Tanggal 19 Februari kemarin kebetulan sekali saya menemukan banyak temen yang sedang merayakan ulang tahun, baik itu temen-temen tercintaku didunianya mBak Maya ini ataupun temen dirumahnya Mas Nyata. Bahkan (sekedar) acara dadakan mentraktir di sawah tempat saya angon kebopun dilakukan secara berjamaah.
Terlepas dari satu anggapan apakah itu budaya kita ataupun budaya lain, namun yang terlintas dibenak saya adalah sebuah makanan berasal dari nasi dengan wujud “tumpeng” dan juga sebuah perkataan dalam bahasa Jawa yaitu “tanggap-warsa” berdefinisi “ulang-tahun”.
Tanggap warsa berasal dari dua suku kata yaitu tanggap yang (menurut sedikit pengetahuan saya) berarti “mempertunjukkan” satu peringatan atau mungkin bisa dikatakan dalam bahasa mancanya is a “show on celebration”. Sedangkan warsa mengadung arti “tahun”. Sehingga menurut yang sempet diceritakan oleh orang tua terdahulu bisa diterjemahkan bahwa kata “tanggap-warsa” adalah suatu hari yang gunakan sebagai peringatan untuk menunjukkan bertepatannya hari jadi atau hari lahir.
Itu hanya sekedar yang pernah saya tahu sebagai ucapan yang tak tersurat dari orang tua tatkala saya menanyakannya dahulu sewaktu kecil. Maka untuk kebenaran secara otentik saya tak berani menjamin kebenarannya karena secara bukti ataupun saksi saya sendiri tak bisa menunjukkannya, jadi apabila temen-temen tercintaku semua tak terlalu mengambil satu kebenaran akan hal ini sungguh sangat bisa dimengerti. Kebebasan untuk mengungkapkan pendapat lain dalam mengambil artinya pun secara pribadi tetap berikan kebebasan kepada temen-temen tercintaku semuanya.
Hanya saja pesan orang tua yang pernah saya dapatkan sehubungan dengan hal tersebut sungguh sangat bisa saya jadikan sebagai bahan refferensi sebagai pengambilan sebuah makna tentang perjalanan hidup.
Tanggap warsa, a.k.a peringatan yang menunjukkan hari jadi bisa digunakan sebagai hari untuk kita semua menggali, mengulas, dan menakar diri sampai dimanakah kehidupan yang telah kita jalani. Hal apa saja yang sudah kita lakukan sampai dengan saat hari lahir itu tiba kembali menjumpai kita. Kita tak akan pernah tahu sampai berapa kali lagi bisa menjumpai hari jadi tersebut, sehingga kita juga tak bisa menjawab pertanyaan apakah dengan tibanya hari jadi semakin bertambah umur/usia kita atau sebaliknya dengan hari jadi itu justru malah sudah semakin mengurangi jatah umur/usia kehidupan kita didunia ini. Apalagi jika kita mengulas ulang tentang keabadian waktu, bahwa kemarin adalah hari ini yang telah terlewati, begitu juga besuk adalah satu perwujudan hari ini yang belum terlaksana.
Hanya saja dari sini semoga kita semua semakin mampu mengambil satu makna tentang syukur akan pemberian dariNYA. Waktu yang kita tak mampu menolak dan atau memberinya, waktu yang hanya DIA sebagai dermawanNYA. Bahkan sekedar menunda tuk sekedar “agar jangan melewati hari ini” dengan cepat pun kita tak bisa. KebesaranNYA adalah makna tertinggi dihadapan kita semua. Sungguh sangat kecil ternyata kita ini diciptakanNYA.
Selanjutnya sebagai satu perwujudan pengambilan makna yang mungkin ini hanya ada di budaya kita (terutama Jawa) dalam memperingati hari jadi adalah dengan menggunakan simbul sebuah “tumpeng”.
Sebagaimana kita tahu bahwa tumpeng adalah makanan dengan bahan dasar beras yang dimasak menjadi nasi dan dibentuk besar dibawah dan semakin menjulang keatas akan semakin mengecil layaknya kerucut.
Mengandung satu maksud bahwa kedepannya kehidupan ini semakin meninggi harapannya adalah semakin mengecil ketergantungan sebuah pemikiran akan duniawi. Semakin menuju satu titik yang mengarah pada langit yang tak lain langit itu sendiri adalah satu perwujudan akan luasnya satu KuasaNYA.
Tumpeng juga selalu diletakkan pada satu lembaran sebagai alas yang dulu sebenarnya selalu menggunakan daun (pisang). Hal ini bukan saja karena pada jaman dahulu masih susah mendapatkan bahan lain (kertas misalnya) sebagai alas, akan tetapi daun juga memiliki makna bahwa hidup ini hendaknya juga mengambil kehidupan daun sebagai pijakannya. Daun bakalan menghidupi satu pohon sebagai pengumpul energi yang diterima dari Sang Surya, sementara keberadaan daun juga berrotasi, setelah daun yang tua berguguran daun yang muda pun musti mengganti peranannya. Tak berhenti disitu, daun yang telah gugur bakalan jatuh kebawah dan akan menyatu dengan tanah, selanjutnya tanah yang ada itu bakalan menjadi pupuk dan sumber penghidupan si pohon. Begitulah hendaknya kita hidup ini, selalu rela berkorban demi satu tujuan mulia yang bermanfaat bagi pihak lain…..
Lain dari itu, wujud tumpeng juga selalu dihiasi dengan makanan lain. Seperti hasil sayur-sayuran, buah-buahan dan juga hasil peternakan. Disini ada perwujudan rasa syukur akan rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita manusia yang berujud hasil bumi, karena pada akhirnya bahan itu semua juga yang akan kita makan.
Dan makna pilosophy yang sempat saya dapatkan dari orang tua sehubungan dengan tumpeng ini setelah saya browsing dirumahnya mBak Maya ini ternyata tak jauh dari tulisan yang saya repost disini. Selengkapnya silahkan bisa dikunjungi…
Semoga kita semua (terutama diri saya) semakin bisa memaknai akan nikmat atas KaruniaNYA. Puji Syukur, Berkah Dalem, n Thanks God bahwa kehidupan ini masih kita jumpai, Amien….. [uth]


















