Sluman Slumun Slamet…

Sluman Slumun Slamet…

Pagi tadi matahari begitu keluar dari peraduannya terasa panas terik menyengat. Setelah pulang dari angon kebo semaleman saya rencanakan untuk menjumpai salah satu temen yang hanya bisa saya temui kalau dia sedang libur, yaitu hari sabtu atau minggu.
Namun tak lama kemudian begitu saatnya saya sudah siap beranjak tuk keluar, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Akhirnya saya mengurungkan niat tersebut, tetep tinggal ditempat tuk sementara waktu.

Sambil menunggu hujan reda saya sempatkan telpon keluarga dikampung halaman. Setelah ngobrol ngalor ngidul, akhirnya pamitan dan terdengar suara Simbah Putriku yang telah berumur lebih dari 101 tahun sayup-sayup berucap “Le sing ngati-ati yo le makarya, Aja kebat-kebat mundhak kliwat, Sinambi ndedonga marang Gusti muga-muga pinaringan Sluman, Slumun, Slamet”.Le (Panggilan anak laki-laki) yang hati-hati ya bekerjanya, Jangan Tergesa-gesa agar tak kelewatan, Sambil berdoa semoga mendapatkan keselamatan.

Sebenarnya kalimat itu sering saya dengar sedari dulu sewaktu saya masih kecil. Pelajaran hidup dan kehidupan yang pernah saya dapat. Keselamatan sebagai salah satu urusan yang wajib kita anggap sebagai hal penting. Dengan keselamatan, sehingga ketika kita harus menjalani hidup dan kehidupan tentu ada tujuan yang sepantasnya untuk diraih. Tujuan tersebut seperti kesederhanaan kita dalam setiap kali memanjatkan do’a, yaitu umumnya adalah permintaan selamat di dunia ini dan di akherat nanti.
Memang “Sluman, Slumun, Slamet” adalah kata-kata yang berasal dari Bahasa Jawa, Namun coba mari kita renungkan bersama. Sebenarnya maknanya bagaiamana.

SLUMAN, berawal dari “lakon hidup”  Kanjeng Nabi Sulaiman. Sebagai orang Jawa yang medhok dalam berbahasa ada berbagai kata yang dilafalkan menurut lidah orang Jawa itu sendiri. Misalnya pada saat harus mengucapkan Syahadat ‘Ain maka akan keluar Sekaten, atau dalam menyebut nama Husyein maka akan timbul kata Kusen. Nah begitu juga ketika menyebut nama Kanjeng Nabi Sulaiman, maka orang jawa menyebut istilah Sulaiman dengan Sluman. Mungkin telah banyak dari temen-temen semua yang mengetahui bahwa Nabi Sulaiman adalah seorang Rosul yang dikaruniai kelebihan berbagai hal. Salah satu yang menonjol dari Kanjeng Nabi Sulaiman adalah anugerah akan banyaknya kekayaan yang beliau miliki, disamping keberhasilannya sebagai seorang penguasa di suatu negeri, dan pemberian mukjizat bahwa beliau mampu berbicara dengan semua makhluk hidup, baik itu berupa hewan, tumbuh-tumbuhan, jin, dan lain sebagainya. Namun dengan kemampuan dan keberadaannya itu, beliau tak lantas takabur, sombong atau sewenang-wenang. Malah sebaliknya, beliau mampu menjalankan amanah dari TuhanNYA yaitu bisa bersikap adil dan bijak dalam memerintah. Hal ini mampu beliau terapkan baik terhadap sesama manusia maupun dengan makluk yang lainnya. Dengan kesabaran beliau pulalah semua bisa terselamatkan.

SLUMUN, Mungkin bagi temen-temen Muslim sangat paham betul akan arti dari kata “Salamun” seperti yang tertera pada Surat Yaasiin ayat ke-58. (Mereka mendapat ucapan) “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
Nah sekali lagi kembali sebagai orang Jawa yang mengucap kata “Salamun” timbullah kata “Slumun” tersebut. Yang musti kita ambil adalah inti kata dari Slumun ini ternyata tak lain adalah juga mengindikasikan kearah arti kata Keselamatan juga.

SLAMET, Kata ini telah banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Kata slamet dalam Bahasa kita telah didefinisikan sebagai kata ”Selamat”. Ucapan keberhasilan seseorang dalam menempuh hidup menuju kebahagiaan dan juga keberhasilan.
Sinonim dalam Bahasa Jawa dari kata Slamet adalah Sugeng, Raharja, Rahayu dan masih banyak lagi yang intinya adalah menuju keselamatan. Mungkin temen-temen bisa menyebutkan Untung, Beja, Waras, Saras, Wilujeng, Bagas dan lain-lainnya…..(?)

Ini hanya sekedar kata-kata yang pernah saya dapatkan dari asuhan semenjak kecil, soal kebenaran ilustrasi ini saya sendiri tak terlalu bisa membuktikan secara otentik datanya.

Dengan tak mengurangi rasa hormat, tanpa  membedakan tentang keyakinan atau agama yang dianut temen-temen tercintaku semuanya, secara pribadi saya mengajak pada semuanya (yang paling utama adalah pada diri saya sendiri) marilah kita berperilaku saling menjaga keselamatan hidup ini. Agar kehidupan kita tercapai pada tujuan berperikehidupan yang aman dan sentausa.

Dengan berpegang pada prinsip “sluman – slumun – slamet”  dan disertai tindakan yang berlandaskan pada nilai sopan santun, adat tatakrama serta perilaku beradab, Semoga kita  semua  akan mampu terhindar dari suasana “Kebat-Kliwat” pada  setiap sikap dan perbuatan. Berharap tetap yaqin tuk mampu terselamatkan. Amien… [uth]

tertulis pada 21 Maret 2009, sat mBah Uti masih “sugeng”