milah-milih, ngalah-ngalih (manajemen hati )

milah-milih, ngalah-ngalih (manajemen hati )

ilustrasi: ngalah-ngalih

ilustrasi: ngalah-ngalih

Menyikapi hidup mémang tak segampang membalikkan telapak tangan, tak cukup mudah tuk selalu bisa menghadapi segala keadaan yang ditimpakan atas kita. Namun alangkah tidak baiknya apabila hal itu pun kita jadikan alasan sebagai halangan menuju pendéwasaan diri.
Karena itu  seyogyanya aktivitas berpikir tak hanya melulu dilakukan olèh otak, namun sepantasnyalah kita wajib memberikan porsi pada peranan hati dalam mengendalikan alam pikir ini.

Berpikir terlalu mumet namun apabila waktu belum dikehendakiNYA untuk kita bisa résolve a problem maka kemungkinannya masih sangat kecil bagi kita untuk bisa menyelesaikan peliknya keadaan yang sedang dihadapi.
Jadi, mungkin berpikir dengan tidak tergesa-gesa dan diiringi suara hati adalah bagian teramat penting dalam menyikapi hidup dan kehidupan ini.
Tidak tergesa-gesa disini bukan berarti kita lambat dalam bergerak, namun tepat guna adalah langkah terbaik kita. Suara hati adalah juga merupakan suara qalbu yang tak bakalan bisa bohong, maka sangat tepat apabila bisa mengiringi langkah pikir diatas. Dan alangkah baiknya apabila didukung dengan keyakinan bahwa Tuhan tak bakalan memberikan satu beban kepada Umat yang tak mampu mengangkatnya.

Belakangan ini telah bersama-sama kita lihat satu sandiwara di beberapa mas média baik itu cétak maupun èlèktronik. Sebagai satu contoh adalah sandiwara Pansus yang diperankan oleh Meréka Yang Terhormat para anggota Déwan bangsat Rakyat. Saya sangat prihatin begitu melihat cara kerja meréka, adu argumèn sungguh sangat menjadi satu senjata yang diagung-agungkan, soal kebenaran, eitsss, nanti dulu….. yang lebih utama adalah pembenaran disertai bukti dan diperkuat dalil.

Sungguh beginikah potrèt keadaan Negeri ini yang katanya ramah-tamah dan penuh rasa tenggang-rasa..?
Atau mémang karena kita sebagai negeri yang memiliki sifat itu maka syah-syah saja jikalau para èlit ini beradu argument? karena tujuan nantinya bakalan terjadi pemaafan.
Hemmmm, Negeri ini ternyata sebuah Negeri yang kerap kali melaksanakan Lebaran. Bisa memudahkan pengeluaran argument tanpa berpikir panjang tentang siapa yang bakalan tersakiti, akan tetapi lebih ber-oriéntasi pada satu kemudahan bentuk pemaafan. Jadi kalo sudah minta maaf maka persoalan yang sebenarnya pun mohon dilupakan. Termasuk melupakan merka yang hidupnya serba kekurangan…

Achhh, terlalu jauh ku berpikir. Maafkanku temen-temen……

  • bisoa sira milah lan milih, kapan kudu ngalah lan kapan kudu ngalih*
Sebenarnya disini saya hanya mau melihat dari sisi pandang tentang sebuah keadaan yang wajib kita hadapi. Merunut satu cara yang pernah dikerjakan oleh para orang tua terdahulu, menyangkut pengaturan pola pikir guna menghadapi hidup maka sudah semestinya yang kita gunakan adalah keseimbangan antara akal dan hati. Tak bisa kita terapkan nafsu kesombongan dan angkara murka, bukankah apabila memang  kenyataannya begitu justru itu malah menunjukkan dominannya sifat egoisme dalam tubuh kita.

Manusiawi apabila kita sebagai manusia ini masih banyak nafsu, untuk itulah diciptakannya satu tatanan keadaan. Dari sini kita bisa menentukan pilihan mana yang baik dan mana yang buruk, terutama bagi diri kita. Apa untungnya buat perkembangan hidup kita…. Maka dituntutlah kita untuk selalu mampu milah lan milih.

Setelah menemukan satu pilihan yang tak membohongi hati, yang artinya juga jujur pada suara qalbu, maka sikap yang wajib dilaksanakan apabila mémang dikondisikan pada satu sikap ya lebih baik mengambil sikap ngalah. Saya rasa bukan hal yang memalukan apabila kita mengambil sikap tersebut, sudah sewajibnya pula sifat itu kita terapkan dalam life-managment ini.  Karena  Ngalah disini bukan berarti kalah, dan sama sekali bukan satu sikap menyerah. Namun ngalah disini lebih cenderung pada perlakuan diri pada pengedalian émosi. Tak hanya mementingkan égo-diri, namun sebaliknya mampu berpikir jernih dan bisa berbesar hati. Setelah kecenderungan sikap ngalah terlaksana semoga kita pun bisa berbuat ngalih (berpindah), karena dengan ngalih dan menepi dari keramaian, disini terdia kesempatan lebih besar untuk dapat kita temukan kesejatian diri, “siapa sih aku ini…?

Berharap kita semua (terutama diri saya) terus dan tetep mampu belajar dalam mengkondisikan diri pada keadaan milah-milih dan ngalah-ngalih seperti tersebuit diatas sebagai satu pola dalam manajemen hati. Walaupun soal prinsip tetap kokoh dan tak dapat diganggu gugat namun yang kita kehendaki adalah tak mudah terpropokasinya diri kita ini pada satu kondisi. [uth]