Satu bab buku kehidupan telah saya lalui, tak terburu untuk saya melanjutkan bab berikutnya. Ada hal yang musti berulangkali saya review, ternyata apa yang telah terbaca pada beberapa halaman yang dikumpulkan menjadi satu bab tersebut belum sepenuhnya bisa direnungi, apalagi ditindaklanjuti. Ada beberapa yang bisa dengan mudah kita pahami, namun tak sedikit yang kita harus memeras otak (yang ibarat musik) tuk sekedar mengiringi.
Demi menemukan sedikit jawaban atas banyak tanya dihati, musti saya buka kembali lembaran lama buku kehidupan yang sempat tertoreh bahwa “Usaha memahami cara berfikir menyelesaikan masalah dan perjalanan berkehidupan, beragama, dan bermasyarakat tidak dapat di sandarkan pada satu kebenaran sebagai ukuran tunggal…”
Teman-teman tercintaku semuanya boleh tak sependapat dengan argumen diatas, silahkan saja mengemukakan pendapat dari sudut lain. Satu renungan yang sempet tertoreh tersebut mengingatkan saya pada satu inti menyangkut “hakekat” bahwa tak jarang kebenaran justru menambah permasalahan semakin parah. Karena ada satu bab lain yang lebih membutuhkan ”WISDOM” dibanding satu kebenaran. Ada satu Sub Bab pada judul buku kehidupan yang lebih membutuhkan sikap bijak agar banyak kebenaran bertingkat-tingkat dan berwarna – warni dapat berdampingan dengan nyaman.
Memang pada pokok bahasan tertentu bersinergi dengan ‘ilmu tehnik’, akan tetapi sepertinya kenyataan yang ada ‘ilmu sosial’ itu tak dapat dihilangkan begitu saja walaupun dengan alasan “harus” fokus pada satu materi.
Orang “tehnis” mengira bahwa satu pertanyaan adalah satu jawaban, Tidak begitu dengan orang bijak yang selalu memiliki banyak tingkatan pemahaman akan kebenaran serta ada banyak jawaban atas satu pertanyaan ”yang tentu membutuhkan kejernihan hati yang berasal dari TUHAN” [M.Sobari]
Beberapa kata yang dirangkai oleh Kang Bari menjadi kalimat indah diatas sebenarnya telah berulangkali saya baca baik pada bab pertama buku kehidupan ini ataupun bab yang lain pada buku kehidupan yang lain pula. Namun sekali lagi kenyataan yang ada membuktikan sungguh sangatlah lebih mudah hal tersebut saya baca dibanding saya harus merenungkan apalagi mengamalkannya.
Membolak-balikkan lembar demi lembar buku kehidupan akhirnya otak ini tertambat pada satu ingatan tentang bab senada. Hanya saja tema pada bab tersebut sepertinya tidak dengan rapi dikemas sebagai wujud buku yang mudah dibaca. Pokok bahasan hanya sering saya dengar lewat dua daun telinga sewaktu kecil saat deket dengan orang tua.
Aja sira tansah kepengin diemong, ananging kepara bisoa sira dadi pamong. Ora selak yen ing tembe sira bakal tansah bisa gawe reseping pasrawungan.
Jangan kamu hanya pingin diasuh dan dipahami, akan tetapi hendaknya kamu bisa menjadi pamong (pengasuh). Maka tak menutup kemungkinan nantinya akan selalu bisa menjadikan rasa kebersamaan.
Digambarkan pada kalimat diatas sebagai bahan perumpamaan yang diutarakan oleh orang tua terhadap saya, anak yang masih kecil. Bahwa saya sebagai manusia ini akan cenderung berpikir pendek, picik dan akhirnya bisa menjurus ke sifat ‘buruk sangka’. Untuk itulah diucapkan wewaler (wejangan) diatas sebagai piwulang dan rambu dalam mengarungi perjalanan hidup.
Saya akan cenderung dan lebih dominan menyalahkan perbuatan anak kecil yang nakal karena telah berlari-lari mengejar ayam dan akhirnya ayam tersebut menabrak gelas berisi teh yang belum sempat saya minum, lebih parah lagi gelas tersebut jatuh menimpa kacamata yang kebetulan saya taruh dibawah, akhirnya pecahlah kacamata minus n cilindris saya. “Getem-getem” dan luapan emosi lebih gampang keluar dibanding saya harus berpikir jauh pada kejernihan hati. Meski sebenarnya saya hanya diam kesel tak bersuara, namun sungguh tindakan tersebut pun bakalan saya sesali setelah tahu alasannya.
Bapak dari sang anak minta maaf dan menceritakan keadaan yang ada ada sebenarnya bahwa bocah umur lima tahun itu baru saja ditinggal pergi Ibunya, menghadap yang empuNYA.
Terbukti sudah, meski telah berulangkali saya membaca lembar demi lembar sampai pada bab demi bab di banyak buku kehidupan yang judulnya beraneka ragam ini, namun ternyata saya belum bisa mencerna satu buku pun. Satu bab baru saja saya mulai untuk memahami, ya baru saja saya mulai…. Ahhh…..
Meski saya berulangkali bicara ikhlas setelah Note Book yang selama tiga tahun menemani akhirnya raib tak berbekas, namun kenyataan yang ada sampai dengan saat ini pun saya masih selalu merasa kebingungan apalagi jika mengingat banyak hal ada disana. Semua yang saya bilang ”ohhh, mungkin yang mengambilnya sangat butuh banget dengan barang itu” pun seakan sirna dari nilai ikhlas saya. Bahkan pada titik tertentu yang boleh dibilang sebagai “titik nadir” saya selalu membatin-nya. Sungguh nilai Ikhlas itu sangat mahal harganya. Hem, maafkan saya atas kesimpulan berwujud “keluh-kesah” pada bab ini… [uth]
___________________________________________________________
Gambar ilustrasi buku kehidupan diambil dari google namun maaf lupa tautannya.
Berbagi adalah Peduli...





























