antara kritik dan introspeksi

  • Illustrasi: rumus fisika (www.fisikasolo.wordpress.com)

    tapi trus gue mikir lagi…     apakah kalau gue mengalami hal-hal menyakitkan dalam hidup…  lalu gue harus menyalahkan diri gue sendiri yang sudah melakukan hal apapun yang menyebabkan kesakitan itu?   well, mungkin iya harus ‘nyadar bahwa kita sendiri yang bertanggungjawab atas ‘kekalahan’ dalam hidup, tapi jangan juga sampe terpuruk berlebihan menyesali kali ya… harus menjadikan kekalahan sebagai pemicu langkah ke depan untuk lebih baik!    trus………  waktu gue “sesaat terpuruk”…     gue pasti menyesali banget-banget apa yang ‘udah gue lakukan…    merutuki hal-hal enggak guna yang ‘udah terjadi, lalu bilang bahwa sia-sia aja semua yang udah dilakukan, enggak ada gunanya! huhuhuuuu… yah gitu lah orang kalo lagi terpuruk biasanya menyalahkan apapun yang bisa disalahkan! hehehe… dan kalau ‘udah bangun dari “koma” baru deh bisa ketawa-ketawa, ih bodoh banget gue kog bisa begitu duluuuu…

Sengaja saya quote tulisan diatas dari rumah-blog sahabat tercintaku.
Hanya mau sedikit berceloteh dan maaf sekali karena tak begitu pandai dalam men-describe maka disini saya tak mau membahas celotehan dari sisi ilmu yang terbungkus pada satu kitab pendidikan formal apalagi yang berbau strata, hanya mau mencoba mendongeng dari pelajaran para sesepuh yang sempet saya terima.

Adalah satu kecenderungan yang sangat berat sekali pada saat kita seharusnya musti sadar-diri. Bisa metani keadaan didiri ini sebagai pengejawantahan koreksi dan atau mawas diri. Karena tak munafik kita sebagai manusia ini akan merasa sangat berat sekali apabila berkehendak untuk bisa melihat kesalahan sendiri. Kita akan lebih sibuk meneliti kesalahan serta kekhilafan orang lain, Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak mungkin kata-kata itulah yang sangat tepat buat kita (saya).

Dari perjalanan hidup seperti tersebut diatas ini saya teringat sebuah pepatah sebagai kendali, “mulat sarira hangrasa wani”. Yang mengandung arti tentang jati diri yang harus bisa mengkoreksi diri pula (mawas diri).

Memang pada dasarnya kita bisa mengkritik orang lain, hanya saja apabila hal demikian kita lakukan kita pun musti konsekuen tuk dapat menerima kritikan dari orang lain juga. Ora waton sulaya mungkin juga harus kita mulai dari diri. Artinya kritikan yang berdasar pada nilai sopan santun dan tenggang rasa tak boleh kita tinggalkan apabila kita pun ingin memperoleh perbuatan yang sama. Bukankah satu bentuk kesombongan apabila kita hanya mau mendamba sebuah sanjungan belaka..?

Panyendhu dan panyacad, Panyaruwe, serta pangudi hayu. Adalah kata-kata yang bermakna dari sebuah kritik dan saran yang telah diajarkan oleh para pendahulu.

  • Panyendhu dan panyacat adalah satu kritik yang (menurut pendapat saya) hanyalah sebentuk pengexpresian dari kelemahan yang bisa membuat sang obyek menjadi merah telinga.
  • Panyaruwe mungkin bisa dikategorikan sebagai tindakan bijak karena mampu menjadi penengah dari satu keadaan yang ditimbulkan oleh si pelaku yang (sebenarnya) memanglah pantas untuk dikritik. Disini sang panyaruwe lebih memilih pada posisi netral tanpa ada harapan, dilakukan ya mangga namun kalaupun tak dilakukan ya terserah, tak ada pemaksaan kehendak disana namun juga bukan berarti bentuk ketidakpedulian.
  • Yang mungkin agak berkonotasi positif adalah pangudi hayu, bisa didefinisikan sebagai satu ungkapan yang mengandung “saran” demi perbaikan bersama.

