Sang Keong

Hari ini saya sempetkan main ketempat saudara, mumpung dianya lagi berada dirumah dan libur. Karena memang kerjanya tuh Office Hour otomatis liburnya adalah weekend ini (Sabtu dan Minggu).

Begitu nyampe, iseng-iseng baca buku ponakan yang isinya adalah dongeng anak-anak, antara lain adalah lomba lari antara keong (siput) dengan kancil. Binatang Kancil yang terkenal cerdik sampai-sampai pada cerita lain bisa ngalahin buaya, namun nyatanya pada cerita tersebut telah kalah mutlak dalam perlombaan lari bertanding melawan si keong alias Siput itu. Yaitu dengan cara seccara sembunyi-sembunyi serombongan kelompok Siput berbaris berjajar kedepan pada arena perlombaan, dan nanti apabila Si Kancil memanggilnya dengan suara KEOOOONNNNGGG….! Maka yang akan wajib menjawab adalah siput yang posisinya berada didepannya, tentu dengan suara juga, KUUUUKKK…..! Sepintas nampak lucu memang cerita ini.

Tapi mohon maaf, bukan cerita fable itu yang mau saya tuliskan pada temen-temen semua kali ini. Melainkan akan saya coba lihat dari sudut pandang keongnya saja.
Alon-alon waton kelakon
Gremet-gremet waton slamet
Gliyak-gliyak waton kecandak

Mungkin banyak temen0temen telah pernah mendengar istilah tersebut diatas.

Alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asal terlaksana)….. Dalam melihat kondisi tentang kemampuan kita sudah selayaknya marilah kita coba bersama-sama mengukur tentang kemampuan yang kita miliki. Kita tahu bahwa kemungkinannya sangat kecil sekali, bahkan boleh dibilang tidak ada kemenangan dari sang keong untuk melawan si Kancil dalam pertandingan lomba lari tersebut. Namun bukan berarti terus pasrah dan menyerah dalam menjalani perlombaan hidup ini. Meskipun “alon” dalam bertindak toh akhirnya si keong mampu memenangkan pertandingan tersebut dengan menggunakan akal brilliannya mengumpulkan temen-temen sesame keong. Dengan cara berbaris berjajar bersama bisa terkalahkan tingkah polah kancil yang memang sudah terkenal “nakal” dan suka mencuri (timun) ini. Kerjasama team (Team Work) inilah factor utamanya

Bukan berarti yang kita lihat adalah dari sudut pandang hasil “kecurangan” atas keberhasilan si keong ini…! Namun yang semestinya wajib kita telaah adalah kepandaiannya mensiasati keadaan dalam mengukur kemampuan diri. Inilah sikap bijak pada tindakan “alon-alon waton kelakon“ tersebut. Sekali lagi bukan kecurangan kerangka berpikir kita

Hanya sebuah keong yang terkenal dengan kelambanannya….. ditantang oleh kesombongan dan kecongkaan si Kancil, akan tetapi dengan “gremet-gremet” lewat gerakan komando satu keong saja yang rela memberikan komunikasi dan informasi , serta rela terjun langsung ke lapangan dan medan pertempuran ternyata kehormatan satu KORPS(kelompok) yang bernama Keong mampu terselamatkan. Tetep harum dan terjaga namanya dari ekspansi dan ledekan atas kesombongan Si Kancil. Tak lain adalah tindakan “gremet-gremet waton slamet”. (Merambat asal sealamat)

Sebagai tindakan penyemangat dalam satu perlombaan maka dibutuhkan satu komando ataupun perintah pada pikiran kita. “gliyak-gliyak waton kecandhak”. Ingat, Bukan sifat “nggliyak” (serakah) yang dilakukan namun tindakan “gliyak-gliyak” (semangat membara) yang wajib kita kerjakan. Semua yang akan dihadapi Sang Keong dilakukan secara kolektif system kerjasamanya, sehingga tantangan sehebat apapun tak akan mengendorkan semangat-semangat para Korps Keong tersebut. Prinsip “Gliyak-gliyak waton kecandhak” terbukti akan mampu menghempas segala godaan dan ejekan dari Si Kancil.
“Gliyak-gliyak waton kecandhak” (Dengan semangat pantang mundur asal terkejar)

Semoga ini semua mampu mengilhami kita dalam bertindak dan berpikir, seyogyanya jangan grusah-grusuh dan ngawur dalam bertindak mentang-mentang sudah merasa cukup ilmu. Karena ada hal yang lain yang wajib kita perhatikan. Yaitu “Kebat kui kliwat”, Terburu-buru itu akan menghasilkan tindakan kelewatan dan terhilangkan sifat ketelitian. Sepintar apapun toh kita ini adalah manusia yang dibesarkan dari bayi yang tak mengerti apa-apa selain bisanya Cuma menangis begitu keluar menghirup udara bumi ini.

Selain itu yang mesti dipikirkan juga, bahwa berhati-hati saja juga tidak cukup menjamin suatu keselamatan.
Di jaman sekarang, berkendaraan hati-hati dan perlahan-lahan tidak menjamin keselamatan di jalan raya. Hal ini terjadi karena meskipun kita sudah berhati-hati namun masih ada manusia lain yang berlalulintas secara grusah-grusuh (ngawur) yang akibatnya melukai mereka yang sudah berhati-hati

Bukan pemaksaan atas prinsip pada temen-temen semua karena memang sangat banyak pilihan dalam hidup ini. Sangat banyak pula pelajaran dari kehidupan ini. Dipersilahkan pula buat temen-temen tercintaku semua untuk menggunakan hak pilihnya “Biar lambat asal selamat” atau mau mengoptimalkan option yang lain, misalnya dengan mempercepat evolusi menjadi “Harus Cepat biar selamat”. (Biar kek Pak Propesor doktor BeJe Habibie) Demokrasi is no insist, Sumangga……..

Namun yang mau saya garis bawahi Dari dongeng Si kancil dan Sang Keong diatas semoga kita (khususnya diri saya) dapat mengambil hikmah dan pelajaran bahwa kesabaran, keuletan dan ketabahan Sang keong dalam menerima hinaan, cercaan , ejekan dan tantangan ternyata mampu mengalahkan berbagai kecerdikan yang dimiliki si kancil. [uth]



Berbagi adalah Peduli...