Keseimbangan bumi perilaku manusiawi

by Maztrie on 23 April 2011

Keseimbangan bumi tertulis berawal dari diunggahnya sebuah video di situs youtube. Briptu Norman, salah satu nama yang kebetulan masuk dalam daftar anggota aparat Brimob dengan teramat singkat bisa melejit secara instan. Lenggak-lenggok gayanya serta kecap bibir pada lip-sync melekat pada ingatan orang-orang yang pernah melihatnya.

Tak mau mennyia-nyiakan keadaan, institusi POLRI lewat sang Komandan tertinggipun langsung memanfaatkan keadaan ini. Memang tak secara terang-terangan diungkapkan dalam mengambil manfaat plus ini, akan tetapi tak harus dikatakan toh nuansa pengambilan keuntungan ini telah terbaca dengan jelas. Bahwa pihak aparat bersemboyankan “SIAP MELAYANI ANDA” ini ingin sedikit mengambil kesempatan tersebut guna memoles diri.

Pada sudut pandang tertentu mungkin kita (saya) akan dengan senang hati melihat aksi tersebut, karena dengan begitu kita (saya) bisa sedikit mengambil kesimpulan bahwa ternyata pihak aparat (yang seringnya) berbaju warna cokelat ini juga menyadari posisinya sudah teramat jauh dari perilaku abdi yang MELAYANI warga. Karena tak usah menutup mata toh saat ini sudah tak sedikit lagi warga justru merasa tak menjadi sahabat Polisi yang mustinya dilayani.

Pada awalnya mungkin banyak yang merasa senang dengan kehadiran pertunjukan berlakonkan ‘Briptu Norman’ tersebut, tak sedikit ibu-ibu dan anak kecil pun sampai menangis histeris dibuatnya, sementara dengan tanpa menutup keadaan banyak kaum perempuan yang berbaju Polwan pun saling berebutan untuk sekedar bisa melakukan pose dalam sessi photo bersama sang Briptu Norman.

Akan tetapi saat komposisi sudah berlebihan, ketika waktu yang digunakan untuk memoles diri sudah tak semestinya, dan ketika aksi hanya digunakan untuk terus mencari keuntungan sepihak (dalam hal ini satu institusi) tanpa melihat obyek lagi, maka itu menjadi satu hal yang tak lagi membuat keadaan semakin sehat dan bersahabat. Diri pelaku sebagai subyek tak jarang malah semakin menjadi buta mata dan buta hati, tak lagi memperhatikan keadaan diri sendiri. Masyarakat sebagai obyek yang awalnya bisa menikmati pun akhirnya bukan tambah simpati, namun justru ada kecenderungan benci karena merasa di-cekoki.

Saya rasa keadaan diatas bukan saja menjadi pekerjaan yang diakibatkan oleh tabiat institusi kepolisian yang menaungi korps Brimob, akan tetapi pihak media sebagai wahana dalam menyampaikan keadaan pun berita teramat kentara juga berperan disini. Semoga ini bisa dilihat dan diulas secara jeli lagi. Bukan sekedar nilai untung dan rugi pada materi, namun lain dari itu kondisi psikis tak layak jika harus diabaikan lagi.

Ketika melihat kenyataab yang ada, yaitu acapkalinya banyak media juga memantau serta mengkritisi tabiat para aparat berujud kepolisian dinegeri ini, kita akan merasa senang karena hak-hak perlindungan sebagai warga yang sering diabaikan ini akhirnya ada juga yang mau peduli. Namun pada tahap emmbandingkannya saat ini, khsusnya pada case Briptu Norman ini, bukankah tiada bedanya antara tabiat kebanyakan media dan juga aparat negeri ini…? Sebagai warga ternyata kita juga (sudah dipaksa) mendapatkan hak dicekoki pencitraan diri, demi keuntungan diri pula..!

Bentuk “keberimbangan” sebagai warga yang masih berujud manusia sungguh hal yang musti kita review kembali. Apa jadinya kalau kita juga turut larut dalam keadaan yang berlebih dan melupakan keseimbangan ini, yang kita butuh bukan satu berita apalagi hanya digunakan untuk mengambil keuntungan speihak semata, lebih dari itu, bukankah berita itu timbul sebagai wacana nyata atas perilaku satu obyek..? buat apa terlalu berkoar-koar sok dekat namun toh kenyataanya tak bersahabat…? Bagaimana mau menegakka perilaku bijaksana tatkala masih banyak aparat yang memandang ‘nilai bijak’ itu seharga nilai mata uang ‘rupiah..?’ (Mohon kebijaksanaan Bapak, kok ujung-ujungnya limapuluh ribu rupiah sihh…)

Sampai pada tahap keseimbangan ini, saya teringat fenomena ‘ulat bulu’ yang masih menjadi bahan berita heboh mendampingi berita ‘Briptu Norman’ .

