
in the geng (prihatinkita.wordpress.com)
Sedari kecil tiap tahun aku memang selalu bertemu dengan sepupu jauhku,Nanang. Namun pertemuan itu hanyalah sebatas liburan sekolah saja, itu juga tak sepenuhnya. Betapa senang dan bahagianya hatiku saat mendengar kabar bahwa mereka sekeluarga akan kembali untuk menetap dikampung tercinta ini. Meski berujud kampung namun keputusan dari orang tua Nanang yang telah berpindah-pindah tempat dan daerah demi menjalankan tugas kerja telah bulat. Mereka sekeluarga lebih memilih damai dikampung ini. Terakhir kali mereka tinggal di Pulau Bali dan juga Pulau Lombok.
Awalnya sok alim kepribadian yang ditunjukkannya. Menyapa akrab kami sekumpulan anak kampung yang masih sangat udik. Kami senang dengan kedatangannya berbaur bersama kami. Apalagi disaat kami masih gagap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan, hanya dia anak seumuran kami yang telah mampu dan lancar berbicara dengan memakai Bahasa Inggris. Ditambah lagi dia juga mahir dalam bernyanyi sambil diiringi petikan dawai gitarnya.
Dengan banyaknya kelebihan yang dimilikinya itu sudah barang tentu kami banyak belajar dari dia, meski kita juga tahu kalau dikampung baru kali ini melihat anak seumuran dengan kami sudah mengkonsumsi Rokok.
Akhirnya boleh dibilang saat itu kampung kami sudah lebih maju sedikit secara budaya permusikan modern, walau sebenarnya harus dikatakan mundur jika dilihat dari budaya leluhur kami. Karena yang kami terima dan tahu selama ini hanyalah musik karawitan atau gamelan. Alat-alat musik yang anak-anak kampung lain baru mulai bisa melihat, kami bisa mainkan bahkan lebih dari itu kami telah membentuk satu group band ala kampung.
***
Sebagai akibat sok merasa canggih dan modern ditopang oleh keadaan ekonomi yang mendukung, banyak diantara kami yang selalu berusaha untuk mencoba segala sesuatunya. Dan anehnya mereka semua nggak canggung juga mengajak aku untuk bergabung meski mereka semua tahu diantara teman-temanku semua yang paling nggak punya secara keuangan adalah aku. Dari sini akhirnya aku bersama Nanang, sepupu jauhku itu, selalu menjadi pasangan dalam mencari dan memburu teman.
Pergaulan memang sangat berpengaruh terhadap kepribadian kita. Dibuktikan oleh keadaanku saat itu, ajaran budi luhur dari orang tua dan didikan guru agama yang telah diceramahkan kepadaku, terlupakan sudah…..
Tercampakkanlah saat itu kepada kenikmatan sesaat dunia fana ini…..
Terjerumuskanlah aku pada tindak nista, Mabuk….. Gemar berantem….. Sering bikin onar….. Keluar masuk menjadi anak Genk yang pekerjaan nya cuma ‘ngisruh_QZR’ serta ‘ngejoki_JXZ…..’
Berbulan-bulan lamanya itu terjadi hingga mampu membuat badan ini bisa dibilang “Dah Nggak Enak Dagingnya”…..
Banyak kejadian disana kami alami…..
Azis yang telah pergi karena Ode alias Over Dosis…..
Ilham yang tlah tiada karena kecelakaan, terlindas truk gandeng…..
dan masih banyak lagi…
Namun kejadian yang tak pernah aku lupakan adalah kisahku bersama Fery…..
Selain teman in D’Gank, Fery sebenarnya adalah temen sekolahku. Awal perkenalan memang bukan disekolah, akan tetapi pertemanan itu lebih terjalin setelah menjadi satu kelas dalam satu sekolah SMA. Karena memang sebelumnya kami sudah akrab, selanjutnya kami selalu bersama-sama, Baik dalam kegiatan membolos sekolah, ngisruh bersama gank atau urusan tetek mbengek di kelas. Dan bukan menyombongkan diri, untungnya meski badung dan bandel aku masih termasuk dalam kategori anak yang bisa diperhitungkan dalam berkompetisi tentang pelajaran sekolah itu.
Pagi itu kami main ketempat Eddy teman sekolah kami, dan berrencana untuk menginap selama beberapa hari karena disana ada kebun buah yang kebetulan sedang panen. Akhirnya selama tiga hari kami tinggal ditempat itu puas sekali karena bisa menikmati jernihnya alam pegunungan, segarnya buah nanas yang baru dipetik, bergizinya buah manggis yang telah masak, dan legitnya buah durian yang matang jatuh dari pohonnya, bukan karena hasil karbitan. Dari pergaulan itu Yang aku salut dari Ferry adalah meskipun dia anak laki-laki dari orang tua yang sangat mampu, namun ternyata nggak jauh beda dengan aku. Ferry juga senang didapur. Pinter memasak. Sehingga untuk urusan makan kami tidak mengalami kesulitan karena harus menggantungkan pada Ibu.
Setelah tiga hari kamipun pulang kerumah masing-masing. Dan pada minggu berikutnya Aku dan Ferry pergi ke tempat percetzkzn guna membikin kaos team kebesaran kelas kami. Waktu itu pun sempet ngumpul bersama genk kami. Dan kebetulan ada salah satu temen butuh bantuan kami buat ‘ngluruk’. Pertikaian tak dapat dihindari…
Akhir dari ini semua kita gunakan untuk pesta…..
Itu adalah hari Jum’at malam Sabtu. Hari yang tak pernah bisa aku duga tentang perjumpaan kebersamaanku bersama Ferry…..
Karena esok harinya……
Sabtu sore saat dia masih berusaha untuk tetap bisa mengingat Tuhan, Waktu mau Kebaktian, saat dia pergi ke Gereja…..
Kecelakaan itu terjadi…….
Force One yang baru dipakai empat bulan akhirnya mengantarkan Ferry kerumah SurgaNYA….. Berpulang Ferry karena menabrak tiang telephone di kampungku…..
Lima hari tepatnya aku tak bisa melupakan kenangan itu…..
Tak ada yang bisa aku perbuat…..
Namun yang pasti itu semua membawa perubahan besar dalam hidupku…….
Terimakasih shobat….. Jabatku tetap untukmu meski lain dunia…….
Semoga kau damai disisiNYA…
Doaku mengalun untukmu… [uth]
Berbagi adalah Peduli...




























