Exercise dan evaluasi dalam keseimbangan cinta

by Maztrie on 28 December 2010

Exercise dan evaluasi dalam keseimbangan cinta

Liburan akhir tahun merasa sedikit lebih asyik pada saat ada sedikit waktu saya sisihkan didapur. Dan kegiatan mengupas bawang ternyata mampu memberikan makna kembali demi mengingatkan tentang pesan yang pernah saya peroleh dari para orang tua dahulu.

ikanmasteri.com Yin dan Yang

Bawang (merah) kita kupas dari keadaan yang kotor pada kulit terluarnya, kemudian berlanjut pada keadaan kulit selanjutnya agar menemukan wujud bawang terbersih. Ketika hal ini kita lakukan tanpa henti pada keadaan merahnya kulit menuju putihnya warna bawang tersebut, maka dipenghabisan nanti yang tersisa tinggalah kosong dengan menyisakan air mata.

Dalam kehidupan sedari terlahirnya kita didunia ini layaklah apabila menggali kembali dualitas warna dari keadaan bawang (merah) diatas, tercipta dari beberapa unsur yang berulang-ulang serta berlapis. Ada siang terdapat malam, tercipta besar tak ketinggalan yang kecil, ada arah barat pun timur, dan masih banyak lagi dualitas hidup lainnya tak terkecuali material pun spiritual. Sekali lagi, semoga kita masih mampu mengisi waktu akhir tahun ini dengan bersama belajar serta menggalinya.


Sasmitaning ngaurip puniki,
mapan ewuh yen ora weruha,
tan jumeneng ing uripe
Akeh kang ngaku-aku,
pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa
Rasa kang satuhu, rasaning rasa punika,
Upayanen darapon sampurna ugi, Ing kauripanira

Tanda hidup ini,
Apabila tidak dimengerti,
Tak akan bermakna hidupnya
Banyak yang merasa sudah tahu atau paham,
Tahu tentang rasa, padahal belum tahu benar Tentang “Rasa Sejati”,
Rasa sejati adalah rasanya rasa itu sendiri,
Berjalanlah supaya menjadi sempurna dalam hidupmu

Serat Wulangreh, Dhandhanggula – 2

Alam semesta beserta kehidupannya ini tak terlepas pada yang namanya unsur material, sebagaimana kita semua dulu sempat belajar mengenai ilmu fisika pun kimia yaitu dengan pokok bahasan galaksi, bintang, bumi, matahari, bulan dan masih banyak lagi unsur lainnya. Dari beberapa ilmu juga mungkin kita bakal menemukan satu unsur spiritual yang entah dengan kesepakatan dari mana akhirnya kita sebut itu semua dengan nama Tuhan.

Dari argumentasi diatas silahkan jika saya dianggap sebagai kaum kafirin karena telah menganalogikan bahwa material pada diri kita manusia ini adalah tubuh sementara spiritualnya ada pada jiwa, sehingga tak lain dan tak bukan keberadaan Tuhan itu tak jauh dari keberadaannya jiwa kita, manusia.

Masih dalam rangka perenungan, mengawali kehidupan manusia yang bertebaran dimuka bumi dengan suara tangis bayi dimana hampir semua tangisan itu seirama, maka semoga bukan satu kesalahan juga bila saya kemukakan bahwa universalitas yang diwakili oleh (tangis) sang bayi itu juga mewakili kesamaan pun ketidaksamaan antar kita sesama manusia. Bahwa tubuh ini tercipta dari sekumpulan atom-atom, molekul-molekul, mineral, protein, multivitamin dan unsur-unsur lain. Hal ini tak jauh berbeda dengan sosok patung yang acapkali kita lihat, dibangun dari material berujud batu (bata), rangka besi, semen, pasir, dan juga bahan lain yang kesemuanya termasuk dalam kategori benda tak hidup.

Setelah melihat kenyataan diatas maka sudah pasti yang ada dibenak kita adalah satu kalimat tanya, “Lalu sesungguhnya apa dan siapa sih yang membuat tubuh ini tumbuh dan berkembang dari bayi lalu menjadi dewasa, serta tua…?”

Saat mencari jawaban atas kalimat tanya ini, mari kita kembali lagi pada satu pemahaman dualitas diri bahwa wujud material itu memang tak bisa lepas dari keberadaan spiritual. Material adalah Zat tak hidup, sementara spiritual dapat kita definisikan sebagai tenaga pembangkit (energi) yang mampu memberikan rangsangan bagi perkembangan.
Menyangkut unsur energi sepertinya belum pernah saya lihat ada satu teori penyangkalan pada “hukum kekekalan energi”. Bahwa energi tak pernah habis, energi ada dimana mana demi mengisi ruang dan waktu.

Dari pemikiran para ahli fisika pun kimia juga ilmu alam lainnya ini saya mengambil kesimpulan bahwa pada ranah rohaniah inilah yang secara spiritual saya sebut dengan keberadaan Tuhan. Pada poin ini saya persilahkan pada teman tercintaku untuk melanjutkan perenungan seiring tulisan ini, pun saya tak mewajibkan anda semua yang tak sepaham dengan saya melanjutkannya, saya merdekakan pemahaman anda karena saya anggap itu adalah juga bagian dalam rangka mewarnai bumi dan kehidupanNYA.

Proses perkembangan diri pada sosok tubuh manusia menyangkut material pun spiritual kebenarannya adalah sama, yang membedakan hanyalah kualitasnya. Jika kita bagi material terdiri dari bentuk fisik tubuh, spiritual adalah Jiwa, maka pikiran kita adalah pengendali dari keduanya.
Demi kualitas diri, sudah barang tentu itu semua memerlukan latihan (exercise) dan juga pengujian (evaluasi).
Exercise dan evaluasi tubuh bisa kita lihat dari asupan makanan, gizi, vitamin dan protein kedalam sosok tubuh manusia ini, sementara exercise dan evaluasi jiwa terletak pada olah spiritual, sebagai contoh adalah puasa demi membuka jalan jiwa menuju perkembanganNYA itu sendiri.

Perkembangan tubuh yang sehat dan kuat adalah bukan satu kekeliruan, begitu juga pertumbuhan jiwa agar tak luput dari perilaku gila dan hilang ingatan adalah hal yang benar adanya. Namun keberadaan pikiran yang menempatkan diri pada otak juga sudah selayaknya tak bisa kita abaikan, tentu demi kecerdasan dan penambahan wawasan.

Memang pada kenyataannya kita bisa memilih satu diantara semuanya, namun bukankah demi high-qualty tentu tak boleh berat sebelah..? Akankah kita cukup dengan kegemukan badan…? Akankah kita puas dengan tingkat intelektualitas..? Ataukah kita hanya siap menjadi sadar dan terhindar dari sakit jiwa..?
Jawaban atas pertanyaan itu adalah bahwa kenyataan demi kualitas diri butuh asupan gizi yang berimbang, berimbang atas dasar pengendalian otak (pikiran). Karena otak sebagai pengendali juga tak luput dari exercise serta evaluasi.

Didunia nyata ini, banyak tersedia lembaga formal sebagai tempat berlatih dan menguji pikiran atas ide-ide serta gagasan kita, selain itu tak sedikit pula tempat yang bisa kita jadikan sarana dalam rangka mengembangkan sosok tubuh agar segar-bugar dan sehat secara jasmaniah. Namun kenyataan lain yang acapkali kita jumpai adalah kekerdilan-jiwa, tingkat reproduksi demi terciptanya energi kesadaran sebagai manusia sungguh terabaikan.

Bahwa kesejatian manusia tercipta ini tak jauh berbeda, yang menjadi pembeda hanya pada level manusia itu sendiri dengan tujuan keaneka-ragaman pola pikir. Sementara kesejatian itu bukan terletak pada “memilih benar atau salah” melainkan pada satu ide “benar atau salah dalam memilih” demi memanusiakan manusia (manungsak’ake manungsa), mungkin inilah yang dinamakan hasil dari perilaku yang telah lulus dari exercise serta evaluasi diri.

Pada ujung perenungan kesejatian diri, sepertinya sungguh bukan perilaku keseimbangan tatkala kita memperlakukan musuh yaitu dengan menyebutnya kafirin kepada manusia lain hanyaberdasar karena sosok umat lain itu berbeda (keyakinan).

Dalam keseimbangan dualitas yang disediakan oleh-Nya, yang ada hanyalah saling bersinergi, sebagaimana saat kita dilahirkan sebagai bayi, maka sifat sabar merawat dan perilaku mengasuh atas sikap feminim seorang Ibu semoga masih tercurahkan pada setiap diri kita ini. Sementara sikap Bapak yang maskulin dalam menjaga dan melindungi menjadikan diri kita mampu memaknai sisi-sisi teloransi. [uth]

***

Ilustrasi Exercise dan evaluasi dalam keseimbangan cinta diambil  dari SINI

Leave a Comment

Previous post:

Next post: