
- ilustrasi: Love in peace (photobucket)
Tak bisa berkomentar apa-apa saat sore tadi saya melihat sebuah berita yang ditayangkan oleh media Televisi swasta, isinya adalah mengenai sebuah “Fatwa Haram” yang ditujukan untuk temen-temen kaum hawa. Selain mengenai rambut yang dicat dan diluruskan disana juga tersebut sebuah profesi “Tukang Ojek (wanita)”
Banyak opini dalam menyikapi hal tersebut, banyak yang mengamini namun tak sedikit yang tak sependapat.
Tak bisa saya mengerti dari mana (secara pribadi) saya harus bersikap dan berpikir. Tak ada maksud atau tujuan untuk mengadakan satu pembelaan apalagi perlawanan, namun saya hanya menggunakan satu sudut pandang yang mungkin temen-temen tercintaku semuanya boleh bilang “sempit”.
Satu hal yang terakhir saja yaitu mengenai “tukang ojek” yang dalam berita tadi dikatakan “tukang ojek wanita lebih cenderung sebagai penggoda”. Sungguh sangat berlawanan sekali pernyataan itu pada kehidupan yang saya alami. Saya melihat perempuan tua, yaitu tak lain adalah ibu saya. Beliau bener-bener tak merasakan malu mengerjakan apa-apa yang disangkakan sebagai pekerjaan seorang pria, karena keadaannya memanglah menuntut harus demikian adanya. Prinsip hidup yang diterapkan tak lain adalah apapun bakal dikerjakannya asalkan halal karena tak merugikan orang lain. Sama sekali tak bertujuan menggoda…..! Semua beliau kejakan demi satu harapan tentang masa depan anak-anaknya.
Sampai-sampai dari sini saya juga ingat bener satu perkataan beliau, “masa depanku adalah anak-anakku, sama sekali bukan aku!”
Kembali lagi pada satu pekerjaan yang dilakukan oleh wanita sebagai tukang ojek diatas. Dengan mengeluarkan berbagai dalih seakan-akan terjadi banyak pembenaran disana dengan satu alasan bahwa ada satu kecenderungan sebagai “penggoda” pada profesi tersebut. Achhhh…… Akankah apabila ini memang bener-bener difatwakan nantinya juga bakalan menjalar pada profesi lain, seperti kuli gendhong di pasar BeringHarjo misalnya..?
Sungguh kalau saya boleh bercerita sangat tak ada habisnya menghitung jasa perempuan (sebagai contoh seorang Ibu) pada kehidupan kita semua. Memang ada baiknya kita berpikir jernih agar jangan terlalu menyalahkan semuanya (termasuk yang membikin fatwa tersebut), apapun alasannya musti juga kita pertimbangkan. Lebih dari itu sikap mawas diri mungkin yang musti kita terapkan disini.
Adanya kita manusia ini tak lain karena juga keberadaan seorang wanita. Its humanity.
Untuk itu sudah sepantasnya kita pun wajib menghargai keberadaannya.
Dari perbedaan yang ada mungkin wajib diciptakan nilai kebersamaan sebagai solusinya, bukan malah sebaliknya saling menonjolkan alibinya yang tak lain adalah penunjukan satu bentuk egoisme-diri.
Hendaknya jangan terlalu menutup mata, musti belajar dari budaya lain yang bisa kita ambil maknanya. Kita selaraskan dengan budaya kita sendiri.
Mengambil satu contoh yang dituliskan oleh mbakyu ThereNovita di FB-Note-nya yang saya repost di kamar review tentang bersulangnya.
- “buat saya, bersulang mempunyai sebuah kedalaman arti,
- seperti halnya kita mengangkat cawan/gelas untuk kehidupan,
- untuk menegaskan kehidupan kita bersama dan merayakannya sebagai sebuah BERKAT dari TUHAN
- ketika masing-masing dari kita dapat memegang teguh cawan/gelas kita sendiri, dengan banyak kesedihan dan sukacita didalamnya, itu berati kita juga mengangkatnya bagi orang lain untuk melihat, sekaligus mendorong mereka untuk berani mengangkat hidup mereka sendiri”
Terlepas dari satu “gender”, selama masih menghirup udara dunia ini saya yaqin apabila kita pun masih butuh satu hal demi kelancaran kehidupan, kebutuhan makan salah satunya. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut diharuskan kita untuk selalu berusaha. Bekerja…
Dari kebiasaan bersulangnya orang barat mungkin dapat kita equal-kan pada budaya kita yang sayuk rukun bebarengan. Karena kelanjutannya dari pernyataan itu adalah pada satu dogma tentang “Crah agawe bubrah – Rukun agawe santosa”. Bahwa Perpecahan (permusuhan) itu bakalan menjadikan kita semua ini bubrah/rusak, sementara Kerukunan tentu bakal menuju satu kesentausaan. Disini tertanam satu nilai kebersamaan diantara kita tanpa mengagungkan satu kepentingan. Tanpa menonjolkan satu perbedaan, termasuk gender. Karena kalau sudah saling menyadari dari sana saya juga yakinpada hasil bahwa semua pada dasarnya akan bersikap “tahu-diri” mana yang menjadi hak dan mana yang menjadi kewajiban.
Jika memang kuat menjinjing ya dijinjing bareng, begitu juga apabila butuh temen guna membantu memikul bakalan juga dipikul bersama sama, hakekat Ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul pun sudah otomatis bisa diterjemahkan secara nyata disini.
Dalam kebersamaan seperti tercantum diatas saya yakin tak meninggalkan rasa kasih disana. Dalam kerukunan saya percaya getar jiwa cinta terrangkai mengalun dan mengalirinya.
Jadi marilah kita condong tuk menunjukkan satu kesamaan dalam keberanekaragaman ini, sudah sedari sananya kita berbeda. Saya dan anda teman-teman tercintaku semuanya , dan manusia kembarpun juga bakalan terdapat banyak hal yang berbeda, itulah khasanahNYA.
Beda pendapat, wajar…. titik temu dalam cinta-kasih sungguh sangat mulia jika kita taruh diatas itu semua. [uth]
________________________________________________________________________________________
Jauhkanlah diri kamu dari buruk sangka karena buruk sangka itu sedusta-dustanya omongan (hati). Janganlah kamu mencari-cari isu , memata-matai, bersaing (tak sehat), Janganlah saling mendengki serta membeci. Jadilah kamu wahai Hamba-hamba Allah orang-orang yang bersaudara (bagi Muslim yang lain). Taqwa itu tempatnya adalah didada sini. [HR. Bukhari dari Abu Hurairah]
____________________________________________________________________________________________
Ilustrasi:Photobucket


















