Empat tahun sudah lamanya jalinan rumah tangga itu berlangsung, sepasang buah hati laki-laki dan perempuan telah dihadiahkan olehNYA. Bisa dibilang lengkap sudah kebahagiaan keluarga ini dengan Rahmat yang tidak setiap keluarga bisa peroleh.
Bukan satu alasan, entah direncanakan atau tidak, yang jelas saat menginjak tahun yang kesebelas sesosok janin tertanam lagi dalam alam kandungan Ibu. Ini berarti jarak anak kedua dan anak ketiga yang akan hadir adalah tujuh tahun, terlalu jauh jika dibandingkan dengan jarak anak pertama ke anak kedua.
Ketika menginjak usia yang kesembilan bulan dalam kandungan itu, Ibu mulai menghitung hari…….
Menunggu hari yang katanya membawa banyak Barokah. Kamis malam Jumat, masih belum juga ada tanda-tanda akan kelahirannya…Jum’at pagi sampai dengan siang tak kunjung tiba…
Dan karena kata kebanyakan orang, Sabtu Pon bukan hari yang bagus, pada Jumat malam Sabtu itupun Ibu tak terlalu mengharap akan kehadiranku meski kalau pun harus malam itu tak bakalan mampu untuk ditolaknya….
Terkabul sudah permohonannya… Ya, Sabtu Pon malam Minggu Wage, seonggok makhluk Tuhan yang telah ditiupkan rohNYA mulai menghirup udara dunia ini.
Di berikannya nama yang sebenarnya sangat bagus itu, tiga. Selain Ibu suka bilangan ganjil tapi juga karena dia memang anak yang telah dilahirkannya untuk yang ketiga kalinya. Mengharap kelak bisa menjadi seorang kesatria pemberani yang juga mampu memimpin dengan jujur dan bertanggung jawab serta mau mengakui akan segala salah bila itu diperbuatnya, seperi kisah pada pementasan ketoprak yang sering di tontonnya bergelar haryo diperankan oleh selebriti terkenal saat itu “Widayat”
Ternyata, harapan menggelora yang ditempatkan didalam deretan kata sang sekerta namaku itu hancur berserakan. Awal sekolah taman kanak-kanak saja sudah mulai membuat ulah akan syarat yang kuajukan pada orang yang tak mampu secara financial, ibuku. Menginjak bocah yang dititipkan untuk mengaji agama pada setiap bakda Maghrib malah bikin kelompok petak umpet hingga larut malam. Kejadian itu jelaslah membuat kecewa akan harapan yang ditumpukan kepada anak dari seorang ibu.
Sementara tanggung jawab yang diembannya bukanlah hanya semata sebagai penopang dan pelengkap sebuah bahtera rumah tangga. Memberi pengertian pada orang tua yang terlalu mencampuri urusan keluarga. Ngemong seorang suami yang sudah cacat secara mental juga banyak kemauan yang bukannya menunjukkan bentuk pertanggungjawaban sebagai kepala keluarga. Dan juga mengasuh satu anak perempuan yang diharap mampu membantu urusan dapur dan mendidik dua adik laki-lakinya yang memang sangat bandel.
Kalau boleh di bilang Bapak hanyalah simbul satu bahtera yang di sebut keluarga, karena keadaan yang dapat aku rasakan adalah bahwa Ibuku adalah yang sebenar-benarnya kepala keluargaku… Sangat aku syukuri keadaan dan kesabaran seorang ibu itu atas segala nasib yang diterimanya. Tanpa lelah seorang diri beliau membuat segala keputusan dan memberikan kasih sayang, juga memperhatikan akan nasib pendidikan yang harus ditempuh oleh ketiga anaknya. Meski status pekerjaannya bergelar Tani namun beliau hanyalah petani penggarap sehingga secara keuangan memang sudah selayaknya dikategorikan sebagai keluarga fakir miskin,diperkuat lagi setiap Puasa menjelang Lebaran kami bukannya membayar namuan sebaliknya kami selalu menerima Zakat Fitrah. Tapi untuk urusan ilmu beliau sangat peduli. “Jangan sampai anak-anakku kelak bernasib sama dengan keadaanku, maka belajarlah supaya nggak jadi orang goblok seperti aku” itu kata yang berulang-ulang di pesankan kepada kami.
Beliau memang tidak terlalu tahu tentang ilmu pengetahuan, tapi bukan berarti tidak tahu juga akan ilmu hidup. Pelajaran hidup selalu beliau ajarkan kepada kami. Pelajaran yang tidak butuh kata-kata untuk menjelaskannya. “Gendhuk, Thole ora usah Simbok kudu njlentrehake kareben kowe kabeh padha ngerti, nanging mbesuk awakmu gedhe mesthi kelingan apa sing dilakoni Simbokmu iki…”
***”Gendhuk n Thole tidak usah Ibumu harus menjelaskan supaya kalian semua mengerti, Tapi besuk pada saatnya kalian dewasa pasti ingat yang selanjutnya bisa berpikir apa yang Ibumu ini lakukan…” [uth]
ooO0Ooo



















maafkan kami ibuuuu, hiks….
Just getting mytears dropped…….
sabar mas…
ayo bangun dan tunjukan pada ibu…klu dirimu mampu dan bisa melakuakn spr nasehat ibu…
makasih mBak Laras….
Just speechless, when I have to talk about my mom…
Yup, kenapa Rasulalah meletakan Ibu jadi orang pertama yang wajib dihormati anaknya sebelum seorang ayah, karena begitu besar pengorbanan yang diberikannya.
Mengutip dari kata2 Pak MT: “Bila bayi kecil, lucu, harum, dan ceria itu kemudian menjadi seorang profesional atau pebisnis yang cemerlang dan mulia pribadinya; maka langit pun tidak bisa menjadi atap dari tingginya pujian yang terharuskan bagi seorang ibu.”
Yups makasih Pak Toha…
Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa….bagai sang surya menyinari dunia
Ibu, engkaulah ratu hatiku…
maztrie
Thanks Anaz…