Melihat ungkapan-ungkapan sebagai petuah dari para pendahulu diatas sebenarnya sudah sangat layak pada saat demokrasi sebagai bentuk dari ranah keterbukaan ini diterapkan . Hanya saja mungkin yang wajib digarisbawahi adalah pemilihan bentuk yang disesuikan dengan karakter sang obyek. Empan nggo papan istilahnya, dimana tempat dan kepada siapa kritik dan atau saran tersebut musti disampaikan. Bisa memilih dan membedakan hal-hal apa saja yang musti kita terapkan pada si “A”, apakah Panyendhu, Panyaruwe, atau pangudi hayu. Begitu juga pada si “B”, si “C” dan yang lain-lainnya.

Yang paling aman buat diri sendiri adalah kembali pada jati diri. Bahwa kesejatian rasa ini disadari atau tidak kesemuanya bermula dari pribadi kita masing-masing. Bukankah apa yang kita petik adalah juga buah dari yang kita tanam…?
Dari sini saya pribadi berharap semoga saya dan teman-teman tercintaku semuanya termasuk orang-orang yang selalu bisa sadar diri untuk  bisa introspeksi dengan kelanjutan bisa berupaya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah ada.
Mulat sarira hangrasa wani
, pribadi yang berani melihat dirinya sendiri dan tidak menyibukkan diri untuk memikirkan kesalahan-kesalahan apa yang telah diperbuat orang lain. Bisakah kita…? [uth]

___________________
Illustrasi: rumus fisika

jamur (an hidup), ya ge ge thok jamur apa..?

Illustrasi: jamur tiram (www.ngangkrang.wordpress.com)

Mendengarkan lagu dolanan(mainan) “jamuran” membuat saya teringat masa-masa kecil dulu, saat bocah-bocah kecil seusia saya berkumpul yang biasanya dilakukan pada malam hari, malam bulan purnama. Sebenarnya banyak mainan yang kami lakukan, ada gobak sodor, ada cublak-cublak suweng, juga ada cangkriman…

Kali ini coba share mengenai jamuran

Jamuran adalah permainan yang dilakukan umumnya lebih dari 4 anak. Idealnya sekitar 10 anak. Permainan ini tidak membutuhkan peralatan bantu kecuali hanya tanah lapang atau halaman yang cukup luas. Pertama-tama yang kami  melakukan ‘hompipah’ untuk menentukan pemenang dan yang ‘dadi’ (jaga).  Anak yang kalah akan menjadi pemain ‘dadi’. Ia berposisi di tengah, sementara anak lain mengelilinginya sambil melingkar dan bergandengan tangan. Sambil mengelilingi dan bergerak memutar itu kami juga menyanyikan sebuah lagu secara bersamaan (koor), lagu jamuran tersebut lirycnya adalah sebagai berikut

  • jamuran, ya ge ge thok jamur apa,  ya ge ge thok jamur gajih mbejijih sak ara-ara,  semprat-semprit jamur apa…?

Setelah kalimat itu dinyanyikan kemudian yang dadi-jaga menyebutkan nama sebuah jamur, bisa jamur parut, jamur barat atau jamur lot kayu. Misalnya yang disebut jamur lot kayu, maka pemain yang mengelilingi tadi segera berlarian mengambil posisi mendekati barang barang yang terbuat dari kayu lalu dipeluknya. Nah jika ada anak-anak yang kebingungan dan tak segera mendapatkan kayu sebagai bahan pelukannya, mereka itulah yang menjadiu target yang “dadi” untuk ditangkap. Apabila telah tertangkap maka gantian yang menangkap itu yang jaga.
Jamur parut, saat itu disebutkan oleh yang “dadi” maka peserta lain mengambil posisi mengangkat kaki sebelah dengan catatan harus diam tak bersuara apalagi tertawa. Disini sebagai sasaran sang “dadi” adalah telapak kaki, telapak kaki tersebut bakalan digelitikin oleh yang “dadi” (jaga), jika yang digelitikin geli dan nggak bisa menahan suara apalagi  ketawa maka dia gantian jaga.
Begitu seterusnya…

