“Manusia diciptakan menurut citra Tuhan”, menurut kitab suci yang saya yakini.
Manusia mempunyai kemampuan untuk mencintai, sebab Tuhan adalah Tuhan yang mencintai.
Manusia diberi karunia hasrat untuk mencari kebenaran, sebab Tuhan adalah sumber kebenaran itu sendiri.
Semua karunia di dalam diri kita adalah “percikan Illahi”, yang mampu mengangkat kita lebih dari sekedar makhluk duniawi belaka.
Saya yakin, Tuhan menghadiahi kita kemampuan becanda dan tertawa untuk suatu tujuan tertentu.
Salah satu kekuatan humor adalah mencabut sudut pandang kita dari pola yang sudah mapan.
Humor mentertawakan segala sesuatu yang kita anggap sudah seharusnya demikian.
Seorang pelawak pernah berkata:”Salah satu pertanda kebijaksanaan manusia, adalah kemampuan untuk menertawakan dirinya sendiri”. [There Novitasari]
__________________
Membaca tulisan Yu ThereNobita diatas seakan saya merasa diingatkan akan satu hal tentang pembelajaran hidup yang saya tak tahu entah kapan harus menempuh ujian dari belajar tersebut. Bukan itu saja, saya juga tak tahu tentang jumlah SKS yang musti ditempuh.
Saya hanya merasa kembali pada masa kecil sewaktu hendak tidur di gendongan sambil mendengarkan sebuah kidung yang di ‘kudang’ kan sebagaimana tembang tak lelo lelo lelo ledhung. Tembang yang bagi saya mengandung arti sangat mendalam.
Dari sana banyak makna yang musti saya gali tentang keberadaan saya didunia ini sebagai manusia yang dicipta olehNYA. “Nyawa amung gadhuhan, raga amung titipan, dene bandha donya ya mung sampiran”
Satu kalimat tentang pokok bahasan yang (menurut saya) bisa disama-artikan bahwa keberadaan kita sebagai manusia dan benda-benda yang menghidupi kita ini hanyalah milikNYA naka nanti pada akhirnya juga bakalan kembali di ambil olehNYA.
Itulah kesejatian kita (saya) sebagai wujud yang dikatakan dengan sebutan “manusia”. Hanya saja kita ini agak lain dengan makhluk jenis lain CiptaanNYA. Kita dianugerahkan akal pikiran juga rasa. Akal ini bakalan berpikir menurut perkembangan yang ada, sebagai contoh dapat kita lihat pada saat dulu kita kecil, akal kita belum mampu untuk berpikir tentang hal-hal yang bersifat dewasa atau orang tua. Berpikir bentuk tanggungjawab berkeluarga misalnya, maka anak yang masih kecil belum sampai disana.
Namun rasa tak bisa dipungkiri, kita bakalan bisa merasakan manis meski kita belum bisa mengucapkan kata manis. Hanya saja rasa manis itu akan kita rasa apabila kita sudah pernah merasakan rasa selain manis, ada rasa pahit, rasa asem, rasa asin dan lain sebagainya. Itulah sejatinya rasa.
Naik satu tingkat pada rasanya sejati.
Saya sering memakan mangga, mangga muda sangat tepat apabila kita nikmati sebagai bahan untuk membikin menu rujak bersama buah-buah lainnya, rasa mangga muda lumayan ‘mak nyus’ karena mangga muda tersebut mengandung rasa asem. Namun sebaliknya, saat saya menikmati mangga yang sudah matang/masak, maka rasa yang bakalan di timbulkan kebanyakan adalah rasa manis. Tanpa saya cerita pun temen-temen pasti sudah lebih bisa memahaminya.
Itu adalah pembeda rasa dilidah kita tentang manis dan asem, sebatas di lidah.
Dalam belajar akan lebih baik apabila kita mampu memahami akan keberadaan sebuah hasil berdasarkan dari pengamatan sebuah proses. Angka lima ditambah angka dua akan berakhiran dengan angka tujuh, itu kita semua sudah tahu dan hapal. Namun alangkah lebih baik tatkala kita mengetahui darimana sih angka tujuh tadi didapat..? Oh ternyata lima ditambah satu itu sama dengan enam dan ditambah satu lagi berarti tujuh. Angka satu tadi dua kali kita tambahkan pada angka lima. Seperti itulah hendaknya kita dalam mengambil satu tindakan untuk menyikapi sebuah pemahaman.
Seirama dengan hal itu dapat pula kita terapkan pada buah mangga. Oh mangga itu pada saat muda ternyata berrasa asem, namun setelah kita rawat, kita jaga, kita beri suplemen berujud pupuk terbukti juga bakalan berakhir kepada kondisi tua yang tak lain adalah manis rasanya. Namun kita musti sadar akan rasa tadi, mau asem ataupun manis itu adalah rasanya buah mangga, bukan buah durian, apalagi buah rambutan. Rasa yang sejati dari buah Mangga ya tetep mangga!
Sebagian dari pembelajaran hidup adalah juga belajar dalam pemahaman.
Penerapan metode ini bukankah syah-syah saja apabila kita (saya) praktekan pada keberadaan Tuhan?, bahwa mau dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun yang namanya Dzat Tuhan itu ya tetep Dzat Tuhan. Dzat yang mampu mengkodisikan diri dalam semua situasi dan kondisi.
Achhh, maafkan saya temen-temen bukan maksud sok menggurui apalagi menasehati, dari sini berharap kita semua mampu menjalankan proses pembelajaran hidup. Belajar seiring waktu yang juga bakalan butuh kesabaran demi tercapainya rasa manis seperti yang ada pada rasa mangga masak tadi.
Dan dengan tetap belajar secara terus menerus semoga kita bisa lebih memahami arti keberadaan hidup didunia ini. Dimanapun dan kapanpun apabila terpaksanya menghadapi sebuah ujian dadakan dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, kita tetap mampu untuk mengerjakannya. Tentu tak lupa dengan memohon petunjuk dan juga memminta pertolonganNYA. [uth]
__________________________________________________________________________________________________
Duh Gusti Allah! Kawula nyuwun pitulungan, Awit namung paduka sak sae-saenipun pitulungan, Sanes (kagem menangipun) kawula, Paduka sak sae-saenipun ingkang mbikak, pramila kawula nyuwun ampunan. Paduka sak sae-saenipun pengampunan, nyuwun welas asih. Paduka sak sae-saenipun welas asih, paringana kawula rejeki. Paduka sak sae-saenipun ingkang peparing rejeki pramila nyuwun pitedah lan kaendar saking para kaum dzalim. (Qunut Nazilah)




