Hebohnya siNengApril

Minggu 22 Januari 2012 – empat hari lalu ada satu kejadian berjudul hebohnya siNengApril yang cukup menggemparkan di seputaran Monas Jakarta, tepatnya di Tugu Tani sana. Yaitu sebuah kecelakaan yang langsung mampu menerbangkan sejumlah 9 nyawa manusia.

Bukan main-main kejadian itu, pasalnya yang meninggal adalah justru mereka yang tertib dan tak melakukan sedikit kesalahan pun pelanggaran di depan mata. Ya, karena ulah sebuah minibus ber-merk xenia yang di kendarai oleh @siNengApril  a.k.a Apriyani Susanti ini maka tragedi itu acapkali juga disebut sebagai xeniamaut.

Akibat kejadian ini banyak dari kita sempat dihebohkan olehnya, baik media massa pun penggiat dunia maya ramai-ramai memberitakannya.  Saya hanya mampu mengamati, membaca dan terus menyimaknya, walaupun kebenarannya  saya sudah terlalu capek lantaran sedikit banyak jadi ikut terkena getahnya. Apalagi ketika bertugas di kantor harus juga handling  sedikit hal yang tak jauh dari permasalahan ini.

Karena kehebohan ini maka apa yang terlintas dibenak saya hanyalah satu, its real that good news is bad news…! It happens  in front of my eyes..!

.

Rambu Lantas


Saya emmang menyengajakan-diri melampirkan sebuah illustrasi berujud gambar rambu-rambu lalu-lintas dan bukannya hal  yang berhubungan langsung dengan berita. Ada beberapa alasan yang ada dibenak, akan tetapi yang ingin saya kemukakan bahwa saya tak mau menambah keruh suasana, apalagi setelah berita mengenai siNengApril  ini  saya nilai terlalu berlebih dipublikasikan di banyak media, baik media massa pun media sosial warga.

Mungkin apa yang akan tertulis  di sini tak begitu  mendapatkan tanggapan seheboh apabila saya menuliskan ikhwal kronologi kejadiannya.  Tapi biarkanlah, memang itu adalah hal yang saya niatkan sedari awal.

***
Sebagian dari Anda, teman-teman tercintaku semua mungkin juga telah mencoba memanfaatkan mesin pencari di internet ini guna memperoleh informasi tentang  siNengApril.  Maka yang akan ditemui adalah tak sedikitnya  perbendaharaan kata menjurus pada arah  menghujat, bahkan  ungkapan-makian. Istilah baru juga acapkali nongol. Saya sebut sebagai istilah baru lantaran kata-kata itu tak bisa saya temukan dari  kamus Poerwadarminta sekalipun.

Dalam hati saya hanya bergumam, tolong hentikan caci-maki itu.  Masihkah pantas kita ini dikatakan bangsa beradab sebagaimana tercoret pada Pancasila jika cacia, makian, pun hujatan  itu terus dilakukan tanpa kendali..?

Opss, tapi lagi-lagi itu hanya sebatas gumaman saya dalam hati, tak lebih dari itu. Karena toh sayapun tak bisa begitu saja menyalahkan mereka yang mengumpat pun mencaci.  Alasannya, bisa saja yang mencaci adalah bagian dari teman, keluarga, ataupun sohib korban. Sayapun bisa merasakan kekesalan mereka karena toh teman, keluarga, ataupun sohibnya yang meninggal itu bisa dikatakan tak bersalah, namun kenapa harus menjadi korban oleh perbuatan siNengApril yang belakangan diketahui mengonsumsi narkoba sebelum mengendarai xenia-nya.

Hanya saja pada sisi lain saya lebih mau berkecenderungan  memerdekakan  aparat (utamanya kepolisian)  untuk  mengusut  agar jangan sampai kasus semacam  ini  lantas malah  menggemboskan  kasus  gendutnya rekening yang mereka miliki.

Itu adalah pada sisi aparat punggawa sereta birokrasi  negeri ini. Sementara semoga kita smeua juga masih mau memicingkan mata pada sisi yang tak jauh dari kehidupan kita sehari-hari.

Berbicara pada kecelakaan xenia maut di Tugu Tani ada hal yang tak bisa kita tinggalkan begitu saja mengenai keadaan halte pun trotoar sebagai tempat meninggalnya 9 orang itu.

Sudah benar adanya bahwa para pejalan kaki (pedestrian) yang baru saja main futsal di Lapangan Monas itu melalui jalan trotoar, ya trotoar adalah lajur para pejalan kaki. Begitu juga mereka yang duduk di halte Tugu Tani, entah mereka sekedar menunggu teman, melihat-lihat keadaan pun sedang menunggu angkutan umum, toh mereka adalah bukan orang yang layak disalahkan lalu harus menerima kematian akibat kecelakaan xenia maut oleh siNengApril  itu.

Kejadian yang dilakoni oleh  siNengApril  a.k.a Apriyani Susanti  memang ada banyak kejanggalan mengenai pelanggaran peraturan. Dari yang tidak melengkapi STNK pun membekali SIM tatkala mengemudi, hingga  berkeadaan  terpengaruh minuman keras pun narkoba. Ini adalah kesalahan bertumpuk yang tak bisa begitu saja mampu ditebus dengan uang. Keadilan adalah hal yang masih mahal, namun itu selalu tetap ditunggu, utamanya oleh wong cilik.

Melihat alur trotoar sebagai lajur pejalan kaki serta halte bus sebagai tempat menunggu adalah hal yang tepat secara manfaat pun kegunaan. Akan tetapi tak jarang justru sebagian dari masyarakat kita ini syah-syah saja mendirikan warung tenda, grobak (jualan) rokok, etalase (jualan) pulsa, dan hal semacamnya.   Payahnya lagi hal-hal semacam ini tak sesegera mungkin dilihat oleh pemerintahan negeri ini sebagai satu bentuk permasalahan didepan mata.  Bahwa hal ini sudah menyalahi aturan.

Pemerintahan melalui kamtibnya baru bertindak setelah di tempat itu terjadi kerumunan pun keramaian yang bukan tidak mungkin itu terjadi akibat transaksi jual beli tadi.  Sungguh satu tindakan yang kesiangan kan..?

Ya, sampai disini ada yang ingin saya garis bawahi yaitu tentang “tak mau menghujat serta mencaci-maki” kali ini. Ditambah lagi sehubungan dengan gambar illustrasi yang saya lampirkan. Silahkan kalau mau dikatakan sok bijak. Hanya saja  sambil juga mengingatkan pada diri sendiri, bukankah akan lebih baik  agar kita tetap taat pada peraturan, karena toh feedback-nya bukan pada orang lain, akan tetapi tetap kembali lagi pada diri kita ini. [uth]

_______________________________________________________________________________________

Tautan pada akun siNengApril mengalami link-break lantaran akun twitter siNengApril  tersebut sudah disable sejak sekitar 2 hari sebelum journal ini publish.



Berbagi adalah Peduli...