Cinta Ikhlas Kejujuran dan Kepercayaan mengawali pemikiran liar kali ini, dimana tadi malam saat blog-walking saya menemukan beberapa tulisan-tulisan yang dicantumkan oleh beberapa teman.
Pokok bahasan yang bisa saya tangkap yaitu mengenai cinta dengan diiringi “kendaraan jujur” disertai harapan mampu meraih tempat yang bernama ikhlas.
semanggi
‘
Berawal dari notesnya si Gundhul, yang berbunyi “What I can hardly find is honesty and trustworthy” membuat saya teringat tulisan mBakyu There, yaitu mengenai pohon Semanggi. Pohon yang sangat mudah bisa kita temukan disawah.
Daun semanggi normalnya berhelai 3, walaupun tak menutup kemungkinan ada juga yang berhelai 4. Dimana daun semanggi yang berhelai empat, dianggap sebagai pertanda kebaikan. Daun semanggi berhelai empat ini konon adalah variasi yang jarang ditemukan pada tanaman semanggi pada umumnya.
Menurut cerita atau mitos, daun seperti itu membawa keberuntungan bagi mereka yang menemukannya. Melihat daun semanggi tersebut, tanpa kita sadari semua membawa bahan pelajaran dari Tuhan yang patut kita telaah. Dari daun semanggi berhelai empat tersebut, setiap lembarnya mempunyai arti:
- Yang pertama adalah harapan,
- Yang kedua adalah untuk iman,
- Yang ketiga adalah cinta,
- Dan keempat adalah keberuntungan
Daun semanggi berhelai tiga
‘
Lain dari itu, daun semanggi berhelai tiga tetaplah istimewa, lantaran oleh Saint Patrick daun berhelai tiga ini disebut juga sebagai “Shamrock“ yang selanjutnya digunakan untuk menjelaskan tentang Tritunggal Mahakudus.
St Patrick menggunakan simbol Shamrock atau semanggi berhelai tiga untuk menjelaskan konsep Tri Tritunggal maha Kudus, – bahwa Allah itu terdiri dari tiga entitas – Bapa, Anak dan Roh Kudus – seperti shamrock memiliki tiga daun tapi satu batang.
Menilik tentang Tritunggal, yaitu yang menyebut tentang harapan, iman, juga cinta, ternyata tak dapat kita pungkiri jika ketiganya terdapat satu hubungan yang sejajar dan saling support.
Sebelum cinta itu ada saya pikir tersedia hal-hal yang bersifat harapan, sementara harapan ini bukankah juga similar dengan do’a..?
“Saya berharap teman-temanku semua selalu dalam keadaan sehat setiap saat”, (menurut saya) asumsi serupa adalah “saya berdoa temen-temenku selalu dalam keadaan sehat setiap saat”
Dengan doa ini satu bentuk iman sudah dengan otomatis mengalir menjadi kendaraan sebagai tumpangan menuju satu tempat bernama cinta.
Ini bukan semata cinta antar gender, laki dan perempuan, akan tetapi sangat berarti sekali apabila kita juga mampu merasakan Cinta-Nya lewat kedua orang tua kita. Sehingga akan besar kemungkinan hal tersebut selanjutnya menuju rasa ikhlas.
Dan sebagai bahan tambahan informasi, bahwa Bung Karno pun dengan idenya membuat jembatan semanggi itu adalah juga karena filosofi daun semanggi, yang melambangkan sebuah kesatuan
–iii-iii-iii–
Cinta Ikhlas Kejujuran dan Kepercayaan
Sebuah bait dari sebuah serat (Jawa) bakal terlampirkan dibawah ini, tak lain karena masih ada hubungannya dengan petuah yang berujud wewaler dari para sesepuh serta pinisepuh terdahulu.
Bait tembang tersebut berbunyi,
Lila lamun
Kelangan nora gegetun
Trima yen kataman
Sak serik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara
Bisa saya alih bahasakan:
Terus merasa selalu rela = tulus = ikhlas tatkala kehilangan… jika pun terpaksanya memang telah kehilangan agar selalu merasa pasrah tanpa perasaan menyesal terhadap apa yang sudah dialami… Tanpa ada rasa benci kepada semua hal, adalah lebih baik apabila bisa “legawa” (mampu menerima) dan bersifat berpasrah mengembalikannya kepada kuasa Sang Semesta.
