Ibuku kepala keluargaku [tetralogi]

Ibuku kepala keluargaku.

Empat tahun sudah lamanya jalinan rumah tangga itu berlangsung, sepasang  buah hati laki-laki dan perempuan telah dihadiahkan oleh-Nya. Bisa dibilang lengkap sudah kebahagiaan keluarga ini dengan Rahmat yang tidak setiap keluarga bisa peroleh.

Bukan satu alasan, entah direncanakan atau tidak, yang jelas saat menginjak tahun yang kesebelas sesosok janin tertanam lagi dalam alam kandungan Ibu. Ini berarti jarak anak kedua dan anak ketiga yang akan hadir adalah tujuh tahun, terlalu jauh jika dibandingkan dengan jarak anak pertama ke anak kedua.

Ketika menginjak usia sembilan bulan dalam kandungan itu, Ibu mulai menghitung hari.

Menunggu hari yang katanya membawa banyak berkah.

Kamis malam Jumat, masih belum juga ada tanda-tanda akan kelahirannya.

Jum’at pagi sampai dengan siang tak kunjung tiba

Dan karena kata kebanyakan orang, Sabtu Pon bukan termasuk hari yang bagus, maka pada Jumat malam Sabtunya Ibupun tak terlalu berharap akan kehadiranku. Meskipun kalau harus malam itu tiba, mungkin Ibupun tiada kuasa  menolaknya.

Terkabul sudah permohonannya. Ya, Sabtu Pon malam Minggu Wage, seonggok makhluk Tuhan yang telah ditiupkan roh-Nya mulai menghirup udara dunia ini.

Di berikannya nama yang sebenarnya sangat bagus itu.

Tiga. Bilangan itu tersematkan selain Ibu suka bilangan ganjil, ada juga alasan lain; yaitu karena memang anak itu adalah sosok yang telah dilahirkannya untuk yang ketiga kalinya. Mengharap kelak bisa menjadi seorang kesatria pemberani yang juga mampu memimpin dengan jujur dan bertanggung jawab serta mau mengakui akan segala salah bila itu adalah hal  yang diperbuatnya. Hal ini selaras dengan kisah pada pementasan ketoprak yang sering di tontonnya bergelar Haryo diperankan oleh selebriti terkenal saat itu, “Widayat”.

Sayangnya, beriringan dengan waktu, harapan menggelora yang ditempatkan didalam deretan kata sang skerta namaku itu hancur berserakan.

Awal sekolah taman kanak-kanak saja sudah mulai membuat ulah akan syarat yang kuajukan pada orang yang tak mampu secara financial, ibuku. Menginjak bocah yang dititipkan untuk mengaji agama pada setiap bakda Maghrib malah bikin kelompok petak umpet hingga larut malam. Kejadian itu jelaslah membuat kecewa akan harapan yang ditumpukan kepada anak dari seorang ibu.

Sementara tanggung jawab yang diembannya bukanlah hanya semata sebagai penopang dan pelengkap sebuah bahtera rumah tangga. Ada banyak hal yang harus digelutinya.

Dari memberi pengertian pada orang tua yang terlalu mencampuri urusan keluarga. Lalu Ngemong seorang suami yang sudah cacat secara mental juga banyak kemauan yang bukannya menunjukkan bentuk pertanggungjawaban sebagai kepala keluarga. Dan juga mengasuh satu anak perempuan yang diharap mampu membantu urusan dapur dan mendidik dua adik laki-lakinya yang memang sangat bandel.

Kalau boleh di bilang Bapak hanyalah simbul satu bahtera yang di sebut keluarga, karena keadaan yang dapat aku rasakan adalah bahwa  ibuku kepala keluargaku, sebenar-benarnya kepala keluargaku.

Sangat aku syukuri keadaan dan kesabaran seorang ibu atas segala nasib yang diterimanya. Tanpa lelah seorang diri beliau membuat segala keputusan dan memberikan kasih sayang, juga memperhatikan akan nasib pendidikan yang harus ditempuh oleh ketiga anaknya.

Padahal ada beberapa hal yang keadaannya masih jauh dari kelayakan sebuah penghasilan yang musti dikeluarkan. Sebut saja, meski status pekerjaannya adalah tani namun toh beliau hanyalah petani penggarap. Sehingga secara keuangan memang lebih cenderung  dikategorikan sebagai bagian dari keluarga fakir-miskin.

Hal itu diperkuat lagi bahwa ketika bulan Puasa -menjelang Lebaran- kami bukannya membayar Zakat, akan tetapi sebaliknya, kami memang selalu menerima Zakat Fitrah.

Itulah latarbelakang ibu, hanya saja meski dikondisikan seperti itu, untuk urusan ilmu beliau tetap sangat peduli.

“Jangan sampai anak-anakku kelak bernasib sama dengan keadaanku, maka belajarlah supaya nggak jadi orang goblok seperti aku” itu kata yang berulang-ulang di pesankan kepada kami.

Beliau memang tidak terlalu tahu tentang ilmu pengetahuan, tapi bukan berarti tidak tahu juga akan ilmu hidup.

Pelajaran hidup selalu beliau ajarkan kepada kami. Pelajaran yang tidak butuh kata-kata untuk menjelaskannya.

“Gendhuk lan Tholé ora usah Simbok kudu njlèntrèhaké karebèn kowé kabèh padha ngerti, nanging mbésuk awakmu gedhé mesthi kèlingan apa sing dilakoni Simbokmu iki..!”

Gendhuk dan Thole tidak usah Ibumu harus menjelaskan supaya kalian semua mengerti, Tapi besuk pada saatnya kalian dewasa pasti ingat yang selanjutnya bisa berpikir apa yang Ibumu  lakukan ini..!”  [uth]

_______________________________________________

Illustration of  Ibuku kepala keluargaku is taken from google[dot]com



Berbagi adalah Peduli...