Aja dumeh dinegeri atas awan

Aja dumeh tertulis setelah saya melihat sebuah gambar dari rumahnya mBak Arie, jantung saya serasa semakin berdetak tak karuan karena melihat keindahan alam Ciptaan-Nya.

Hamparan awan ternyata mampu membungkam mulut ini, tak kuasa tuk berkata dan bersuara…. Hanya sebuah nada terlantun mengiringi kesunyian-Nya

Kau Mainkan Untukku-Sebuah Lagu-Tentang Negeri Di Awan-Dimana Kedamaian Menjadi Istananya-dan Kini Tengah Kau Bawa-aku Menuju Kesana  -Katon Baskara-

.

Negeri diatas awan

Mencermati dari sudut satu ke sudut lainnya, inchi demi inchi, sungguh merinding karena hati dan otak saya spontan terbawa akan Kuasa-Nya. Begitu indah pampangan alam ini, terhampar pesona yang satu berkaitan dengan pesona yang lainnya, menghantarkan kesadaran pribadi bahwa (berulangkali) harus saya ucapkan “begitu kecil kita -saya- ini dihadapan-Nya”

(sok) Bertutur tentang alam dengan langitnya, saya serasa diingatkan kembali pada sebuah nasehat dan petuah orang tua tentang “mencari ilmu sampai ke negeri China” sehingga dari sini mengingatkan saya juga pada sebuah pepatah bahwa diatas langit masih ada langit.

Ada yang meyaqini bahwa langit itu terjadi berlapis-lapis dan atau bertingkat tingkat, bahkan dari keyaqinan seperti itu sang pujangga juga sempat mengguraui bahwa dilangit ke-tujuh lah tertambat bidadari. Lain dari itu satu sumber menyebutkan jika langit itu tercipta hanyalah sebatas mata memandang sebagai batas cakrawala.

Terlepas dari itu semua, bukan hal-hal yang menimbulkan perdebatan panjang yang saya mau kemukakan.

Menjalankan pikiran dalam mengarungi langit yang tertambat pada satu kata tentang negeri diawan terrangkai pula satu kalimat bahwa diatas langit masih ada langit. Diatas kemampuan yang biasa pada saya masih ada kemampuan luar biasa pada temen-temenku semuanya, dan tak usah menutup mata jika diatas kempuan yang luar biasa dari temen-temen tercintaku tersebut masih terdapat satu kemampuan yang menciptakan keluarbiasaan-Nya itu sendiri.

Satu pola pikir yang tak secara langsung diajarkan pada kita, janganlah kesombongan itu menguasai diri. Oleh sebab itu dalam berjalan kita butuh kaca spion yang berfungsi sebagai alat untuk melihat diri, mengaca diri, ngilo githoke dhewe… Agar kita selalu terhindar dari pemanfaatan yang bisa jadi hanya akan dipetik hasilnya dalam waktu sesaat saja lalu lenyap.

Dengan gaya hidup yang serba sesaat ini disadari atau tidak, saya sering lupa jika hal-hal yang spontan serta instan bukan saja sebagai penghias diri namun kebalikan dari itu adalah racun diri. Dari kehidupan instan kita juga bakalan terbiasa dengan pola “mentang-mentang” dan bahkan seringkali juga menggunakan “aji mumpung”, mumpung bisa, mumpung ada, dan mumpung-mumpung yang lainnya…

Bukan mau menyalahkan apalagi mempermasalahkan. Hanya saja dari sini saya menjadi teringat sebuah petuah orang tua terdahulu dalam menyikapi hal tersebut, yaitu tentang kata-kata “Aja Dumeh“, yang bisa disamaartikan sebagai “jangan mentang-mentang”.

Aja dumeh….

Falsafah hidup aja dumeh mengajarkan kepada kita sikap rendah hati dan tenggang rasa.

Rendah hati dan tenggang rasa sangat dibutuhkan dalam pergaulan dan bersosialisasi. Sementara kebersamaan tercipta bukan saja bagi yang merasa satu kehendak satu keinginan ataupun satu golongan. Pluralitas adalah warna indah dari kebersamaan itu sendiri, maka dari bermacam-macam perbedaan itulah kita dituntut untuk bisa belajar. Yahhh belajar menghargai…

Aja dumeh merasa kaya terus pingin menguasai.
Aja dumeh merasa pinter terus mengguri.
Aja dumeh merasa menjadi mayoritas terus pingin memonopoli.

Timbul satu kesadaran jika kesemuannya itu tak bisa dibanggakan karena segala sesuatu yang kita miliki ini hanyalah titipan-Nya, dan sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu bebas diambil-Nya.

Meskipun dengan diiringi dentang waktu dari sebuah lonceng episode perjalanan panjang, namun bukankah hidup kita ini juga hanya diibaratkan dengan mampir ngombe…?

Lalu “sedaya titah ingkang tumitah menika badhe dipun pundhut dening Ingkang damel titah” – semua yang Tercipta ini bakalan diambil oleh Yang Mencipta”

Sudah jelas bahwa semua yang tercipta ini bakalan kembali dipanggil oleh sang Pencipta, dan kita yang diciptakan oleh Tuhan berasal dari tanah pun akan kembali ke tanah. Dengan bekal “aja dumeh” harapannya semoga kita bisa menjadi tanah yang mampu menghidupi kembali kehidupan disekitar kita. Semoga… [uth]

Silahkan ceklik playlist untuk menikmati lagu ‘selembut awan’

_____________________________________________
Illustrasi aja dumeh diambil dari  rumahnya mBak Arie



Berbagi adalah Peduli...