Kata “legawa” yang berarti mampu menerima, dalam konsep Ikhlas saya rasa mengandung seruan untuk kita agar selalu bisa menerima apa yang menjadi kehendak-Nya. NRIMA ING PANDUM, URIP KADYA ILINING BANYU, menerima apa yang telah di berikanNYA, hidup bagaikan aliran air…
Jika diatas dikemukakan tentang Tritunggal Mahakudus maka coba sedikit kita kupas juga mengenai kandungan Surat Al-Ikhlas yang tentu saja ada korelasi dengan satu bentuk keikhlasan.
Surat Al-Ikhlas adalah surat yang membicarakan tentang Tuhan (baca: Alloh), maka sudah sepantasnya jika kita musti rela dalam memurnikan-Nya. Dalam Surat Ikhlas tersebut DIA hanya berbicara tentang pribadi-Nya, tanpa berbicara menyangkut tentang hukum ataupun yang lainnya. Hal ini bukan dalam kerangka satu kesombongan namun saya rasa lebih dari satu sikap KEJUJURAN sebagai kesaksian-Nya.
Ya. Kejujuran itulah salah satu yang mustinya kita bisa dan wajib lakukan.
Memang adakalanya tak mudah bisa menerima keadaan sehubungan dengan kejujuran. Itu adalah juga bagian dari resiko satu kejujuran yang wajib dihadapi, namun sekali lagi jika kita mampu menerapkannya secara bijak, rasa kecewa itu hanya sebagai kembang hidup saja. Bakalan lebih bisa berlaku dewasa karena hal pahit menyangkut keadaan yang diterima akibat kejujuran mampu dikelolanya.
Lain halnya jika sudah diawali ketidak jujuran, meskipun itu bukan berarti satu kebohongan mutlak namun saya menjamin ketidak-jujuran selanjutnya bakalan tampil mengiringinya. Sebagaimana kebohongan, bukankah satu ketidakjujuran bakalan menimbulkan ketidakjujuran lain…?
Saya masih sangat sepakat apabila satu kebaikan bakalan kita peroleh ketika kita juga banyak memberikan kebaikan. Begitu juga kita akan mendapatkan hal yg buruk, kalau kita memberikan hal yang buruk pula.
Dari pengalaman yang ada, mungkin telah banyak bukti bahwa satu kepercayaan juga mampu diraih atas dasar kejujuran
Kembali pada satu bentuk ketulusan, kerelaan, keikhlasan. Dimana satu bentuk itu memanglah sangat berat kita jalani jika tanpa disertai adanya niat. Hanya saja semoga niat mau belajar memperbaiki diri sendiri masih kita miliki, sehingga kita akan sellau tersadarkan. [uth]
Jelma (‘Jalma’) tidak lain hanyalah ‘ngunjjal mangsa’ (sesenggukan nafas penghidup waktu).
Manusia (‘Manungsa’), Mapaning Namung Sadrema (Tempatnya hanyalah Sekedar melakoni)
***















{ 2 comments… read them below or add one }
Susahnya untuk ikhlas mas..
Walaupun hati menyuruh ikhlas, tapi pikiran selalu mendoakan, “semoga engkau tidak bahagia” Kepada orang yang harusnya diikhlaskan untuk pergi.
Manusiawi kok Yuk,
Sangat2 bisa dipahami, apalagi kalau masih menghadapinya, dan belum lama beranjak dari “keputusan” untuk pergi tsb.
Yang menjadi masalah adalah jika musti “keterusan” membencinya. Bukankah kalau hal itu dilakukan maka hanya serupa dengan memupuk rasa dendam..?
Dan bukankah “dendam” itu tak akan ada akhir kebaikannya…? So, ngapain musti diterusin..?
Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat untuk diteruskan demi melihat hasil baik Yukk…
Come On..!