Ikhlas Legalila ( Linabs – Linnas – Lillah )

Ikhlas Legalila

Legalila tan kocap tumekaning lathi, ananging telu kang kudu den mangerteni, Linabs – Linnas – Lillahi.

Ikhlas itu tak hanya terucap dari bibir, akan tetapi tiga hal yang musti kita pahami, Tentang Nafsu (Linabs), tentang kemanusiaan (Linnas), dan juga mengenai Tuhan.

Pengajian hidup yang telah lama sekali diberikan dari orang tua terdahulu akan sedikit saya bagi buat temen-temen tercintaku semuanya. Berlaku untuk siapa saja dan kapan saja juga dimana saja, baik teman-teman yang seiman dengan saya ataupun buat temen-temen yang berkeyakinan lain. Bukan juga satu kontemajaran yang mewajibkan anda mengamalkannya, semoga banyak manfaat buat kita semua.

Satu rasa ‘Ikhlas legalila‘ seringkali telah hilang dari rasa yang ada dan timbul dari hati ini, apalagi pada dunia yang karenanya kita terlalu disibukkan dengan kemewahan dan ketertarikan didepan mata. Hiruk-pikuk dan euforia telah mengantarkan kita pada satu masa yang entah itu akan berakhir sampai dimana. Yang tak menutup kemungkinan kesemuanya itu juga tak akan mampu menghentikan atau sekedar memperlambat perjalanan kita sebelum satu kejadian yang kita sebut sial atau lebih parahnya kita sebut sebagai  celaka menghampiri kita.

Kesadaran akan perenungan diri itu kebanyakan akan kita lakukan pada saat setelah menerima satu case yang disebut sial. Itu juga ada waktu yang kita seolah-olah cuek dan tak begitu mempedulikannya.

Hanya rasa sakit atau kehilangan mungkin bisa kita rasakan saat kita sedang membutuhkannya, sehhingga mungkin yang akan dilakukan adalah menyesalinya. Masih beruntung apabila yang dilakukan itu hanyalah sebatas rasa sesal, akan berbahaya apabila efek dari rasa sesal dan kecewa itu nantinya bakal melakukan hal-hal yang sangat tidak terpuji, hal-hal yang bisa merugikan baik itu bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain.

Satu kalimat sebagai nasehat (piwulang, wewaler) sebenarnya telah banyak diwariskan dari orang-orang terdahulu sebagai sesepuh kita, tak lain adalah satu ungkapan atas [engalaman yang telah dilalui oleh beliau-beliau. Salah satu adalah yang saya lampirkan sebagai tulisan awal diatas.

Dalam menjalankan Keikhlasan karena semata-mata apa yang kita alami adalah karena Tuhan (Lillahita'ala) tak hanya berhenti pada bibir sebagai pengucap ynag menimbulkan getar suara belaka. Ada tiga hal yang dijadikan patokan, yaitu adalah tentang Nafsu, tentang Human, dan tentang Tuhan.

Nafsu, Sudah kodrat manusia diciptakan-Nya adalah diberikan-Nya nafsu kepada kita. Karena nafsu itulah kita manusia ini bisa berfikir, mampu berkreasi, dan sanggup ber-inovasi. Tanpa nafsu apa jadinya di dunia ini, tak ada satu perubahan sebagai bentuk satu perkembangan yang kita sebut sebagai dinamis. Kita tak ubahnya sosok Malaikat yang diciptakan Tuhan hanya menjalankan kewajiban karena ketentuan-Nya. Sebagaimana Malaikat penyabut Nyawa, ya dia bakalan bernafsu mencabut Nyawa saja. Atau Malaikat Peniup trompet, maka dia bakalan meniup trompet terus. Masih untung kalau ada event pertunjukan musik, lha kalau event-nya harus mengheningkan cipta berarti khan Malaikat peniup trompet tersebut nggak bakalan nafsu untuk menghentingkan cipta. Karena memang nafsu yang diberikan-Nya hanyalah meniup trompet. Lebih tepatnya sebenarnya hal ini saya katakan bukan sebagai nafsu -meniup trompet atau mencabut nyawa-, akan tetapi adalah kewajiban.

Dari bermacam nafsu kita sebagai manusia yang diberikan-Nya ini, rasa 'Ikhlas legalila' itu juga musti terkandung dan selalu mengiringi dalam nafas-nafsu-Nya. Linabs...

Human (kemanusiaan), kita adalah manusia ciptaan Tuhan Allah Swt. Selain manusia, kenyataan yang kita lihat ada banyak lagi productnya. Ada binatang, ada tumbuh-tumbuhan, ada Jin dan setan, juga masih banyak lagi hasil ciptaan-Nya. Hanya saja menurut apa yang pernah saya yaqini, kita sebagai ciptaan-Nya ini dikategorikan sebagai makhluk termulia. Bukan tanpa sebab, hal tersebut karena kita ini adalah makhluk dengan kelebihan yaitu mampu menggunakan otak sebagai media untuk berpikir lebih dibanding pola pikir makhluk lain. Kelebihan inilah yang kita miliki sebagai manusia, kita bisa menciptakan (membuat) pakaian dengan daya kreativitas yang ada yang akan digunakan sebagai bahan penutup badan. Hal ini sangat berhubungan sekali dengan linabs karena ada rasa malu apabila kita musti tak berpakaian dan atau telanjang bulat, selain itu juga mencegah/menghindari timbulnya rasa nafsu.

Berpikir atas dasar rasa kemanusiaan tersebut, akhirnya Rasa Ikhlas legalila dalam hubungan berkemanusiaan akan kita pilih apabila kita tak mau dikategorikan sama dengan jenis ciptaan-Nya selain manusia. Maukah kita disamakan dengan binatang...?

Tentang Tuhan, Setiap keyakinan/kepercayaan akan bermuara dan atau berhulu pada satu keimanan tentang adanya keberadaan Tuhan. Kita tak dibayar atas pengakuan atas keberadaannya, karena toh kalaupun kita tak mempercayai-NyaA, lalu membayarnya yang namanya Tuhan itu juga tak bakalan mengalami kerugian. Hanya satu inti ajaran kebenaran dan kebermanfaatan kita yang disampaikan Tuhan, baik itu yang tersurat ataupun tersirat. Dengan kata lain yang bakalan beruntung ataupun merugi adalah manusia itu sendiri. Tuhan Memberkati, Barokallah, GodBless, Berkah Dalem, Berkah Tuhan, dan lain sebagainya.

Jika saja Tuhan yang tanpa pamrih dan tak mengemis untuk kita sembah Ikhlas dan rela memberikan berkah-Nya kepada kita, maka sebagai hal terbaik yang bakalan kita panjatkan adalah memberikan rasa yang sama -syukur dengan volume lebih- kepada Tuhan itu sendiri. Ikhlas Lillahi (Ta'ala).

Dari kalimat sebagai wewaler diatas mesti masih sangat susah namun tetap berharap kita semua (terutama saya) mampu menggunakan pikiran dan menempa hati dalam mengendalikan nafsu untuk selalu bisa merasakan syukur atas nikmat-Nya. Barokah yang tiada tara tak selalu kita sadari telah dilimpahkan-Nya sebagai jembatan kita sebagai umat Tuhan yang semestinya meraih satu pedoman Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe. Sepi pada satu pengharapan -yang berarti Ikhlas-, dan rajin (ramai)  pada satu pekerjaan. [uth]

______________

Ikhlas Legalila



Berbagi adalah Peduli...