Jarwo dhosok (kerata bahasa) itu dalam ilmu bahasa kurang lebih bisa diartikan “mempresentasikan satu kata dari sukukatanya dengan cara diotak-atik agar nyambung demi satu tujuan kebaikan, dalam istilah jawanya dikatakan ‘negesi tembung saka wandane kanthi diothakathik gathuk amrih becike’.
Sebagai contoh adalah kata ‘wanita’ yang bisa di jarwodhosok-kan sebagai wani nata uga wani ditata, berani menata ‘wani temata’, ‘wani nata’, selain pula ‘wani ditata’. Artinya, barang siapa berjati diri sebagai wanita harus rajin dan pintar menata rumah tangga, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga. Sekalipun akhir-akhir ini fakta demikian banyak disangkal, setidaknya kearifan ‘jarwo dhosok’ kata ‘wanita’ ini dapat digunakan sebagai pengingat.
Tak bisa disebutkan secara rinci sejak kapan hal ini terjadi, namun dalam tradisi masyarakat Jawa pemakaian entitas kebahasaan demikian ini merupakan salah satu bentuk kearifan.
Pansus Century
Sebagai warga biasa yang berpangkat rakyat jelata saya mungkin tak terlalu risau dengan keadaan Negeri yang sedang dilanda banjir century ini, namun sebagai anaknya Ibu pertiwi yang berusaha patuh, sedikit banyak saya tak ketinggalan juga untuk (sedikit) mengikuti apa yang sedang membuat resah karena ada luka pada tubuh Ibu Pertiwi tersebut. Hanya sekedar itu yang bisa saya lakukan dan rasakan.
Saya sama sekali tak punya kehendak dan rasa berharap (cemas) tentang bakal terjadi kabar apa pada hajatan yang di sebut Pansus Century. Karena memang pada dasarnya secara pribadi sepertinya tak ada nilai untung ataupun rugi sehubungan dengan hal tersebut bila dilihat dari sisi materi. Yach, hanya karena saya tak memiliki uang yang berada pada cengkraman Bank Century, jadi sikap cuek-pun akan menjadi aksi.
Sambil menunggu pengumuman mengenai bailout (yang katanya) sesegera mungkin akan dipublikasikan sebagai buah dari hasil kinerja pansus century, tak seperti saya, ternyata masih ada yang setia menungguinya, yaitu mereka-mereka yang telah dirugikan atas jasa keuangan yang disimpan pada Bank Century.
Masih berhubungan dengan tema jaewodhosok, Sebagaimana ‘kupat’ dapat dijarwodhosokkan ‘ngaku lepat’ alias ‘mengakui kesalahan’ dengan anggota keluarga lainnya. Maka tidak menutup kemungkinan apabila Pansus Centuripun bisa di jarwodhosokkan juga sebagai Papan nggedebus supaya ‘cent’ bisa oncat metu mburi, yaitu yang mengandung makna tempat berbicara (tanpa makna) yang bisa menyelamatkan uang (cent) meskipun harus lewat pintu belakang. Bukankah hal itu syah-syah saja seperti pada saat kebanyakan orang juga menjarwodhosokkan kata Januari yaitu Hujan Sehari-hari, atau desember, ‘gedhe-gedhenya sumber’ sehingga mampu membuat banyak orang yang benci deengan tabiat itupun tak begitu diambil pusing karena konotasi ‘benci’ menurut mereka adalah bener-bener cinta. Tak ada kata haram dan tiada rasa bersalah apabila tetap nggedebus dengan kata-kata semacam bangsat sekalipun…
Ini hanyalah jarwodhosok yang secara iseng saya sampaikan, sama sekali tak mengandung unsur filosofis seperti kebanyakan yang sudah ada. Untuk itu dalam meng-intepretasikan tentang segala hal terutama yang berhubungan dengan Pansus Centuri ya saya persilahkan pada teman-teman tercintaku semuanya, ada yang sependapat ya syukur enggakpun tak ada motif yang bersifat lost-profit dari saya, pokoknya ya ‘monggo-monggo’ saja!
Bukankah bahasa itu memang hakekatnya multi-intepretasi..? [uth]
Berbagi adalah Peduli...





























