
Ilustrasi: Laba-laba (www.gurungeblog.wordpress.com)
Laba-laba adalah simbul berguna. Ia menciptakan jejaring melalui tubuhnya. Sama dengan Pencipta yang mencipta melalui salah satu bagian diriNYA. Dan sebagaimana laba-laba, ketika semuanya tercipta, semua ciptaanNYA terhubung dalam sebuah jejaring. Daun kering yang tersapu, begitu tertanam ketanah bakalan menjadi pupuk yang mempersubur tanaman, selanjutnya bakalan berbuah yang buahnya juga demi kelangsungan hidup manusia. Dengan begitu maka dapat dikatakan bahwa akan datang sebuah waktu, apa yang dibuang dan disapu dihari ini bakal menjadi bahan bergizi bagi kehidupan selanjutnya. Bukankah dengan bingkai kejernihan ini, kemudian lukisan kehidupan berumur lebih abadi. (I Gde Prama).
Sebuah kalimat yang saya kutip dari karyanya I Gde Prama. Menggambarkan satu kebesaran akan sebuah kuasaNYA yang acap kali terlupakan demi kesibukan akan duniawi ini.
Mungkin membutuhkan sejenak waktu tuk hening dalam kejernihan berpikir dengan otak dan berolah rasa dalam hati guna mengingat kembali realita hidup yang saya hadapi dan jalani ini, bahwa kesemuanya juga tak bisa lepas dari kebesaran tangan Illahi.
Ada sebuah Metafora Paradogs tentang “sunyi dalam keramaian” yang saya nilai ini adalah sebuah karya (sok) ilmiah, karena pada kenyataannya hal tersebut sudah sejak dahulu kala dilaksanakan oleh para tetua (pini-sepuh) dalam wujud perlakuan “Tapa Ngrame” yaitu bertapa/berpuasa dalam keramaian, laku prihatin agak berbeda dari kebiasaan orang bertapa/bersemadi yang biasanya dilakukan di tempat sepi.
Sedikit tambahan pengetahuan buat temen-temen tercintaku semuanya (juga saya) bahwa dalam tradisi laku prihatinnya orang Jawa, Puasa itu ada berbagai macam diantaranya adalah Pasa Senin-Kamis, Pasa mbisu, Pasa mutih dan lain sebagainya. Sementara Tapa/Pasa Ngrame biasanya dilaksanakan bukan dalam posisi bertapa, namun justru sang pelaku selalu mendatangi tempat-tempat keramaian orang berkegiatan, dan biasanya selalu menawarkan bantuan terutama berujud bantuan tenaga (kerja) dengan tanpa mengharapkan satu imbalan. Hanya keinginan membersihkan hati dan menciptakan satu keikhlasan yang menjadi tujuan disana.
Mohon maaf sebelumnya saya tak akan menanggapi apabila nantinya ada satu pernyataan dan pertanyaan yang berhubungan dengan puasa itu menyangkut musyrik atau tidaknya, haram atau halalnya. Silahkan beropini, inilah demokrasi, temen-temen bisa mengeluarkan pendapat, namun yang saya harap pendapat tersebut tak bersifat memaksakan kehendak.
Hiruk pikuk dan keramaian dalam dunia ini sudah tak dapat kita hindari. mungkin kalau boleh saya katakan itu adalah sebagian dari yang ditakdirkan olehNYA.
Mencoba mempersempit sudut pandangnya pada satu sisi profesi, mungkin dapat saya contohkan bahwa kita hidup ini juga tak jauh dari seorang pelukis. Tatkala seorang pelukis merangkai hasil karyanya dengan menggunakan alat berujud kuas, kain kanvas, dan atau cat warna, maka apabila kita diibaratkan sebagai seorang pelukis sarana yang kita pakai bakalan menggunakan apa saja yang tersedia pada diri ini. Pikiran, kata-kata, tindakan, kenangan, dan bahkan satu sifat takut adalah sarana kita manusia ini dalam melukis kehidupan ini.
Sungguh sangat jarang sekali saya sadari bahwa dalam kegiatan melukis kehidupan tersebut seharusnya tetap bisa memaknainya sebagai perwujudan “tapa ngrame“, tetep eling dan selalu meluangkan waktu dalam kejernihan guna selalu hening dalam mengingatnya.
Karena diyakini atau tidak ternyata tetap saja dengan keheningan tersebut kita dapat melihat, merasakan, dan menyadari hal lain diluar rutinitas keseharian ini.
Dalam keheningan itu akan kita lihat kebesaran kasih tangan Tuhan yang bakalan mewarnai lukisan hidup ini dengan berbagai warna. Ya.. sebuah warna kasih-sayang sebagai pemberian yang berkah dariNYA, berujud Rejeki yang selama ini kita nikmati. Disini tangan kasih Tuhan tak pernah pandang bulu, tak pernah membedakan mana yang warna hijau, mana yang warna merah, atau mana yang warna kelabu. Tanpa terkecuali semua diberikannya uluran tangan kasih berujud rejeki.
Dengan didisplay nya kita dalam bingkai kejernihan diatas, semoga kita semua bisa menyadari guna meneruskan uluran tangan kasih Tuhan itu tanpa menterjemahkan dalam satu pengkotakan, satu keyakinan, ataupun satu golongan, bukankah kasih adalah juga bagian dari Rohmatan Lil ‘Alamin, pembawa Rohmat bagi alam semesta (tanpa terkecuali). Tak ada kata haram khan disana…?
Demikian juga dalam keramaian ini, berharap makna “Pasa ngrame” tetep mampu kita terjemahkan dalam meniti waktu yang tak terasa hari telah berganti, bulanpun tetap bergulir, dan pada akhirnya kesemuanya itu juga telah mengantar kita pada satu masa akhir tahun guna menuju tahun yang baru. [uth]
Buat temen-temenku semuanya, salam kasih dariku…!
Have a Nice Valentine for you…
Gong Xi Fa Cai to my friends who celebrate it.


