Sedikit menyentil berita ‘ulat bulu’ , lalu menghubungkannya dengan “pola keseimbangan” perilaku hidup ini, sungguh kita juga tak bisa menutup mata dengan perilaku yang ada.

.

Ulat bulu

Ulat. berasal dari wujud telur, lalu menjelma menjadi kepompong, dan kemudian mengubah bentuknya menjadi kupu-kupu, begitu juga seterusnya kupu-kupu pun kembali berkembangbiak melalui telur dari induk-induknya. Proses ini adalah siklus/daur hidup yang menjadi salah satu keunikan dalam keseimbangan ekologi, karena itu ulat juga termasuk salah satu hewan yang menjadi salah satu rantai makanan dalam ekosistem bumi.

Menengok proses terjadinya kupu-kupu yang berasal dari ulat, dimana ada banyak macam ulat di kehidupan ini maka tak pelak akan banyak juga macamnya kupu-kupu, termasuk jenis kupu-kupu yang berasal dari ulat bulu didalamnya. Dan karena banyak macam ini pulalah maka akan banyak faktor yang memengaruhi pertumbuhannya, sebagai contoh adalah faktor lingkungan yang meliputi makanan, suhu, kelembaban, udara, air, dan cahaya matahari.

“Bumi ini cukup (bahkan berlebih) dalam menjamin hidup manusia dan kebutuhannya, tetapi bukan keserakahannya..!”

~Mahatma Gandhi

Argumentasi yang sempet diungkapkan oleh Mahatma Gandhi diatas ternyata telah banyak diabaikan. Pola hidup yang seimbang dan tak serakah dalam mengekploitasi serta mengekplorasi alam ini sudah teramat jarang di pedulikan lagi. Padahal kalau kita kembalikan pada kesejatian hidup bukan tidak mungkin kehancuran akan menimpa diri ketika nafsu menguasai selalu menjadi orientasi.

Kembali pada kejadian ulat bulu, ketika keseimbangan sudah tidak dijadikan kepedulian, mata rantai pada makanan pun sedikit-demi sedikit akan terkikis. Sebagai contoh adalah keberadaan burung sebagai pemakan ulat. Karena perubahan ekosistem yang sangat drastis apalagi ditambah dengan tabiat manusia atas perburuan yang dilakukan terus-menerus, yang terjadi pada kondisi burung adalah bermigrasi atau berpindah tempat pada wilayah yang memungkinkan mereka lebih mampu bertahan hidup.

Pada tabiat lain, tetap saja ada satu hubungan yang musti dilakukan guna memenuhi kebutuhan atas hasil pada perilaku sebelumnya. Sebut saja berburu burung sebagai contohnya. Kita tahu burung makanannya adalah juga ulat (bulu), namun selain itu ada juga burung yang dikasih umpan berujud serangga dan sebangsanya. Sebut juga semut merah (kroto) sebagai umpan burung tersebut. Guna memenuhi kebutuhan akan amkanan burung hasil buruan, tak pelak maka akan juga memburu semut merah, padahal yang kita tahu semut merah tersebut bukankah juga memakan telur/larva, dan didalamnya tentu saja termasuk telur ulat bulu.

Jika berbicara tentang kebutuhan pemenuhan hidup, memang tak bisa kita pungkiri, semua masih butuh demi menopang kehidupan dibumi ini. Akan tetapi adalah satu hal yang tak bisa dibenarkan tatkala kita melandasi kebutuhan hidup yang semakin meningkat ini lalu dengan serta merta memperlakukan tabiat semena-mena sementara disisi lain mengabaikan kadaan alam berimbang. Tak jauh dari tabiat para pencari citra dinegeri ini, adalah satu perilaku yang sungguh teramat tidak terpuji ketika kita mau mengikuti para penguasa (baca: pengusaha) bumi ini hanya berorientasi pada pengerukan materi, berprinsip semua bisa dibeli.

Sampai diakhir masih dalam aroma Hari Bumi (22/4), menyimak segala bentuk ketidak-berimbangan semoga mampu menjadikan kita semakin bisa memilih yang terbaik dalam melakukan tindakan, terutama mengenai dampak jangka panjang yang bakal dialami.

Itu semata-mata adalah harapan saya pribadi, sementara kemerdekaan masih tetap saya berlakukan disini. karena saya pikir semua pilihan sebenarnya berawal dari kita. Hanya saja pertanyaannya, apakah kita akan memilih bosan dan tak terlalu mengambil manfaat pada pemberitaan Briptu Norman Kamaru..?

Apakah kita akan menikmati banjir yang telah berulangkali menjadi sebagian tradisi negeri ini..? Ataukah kita selalu merasa gatal karena belum menyisihkan banyak waktu guna membahas ulat bulu yang seolah-olah lebih menggerogoti alam ini dibanding ulat bulu berujud manusia bertabiat korupsi…!!! [uth]

_______________________________________

Ilustrasi Keseimbangan bumi   diambil  dari sini

Leave a Comment

Previous post:

Next post: