memainkan bola hidup [salah sèlèh]

ilustrasi: Lionel Messi (kaskus)

ilustrasi: Lionel Messi (kaskus)

Ketika kita melihat kelakuan yang sempet dipertontonkan oléh saudara-saudara kita arèk-arèk Surabaya yang keléwat ngefans dengan klub sépakbola kesayangannya, sungguh sangat miris sekaligus marah menanggapinya. Sangat tidak manusiawi mereka merusah tatanan yang sudah ada, sungguh téga mereka ini menjarah saudara-saudara kita tukang jualan asongan disepanjang stasiun beberapa kota. Yang kebenarannya meréka ini juga adalah orang tak punya

Buntut dari itu semua, sikap dendam ingin membalas terhadap apa yang pernah diperbuat para bonèk a.k.a bondho nékad itu telah dipersiapkan pihak-pihak yang kemarin dirugikannya. Secara spontan saya hanya tertawa kecut  melihat pertunjukan yang telah ditayangkan melalui beberapa mas média.

Saya tak bisa menyalahkan pihak yang menaruh dendam, walaupun saya juga tak mau membenarkan perbuatannya.  Begitu juga saya tak akan menelan mentah-mentah dalam men-judge bahwa tindakan para bonèk-mania itu adalah murni 100% kekhilafan meréka.

Mungkin apabila kita bertemu dengan segelintir dari arèk Surabaya yang notabène adalah juga mèmber dari bonèk, kita akan menemui hal yang sama tatkala bertemu dengan temen lain yang bukan arèk Surabaya. Hanya saja dalam kontèk wacana dan pola-pikir psikologi massa, sebagai bagian dari kumnpulan orang banyak (massa) maka kita manusia ini akan mengalami satu bentuk penambahan kekuatan yang sungguh sangat luar biasa, yang itu semua sulit sekali bisa terkalahkan. Bukankah ini juga yang secara tanpa kita sadari dulu telah terdefinisikan pada masa perjuangan melawan ketidakadilan olèh pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda…? Sampai-sampai pihak Belanda pada waktu itu pun menggunakan politik adu-domba guna memecah konsèntrasi kebersatuan massa tersebut.

mbok ya sing sabar ta Léééé…..
pikiré kuwi kudu di gelar lan digulung, yèn pancèn salah ya kudu sèlèh, sing sarèh lan sumèleh mesthi bakal nemoni pekolèh!

Saya tuliskan beberapa kalimat yang dulu sempet saya dapat sebagai bahan ajaran dan wejangan orang tua terdahulu. Selanjutnya mari kita kembali lagi pada satu bentuk penyikapan setelah melihat perbuatan yang (menurut kita) merugikan orang lain tadi.

Dalam menyikapi case tersebut alangkah baiknya apabila kita kondisikan pada diri sendiri saja dulu.
Tatkala kita diperlakukan tidak adil oleh orang lain, dizalimi ataupun disakiti tentu manusiawi apabila merasa sakit hati, sunatullah……

Namun pada dasarnya kita pun musti tetep menjaga sikap dan sifat sabar, selanjutnya musti  berpikir ulang, kita gelar dan kita gulung kembali bahwa kebenarannya sungguh tak sepantasnya apabila kondisi menuruti hawa émosi ini dipertahankan. Saya rasa pengedepanan “nilai cinta-kasih” juga sudah dianjurkan dalam ajaran agama manapun, dan sebagai bangsa yang berbudi luhur saya juga yaqin hakékat ini elah tertanam semenjak dari sononya.

Tak salah apabila kita telisik dari pangkalnya dulu, darimana sih ujung kejadian yang diperankan oléh para bonèk ini berasal…? Hendaknya kita tak hanya berhenti pada pandangan perilaku para bonèk itu saja. Réalita yang berkembang déwasa ini sesungguhnya sudah seringkali kita jumpai, hanya saja skalanya tak sebesar pertunjukan yang diperankan olèh para bonèk. Acapkali kita lihat penodongan dan pembunuhan yang sudah tak melihat lagi obyèk yang ditodong itu berkondisi seperti apa, mau miskin mau kaya, atau mau sederhana semuanya asal terlihat ada hal yang bisa dirampas dan memberi nilai untung bagi sang pelaku penodongan maka bakalan dilakukannya. Dia sudah tak ada lagi otak untuk berpikir bahwa, oh iya ya yang aku bunuh ini hanya sekedar sopir, oh iya ya yang aku perkosa ini hanya seorang pembantu rumah tangga…..

Latar belakang kemiskinan, pengangguran, dan krisis moral semoga bisa kita jadikan contoh dalam memberikan alasan dari terjadinya tindak nista tersebut. Disini kita dituntut untuk berpikir dalam berbenah diri….

Melihat fénoména yang ada, coba sekedar berbagi bahwa kebenarannya apapun yang terjadi dalam kehidupan ini, tak dapat dipungkiri semua hal sudah terCipta dan digariskan pada pengkodisian teramat baik dari Kehendak Allah Aza Wajala, maka dalam perkembangan kehidupan manusia ini antara baik dan buruk yang timbul dalam kondisinya merupakan hal mutlak yang menjadi buah pikiran diri kita sendiri, termasuk perbuatan buruk pihak lain yang menimpa kepada kita.

Dari pemahaman semacam ini sesungguhnya sudah sangat pantas apabila kita pun mesti bersyukur dan selalu ber-positivé thinking, apabila Tuhan telah menurunkan keburukan pada hidup kita semoga kita pun menyikapinya bukan berujud buruk sangka, kita wajib mengakui satu kesalahan yang sudah kita perbuat, sehingga konsekuènsinya ya musti menanggalkan kesalahan tersebut (yèn salah kudu sèlèh),  karena bisa jadi hal itu adalah satu bentuk ujian kehidupan yang wajib kita jalani….. Bukankah hal ini tetep berlaku baik adanya dalam pengkodisian hidup kita…?

Menurut pemikiran yang pernah saya dapat dari suwargi simbah (alm. Nenek) menyangkut  pemahaman pada satu kesatuan kalimat yang saya paparkan diatas bahwa,

  • Sabar, adalah sebentuk kekuatan dalam menahan diri dari luapan emosi dan pencegahan atas pelampiasan hawanafsu
  • Digelar lan digulung, menganjurkan pada sistém managemen otak agar kita ini mampu mengatur secara jangka panjang dan tak hanya tersesat pada pola pikir sesaat. (Long Term Managment).   Semua musti ditampung dulu dan perlu diolah.
  • Yèn salah ya kudu sèlèh, adalah menempatkan sudut pandang pada diri sendiri (mawas-diri). Kita netralisir emosi kita, memahami permasalahan yang ada, dan selanjutnya bisa mengerti bahwa kesejatiannya setiap pribadi ini berkeinginan untuk meraih kebaikan hidup. Namun tak dapat dipungkiri pada kenyataannya kebanyakan dari kita (terutama saya) masih terlalu mengedepankan ego. Kesadaran tentang salah dan sèlèh inilah tepat sekali kita letakkan disini, sadar-diri…
  • Sing sarèh lan sumèlèh, artinya mesti berawal secara pelan namun teliti dari niat diri dalam memulai pikiran jernih guna mencapai akal séhat. Menerima dengan lapang dada dan meletakkan satu porsi persoalan pada tempat yang tepat.
  • Bakal nemoni pekolèh, setelah pola pikir dititikberatkan pada nilai kesabaran serta diolah gelar dan gulung. Maka secara otomatis bentuk kritik dan saran dari orang lain juga bakalan diterima, dan kekeliruannya pun bakal ditanggalkan. Selanjutnya mampu memulai berpikir logis dan bisa menempatkan diri sesuai kondisi serta kemampuan yang dimiliki. Sebagai last-sumarykenyamanan karena sudah tak ada yang merasa tersakiti dan dendam pada diri. adalah

Mencermati keadaan yang ada dan kita selaraskan pada satu bentuk pemikiran sebagai dasarnya, semoga kita semua (terutama diri saya) lebih dapat  mengutamakan rasa Ikhlas dalam memainkan bola kehidupan ini, apapun rintangannya… Lebih bisa menumbuhkembangkan pemahaman iman bahwa segala sesuatu adalah datangnya dari Tuhan karena hakékat kesejatian kita sebagai manusia ini hanya sebatas berusaha , Tuhanlah Sang Penentu. (Man Purpose God Dispose). [uth]

Ilustrasi: Lionel Messi