Sabar bukan anti vokal

Sabar bukan anti vokal

mengalir
mengalir

Tak bisa dipungkiri apabila kita menggunakan sudut pandang pada satu ilmu hitung, bumi kita ini bisa dikatakan telah berumur tua. Secara usia Tuhan telah menciptakan bumi ini berabad-abad tahun yang lalu, dengan komposisi yang kurang lebih tujuhpuluh persennya berujud perairan, sementara daratan yang sebagiannya kita tempati ini hanyalah sisa tigapuluh persennya. Meskipun termasuk fana, menurut ilmu alam yang sama-sama kita ketahui menunjukkan bahwa bumi inipun mengalami gerakan yang disebut rotasi dan revolusi. Dari sini kita memperoleh sebuah kajian tentang ilmu gerak.

Berpikir tentang ilmu gerak, saya teringat kejadian tentang gempa Haiti beberapa hari yang lalu. Sungguh sangat jauh dari perkiraan dan dugaan banyak orang apabila gempa bumi tersebut bakalan menimpa saudara-saudara kita warga Haiti sana, karena bukankah belakangan ini yang masih menjadi pusat perhatian serta kajian gempa adalah sebagian besar wilayah Asia (Tenggara) ini?

Dengan kejadian gempa tersebut dapat kita lihat dari berbagai macam sudut pandang, sebagai satu bentuk ujian atau cobaan, dapat pula dinilai sebagai peringatan atau seruan. Dan mungkin banyak dari temen-temen menyebut kesatuan dari itu semuanya adalah sebagai musibah.

Seperti yang pernah beberapa kali saya baca, ada yang menyatakan bahwa timbulnya musibah hanya akan diturunkan bagi mereka yang banyak berbuat dosa dan maksiat. Maka secara pribadi saya tak sependapat dengan pernyataan itu. Apabila memang demikian adanya namun kenyataannya mengapa mesti Aceh? kenapa harus Jogja?, Apa alasannya kok malah Padang…? Kenapa bukan Jakarta yang notabene tempatnya para pejabat ini koruptor..? Maaf, ini baru satu sisi koruptor saja yang saya paparkan, selanjutnya semoga temen-temen bisa mencari alasan lainnya.  Begitu pula keadaannya di Benua Amrik sana, kenapa harus Haiti kok bukan Las Vegas misalnya…? Maaf karena saya tidak pintar dalam soal memaparkan sebuah dalil, satu saja yang semoga bisa sama-sama dapat kita mengerti hakekat maknanya.

Ujian itu akan selalu menimpa laki-laki maupun perempuan (mukmin), baik yang berkaitan dengan dirinya, anak-anaknya, dan hartanya, sampai ia berjumpa dengan TuhanNYA (Allah), dan ia tak lagi memiliki kesalahan. (HR Al Turmudzi).

Masih berhubungan dengan musibah ini, secara alam mungkin kita sudah agak bisa bernafas setelah kejadian gempa di Padang tahun lalu, hanya saja semoga kita yang bermukim di daerah langganan banjir sebagai contoh seputaran Jakarta tetep bisa waspada dan selalu dalam kondisi siap sedia karena musim banjir sebentar lagi bakalan menjumpai kita. (Banjir kok disebut musim ya, aneh)

Agak beralih arah, selain hal tersebut kalau ditelaah sebenarnya belakangan ini sudah berulangkali kita juga dilanda musibah demi musibah. Ada musibah century yang ternyata melibatkan banyak manusia berbuat dosa terhadap rakyatnya, dilanjutkan peperangan cicak melawan buaya, juga dihiasi aksi Luna Maya dalam menyikapi (kalau boleh saya bilang) sebuah prahara, dan masih banyak lagi musibah yang sebenarnya sangat merugikan bukan saja dalam bentuk material, lebih dari itu adalah moral orang-orang pintar yang benar-benar sudah rusak. Bahkan anggota parlemen yang katanya berfungsi sebagai wakilnya rakyat, dewan yang terhormat! ternyata mereka tak ubahnya seperti yang dikatakannya sendiri, “seekor bangsat”.

Maafkan saya temen-temen, bukan berarti dengan ini saya menaruh benci, saya sangat menghargai temen-temenku semua dalam mengemukakan pendapat yang tak serupa. Demokrasi tetap saya junjung tinggi, democrazy is not insist. Saya hanya berharap semoga kita semua (yang masih merasa) sebagai rakyat kecil ini tetap bisa memposisikan diri sebagai rakyat kecil yang tak lupa asal. Artinya kita masih harus tetep bisa ndadha (mawas diri), siapa sih kita ini, hanya makhluk yang begitu kecil dihadapanNYA!

Carut marutnya keadaan tak mengganggu mengalunnya sebuah lantunan lagu berjudul “puji syukur dan rasa sabar”, karena tak ada guna berduka, tak akan berubah dengan uring-uringan, yang terbaik adalah tetap berusaha meraih kembali hati yang tunduk kepadaNYA.

Hati yang sabar wajib tertanam dalam hati karena dengan ini kita pun tak gampang terpropokasi. Dengan sabar ini bukan berarti kita berdiam diri meski hak kita terrampas, namun lain dari itu bersabar adalah menekur diri dihadapan Illahi tanpa mengendurkan semangat melawan ketidakadilan, bisa meneruskan sifat kritis dan vokal dalam kerangka menegakkan kebenarannya. Bukan mencari pembenaran demi satu kemenangan, mencari kelemahan orang lain demi keselamatan diri, bukan… sama sekali bukan…!



Ngupadi urip iku kudu angutamakake rasa sabar, amarga sabar iku jembar segarane.

Menjalani hidup ini sudah seharusnya mengutamakan kesabaran, sebab dengan sabar bakalan luas samuderanya. Bukankah samudera adalah muara tempat ditampungnya air dari beberapa kali atau sungai, dan air itu bisa saja berasal dari sungai-sungai kita semua, sungai saya dan sungai temen-temen tercintaku semuanya. [uth]

_____________________________________________________________________________________________________________
Gambar ilustrasi diambil dari Mbah google, tapi maaf lupa suber tautannya. Journal ini tertulis akibat melihat suara sumbang atas terjadinya erupsi Merapi.  Sabar



Berbagi adalah Peduli...