuknya berbagai muatan didalam kendaraanmu itu Ibu Pertiwi.
Muatan-muatan itu hanya bagus dikemasannya, namun busuk didalamnya. Muatan Century, muatan markus, muatan korupsi, muatan UUITE dengan LunaMaya-nya, Muatan surat berita dari seorang Susno dengan isi kabar Es Krim nya. Juga warisan rumah yang masih berujud gubuk bernama “Pondok Bambu” berpenghuni para mafia hukum. Belum lagi jeratan gurita, dan tentu saya yakin masih banyak hal yang lainnya, karena ternyata yang (sok) mengaku-aku wakil rakyat pun tak ubahnya se’ekor bangsat!
Ahhhhh…..
Semoga ini tak dianggap sebagai tulisan yang mendzolimi, yang keji nan munkar, apalagi Fitnah…. Karena saya berani jujur kalau saat ini rasa suka dan cinta itu telah mulai menipis dari nurani. Dan semakin menjauh rasa bangga itu padamu Ibu Pertiwi….! Sama sekali bukan karena tanaman teteangga lebih hijau dibandingkan milik sendiri.
Maafkan saya jika saat ini saya tak bisa berbuat lebih, baru bisa berharap semoga rasa-rasa itu tak semakin hilang dari dalam diri, apalagi menyebut Tempat Ibu ini dengan Ngipri Prikitiw, sebagai ganti dari Negeri Pertiwi. [uth]
Bangga
Berbagi adalah Peduli...




























