Tentang Tuhan dari pakar dan ilmuwan

by Maztrie on 17 July 2009

Tak sedikit pemikiran tentang Tuhan dilontarkan lantaran memang banyak sekali orang pintar pada masa dewasa ini tak sungkan lagi membahasnya.

Ya, kalau pada masa lalu masih ada banyak yang mengenakan rasa “ewuh-pekewuh” alias merasa nggak enak pada para pemuka agama baik itu berujud pendeta, ulama, kiai, Biksu, dan sebutan semacamnya, maka tak bisa dipungkiri ilmupun mampu memberanikan pola pikir seseorang menjadikannya generasi pendobrak di jamannya.

Padahal hal itu kalau mau digali toh keseungguhannya juga pernah digali oleh orang-orang terdahulu. Baik para bijak yang tak pernah mau memunculkan diri disebut namanya ataupun mereka-mereka yang acapkali disebut sebagai seorang pakar serta ilmuwan ternama.

.

Augustinus

Augustinus mengatakan bahwa manusia mempunyai pengetahuan berawal dari pancaindera yang menangkap kesan dari semua keadaan dan peristiwa. Selanjutnya kesan tersebut dikirim ke otak dan dipikirkan juga olehnya (otak).
Menurut Augustinus juga, yang mengatur kesan-kesan tadi ialah pancaindera yang menuju batin kita (sensus interior). Diatas nya masih ada lagi sesuatu yang bernama ratio (Buddhi) yang memikirkan lebih lanjut kesan-kesan yang diterima oleh pancaindera-batin (sensus interior).

Sedangkan Ratio atau Buddhi ialah bagian tubuh manusia yang tertinggi. Tetapi kita harus mengakui bahwa kemungkinan masih ada sesuatu diatas Ratio, oleh karena kebenaran yang tetap dan tidak berubah-ubah adalah faham Matematis yang tentu datangnya bukanlah dari pancaindera.

Dan hal tersebut ditanggapi oleh sebagian besar dari umat manusia adalah sebagai “kebenaran Yang Maha Tinggi”

Kebenaran pasti dicintai oleh semua orang, karena memang kebenaran (yang tetap dan tidak berubah-ubah) akan memberi kebahagiaan kepada orang yang melakoninya.

Oleh Augustinus hal tersebut lebih cenderung dinamakan HIKMAH (wijsheid).

Kenyataan ini berada diatas Ratio, yang tak berubah dan abadi yaitu Tuhan karena diatas Tuhan memang tak ada lagi suatu Dzat.
Augustinus mempunyai kesimpulan;

Hikmah yang mengatasi ratio adalah Hikmah Yang Tertinggi, maka Tuhan dapat pula dibuktikan terhadap Ratio (Buddhi).

“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi dilangit dan dibumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati”  (Af Faathir 38)   [uth]

***

Tentang tuhan

{ 2 comments… read them below or add one }

Toha October 23, 2009 at 8:00 AM

Subhanallah…Tuhan-Ku…tidak ada satupun yang Engkau ciptakan sia-sia. Akan selalu ada Hikmah dibalik semua kejadian, jika kita berfikir.

Reply

maztrie October 24, 2009 at 9:35 PM

sip setuju..
makasih ya Mas…

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: