Urip iku urup mengawali tulisan bersamaan dengan perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini. Ya, sebagian saudara-saudara kita di Bali baru saja memperingati Hari Raya Nyepi. Sependek pengetahuan saya, Nyepi berasal dari kata dasar “sepi” yang berarti sunyi atau senyap, sementara menurut Om Wiki “Nyepi” sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi.
.

Uruping lilin
‘
Tujuan dari Hari Raya Nyepi ini adalah untuk menyepikan diri, melepaskan kepenatan dalam setahun dan banyak merenung dan mengendalikan diri. Dalam Hari Raya Nyepi, umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian;
- Amati Geni yaitu tidak menyalakan api secara lahir (tidak merokok, tidak menyalakan kompor, tidak menyalakan lampu, dll) dan secara batin dimaksudkan untuk mengekang dan mengendalikan diri dari hal-hal yang bersifat negatif seperti mematikan api amarah dan api asmara.
- Amati Karya yaitu tidak bekerja secara lahir dan secara batin menghentikan kegiatan jasmani dengan merenung/mawas diri.
- Amati Lelungan yaitu tidak bepergian karena semua orang melakukan Tapa Brata Penyepian dan seyogyanya kita tidak menganggu ketenangan orang lain.
- Amati Lelanguan yaitu tidak mengadakan hiburan/rekreasi dan bersenang-senang.Semua umat Hindu harus merenung dan mawas diri
***
Satu ajaran yang saya pikir tak hanya berlaku pada satu kotak manusia dengan label penganut ajaran Hindu saja. Sungguh sangat banyak makna yang bisa kita petik disana. Ada satu kesempatan yang memang harus kita luangkan untuk “nenepi” atau dalam bahasa Muslimnya mungkin bisa didefinisikan “I’tiqaf”.
Hal itu dilakukan bukan maksud untuk menghindar dari keadaan, namun lebih dari menyempatkan waktu untuk bisa lebih merenungi dan mencari jatidiri.
Mungkin teman-teman lain ada yang menamakan ini dengan Tasawuf. Kebenarannya saya tak begitu mahfum tentang sebuah istilah. Hanya saja dalam kesepian ada hal-hal yang sempat dialami mengenai kesejatian diri yang tak secara langsung bisa menjadi waktu untuk bisa mempelajari diri sendiri -dalam diam dan seakan mati namun tak bertepi-.
Namun alangkah nikmatnya jika pada saat sunyi sepi itu bisa kita nikmati.
Tak seperti apa yang ada disekeliling kita, yang ada dihati adalah berbanding terbalik yaitu hidup dan ramai. Bahkan dari hidup dan ramai itu seakan ada lampu yang menyala pada diri.
Ahhh, maafkan atas kesombongan terhadap Illahi ini. Hal yang mungkin tak cukup ditulis dan diomongkan dengan kata-kata semata hanya bertujuan untuk berbagi, bukan penonjolan diri.
Mengenai perbandingan terbalik hidup dan ramai dapat kita ejawantahkan pada satu petuah bijak para pendahulu kita bahwa Urip Iku Urup.
Urip Iku Urup adalah sebuah kalimat berbahasa Jawa yang mengandung arti kurang lebih “Hidup itu Nyala”. Seolah berkobar, maka ketika hidup itu berada hendaknya juga mampu membakar semangat dan memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita.
Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik. Sebaliknya, sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, harapannya jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat lain.
Kalau teman-teman ada yang dulunya sering membantu menggarap sawah mungkin ada yang tahu juga arti lain dari kata “urup” ini.
Kata Urup bisa juga didefinisikan sebagai “menukar”.
Biasanya padi yang telah dipetik di “urup” dengan dawet-ayu yaitu sejenis minuman cendhol yang dibawa dengan pikulan oleh Bapak-bapak mengelilingi sawah. Meskipun hanya sejenis minuman akan tetapi dalam udara yang panas karena terik matahari disawah maka hal itu menjadi sangat bermanfaat bagi sang petani. Sekali lagi, kebermanfaatan semangkuk cendol telah bisa diperoleh dengan cara “urup” atau menukarnya dengan segepok padi hasil panen sang petani. Semua mendapat manfaat.
Bersama teman-teman lain yang sedang merayakan Hari Nyepi harapannya kita bisa melakukan “Nyepi”, sebagai laku nenepi guna menemukan hidup yang menyala. Sementara “nyala” tersebut mampu dijadikan obor penerang sebagai manfaat bersama. Dan pada akhirnya hal-hal yang Mudharat (useless) pun mampu kita urup/tukar dengan hal yang berguna pula. [uth]
______________________________________
Illustrasi Urip iku urup diambil dari sini
Berbagi adalah Peduli...




