Banyak yang dapat saya petik dari permainan seperti jamuran tersebut.
Pertama menyangkut pembelajaran tingkat wawasan dari yang “dadi”, apabila tak banyak pengetahuan utamanya mengenai jamur maka akan sangat lama dia menyebutkan jamur yang bakalan diperankan oleh sebagian temen yang sekaligus menjadi target operasi selanjutnya.
Dari sini pula dapat diambil pelajaran mengenai pergaulan sosial, tidak boleh egois, harus cekatan, banyak akal, dan tidak boleh cengeng.

Jamuran berasal dari kata dasar “jamur”. Jamur hanyalah tanaman yang tumbuh dan berkembang dari udara yang lembab, kadangkala keberadaan jamur cuma diasumsikan sebagai sosok pengganggu. Namun pada jenis jamur-jamur tertentu sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri, bisa sebagai bahan sayuran atau bahkan ada satu jenis jamur difungsikan sebagai bahan pokok obat-obatan.
Serupa dengan kita manusia yang teronggok laksana jamur didunia ini. Mau memposisikan diri dimana dan akan tumbuh berkembang sebagai jamur apa adalah satu pilihan bagi kita.

Kita bisa saja memposisikan diri sebagai jamur yang hanya berfungsi sebagai gulma. Artinya, jenis jamur ini hanyalah selalu mengganggu keberadaan kehidupan yang lainnya. Atau kita akan memilih sebagai jamur merang yang bisa dijadikan bahan pokok sayuran… Inilah pilihan kita

Jamur kebanyakan muncul dari tempat yang basah atau lembab juga kotor (kecuali kalau dibudidayakan lho). Seirama dengan kita diciptakan berujud manusia. Menurut kepercayaan yang saya yaqini kita ini berasal dari Nabi Adam dan Siti Hawa. Mereka berdua diturunkan ke bumi ini adalah sebagai buah dari perbuatan mengingkari kesepakatan dengan Tuhan karena telah memetik buah terlarang, buah Quldi. Apapun argumen yang ada itu yang mungkin saya harus pahami. Saya sebagai manusia keturunan Adam ternyata awal tumbuh didunia juga dari perbuatan kotor. Disini saya tak mewajibkan teman-teman untuk sependapat dengan saya, apabila ada dari temen-temen tercintaku lain berteori sebagaimana “teorinya mBah Darwin” pun saya persilakan.

Inilah hidup kita sebagai manusia laksana jamur itu berada, tak lama begitu tumbuh berkembang lalu mati, bisa saja matinya kita bermanfaat bagi orang lain, namun tak menutup kemungkinan kita hanya hidup sebagai jamur yang tumbuh berkembang dan lalu mati tanpa meninggalkan jejak apalagi manfaat bagi dunia kehidupan yang kita lalui.

Akan lebih celaka apabila kita hanya seperti jamur pakaian. Jamur yang tumbuh tersembunyi (didalam lemari misalnya) dan tanpa mau berbaur pada dunia luar.

Masih banyak jenis jamur didunia ini, menyangkut tingkat fungsiguna dan jenisnya kita dapat pelajari. Lalu  pertanyaannya pada jawaban pilihan ganda yang tersedia adalah terserah pada kita juga. Jawaban jamur A, Jamur B, Jamur C, Jamur D,dan Jamur E ada pada tingkat pemahaman perjalanan hidup kita… [uth]


Bagi temen-temen yang berkenan mendengarkan lagu ini silahkan ceklik STAR pada playlist diatas
________________
Illustrasi: jamur tiram