sejatinya rasa ya rasanya sejati

Illustrasi: mangga (www.bibitsuper.wordpress.com)
Illustrasi:mangga (www.bibitsuper.wordpress.com)

“Manusia diciptakan menurut citra Tuhan”, menurut kitab suci yang saya yakini.
Manusia mempunyai kemampuan untuk mencintai, sebab Tuhan adalah Tuhan yang mencintai.
Manusia diberi karunia hasrat untuk mencari kebenaran, sebab Tuhan adalah sumber kebenaran itu sendiri.
Semua karunia di dalam diri kita adalah “percikan Illahi”, yang mampu mengangkat kita lebih dari sekedar makhluk duniawi belaka.

Saya yakin, Tuhan menghadiahi kita kemampuan becanda dan tertawa untuk suatu tujuan tertentu.
Salah satu kekuatan humor adalah mencabut sudut pandang kita dari pola yang sudah mapan.
Humor mentertawakan segala sesuatu yang kita anggap sudah seharusnya demikian.
Seorang pelawak pernah berkata:”Salah satu pertanda kebijaksanaan manusia, adalah kemampuan untuk menertawakan dirinya sendiri”. [There Novitasari]

__________________
Membaca tulisan Yu ThereNobita diatas seakan saya merasa diingatkan akan satu hal tentang pembelajaran hidup yang saya tak tahu entah kapan harus menempuh ujian dari belajar tersebut. Bukan itu saja, saya juga tak tahu tentang jumlah SKS yang musti ditempuh.

Saya hanya merasa kembali pada masa kecil sewaktu hendak tidur di gendongan sambil mendengarkan sebuah kidung yang di ‘kudang’ kan sebagaimana tembang tak lelo lelo lelo ledhung. Tembang yang bagi saya mengandung arti sangat mendalam.

Dari sana banyak makna yang musti saya gali tentang keberadaan saya didunia ini sebagai manusia yang dicipta olehNYA. “Nyawa amung gadhuhan, raga amung titipan, dene bandha donya ya mung sampiran”
Satu kalimat tentang pokok bahasan yang (menurut saya) bisa disama-artikan bahwa keberadaan kita sebagai manusia dan benda-benda yang menghidupi kita ini hanyalah milikNYA naka nanti pada akhirnya juga bakalan kembali di ambil olehNYA.

Itulah kesejatian kita (saya) sebagai wujud yang dikatakan dengan sebutan “manusia”. Hanya saja kita ini agak lain dengan makhluk jenis lain CiptaanNYA. Kita dianugerahkan akal pikiran juga rasa. Akal ini bakalan berpikir menurut perkembangan yang ada, sebagai contoh dapat kita lihat pada saat dulu kita kecil, akal kita belum mampu untuk berpikir tentang hal-hal yang bersifat dewasa atau orang tua. Berpikir bentuk tanggungjawab berkeluarga misalnya, maka anak yang masih kecil belum sampai disana.
Namun rasa tak bisa dipungkiri, kita bakalan bisa merasakan manis meski kita belum bisa mengucapkan kata manis. Hanya saja rasa manis itu akan kita rasa apabila kita sudah pernah merasakan rasa selain manis, ada rasa pahit, rasa asem, rasa asin dan lain sebagainya.  Itulah sejatinya rasa.

Naik satu tingkat pada rasanya sejati.
Saya sering memakan mangga, mangga muda sangat tepat apabila kita nikmati sebagai bahan untuk membikin menu rujak bersama buah-buah lainnya, rasa mangga muda lumayan ‘mak nyus’ karena mangga muda tersebut mengandung rasa asem. Namun sebaliknya, saat saya menikmati mangga yang sudah matang/masak, maka rasa yang bakalan di timbulkan kebanyakan adalah rasa manis. Tanpa saya cerita pun temen-temen pasti sudah lebih bisa memahaminya.
Itu adalah pembeda rasa dilidah kita tentang manis dan asem, sebatas di lidah.

Dalam belajar akan lebih baik apabila kita mampu memahami akan keberadaan sebuah hasil berdasarkan dari pengamatan sebuah proses. Angka lima ditambah angka dua akan berakhiran dengan angka tujuh, itu kita semua sudah tahu dan hapal. Namun alangkah lebih baik tatkala kita mengetahui darimana sih angka tujuh tadi didapat..? Oh ternyata lima ditambah satu itu sama dengan enam dan ditambah satu lagi berarti tujuh. Angka satu tadi dua kali kita tambahkan pada angka lima. Seperti itulah hendaknya kita dalam mengambil satu tindakan untuk menyikapi sebuah pemahaman.
Seirama dengan hal itu dapat pula kita terapkan pada buah mangga. Oh mangga itu pada saat muda ternyata berrasa asem, namun setelah kita rawat, kita jaga, kita beri suplemen berujud pupuk terbukti juga bakalan berakhir kepada kondisi tua yang tak lain adalah manis rasanya. Namun kita musti sadar akan rasa tadi, mau asem ataupun manis itu adalah rasanya buah mangga, bukan buah durian, apalagi buah rambutan. Rasa yang sejati dari buah Mangga ya tetep mangga!

Sebagian dari pembelajaran hidup adalah juga belajar dalam pemahaman.
Penerapan metode ini bukankah syah-syah saja apabila kita (saya) praktekan pada keberadaan Tuhan?, bahwa mau dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun yang namanya Dzat Tuhan itu ya tetep  Dzat Tuhan. Dzat yang mampu mengkodisikan diri dalam semua situasi dan kondisi.

Achhh, maafkan saya temen-temen bukan maksud sok menggurui apalagi menasehati, dari sini berharap kita semua mampu menjalankan proses pembelajaran hidup. Belajar seiring waktu yang juga bakalan butuh kesabaran demi tercapainya rasa manis seperti yang ada pada rasa mangga masak tadi.
Dan dengan tetap belajar secara terus menerus semoga kita bisa lebih memahami arti keberadaan hidup didunia ini. Dimanapun dan kapanpun apabila terpaksanya menghadapi sebuah ujian dadakan dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, kita tetap mampu untuk mengerjakannya. Tentu tak lupa dengan memohon petunjuk dan juga memminta pertolonganNYA. [uth]

__________________________________________________________________________________________________
Duh Gusti Allah! Kawula nyuwun pitulungan, Awit namung paduka sak sae-saenipun pitulungan, Sanes (kagem menangipun) kawula, Paduka sak sae-saenipun ingkang mbikak, pramila kawula nyuwun ampunan. Paduka sak sae-saenipun pengampunan, nyuwun welas asih. Paduka sak sae-saenipun welas asih, paringana kawula rejeki. Paduka sak sae-saenipun ingkang peparing rejeki pramila nyuwun pitedah lan kaendar saking para kaum dzalim. (Qunut Nazilah)

jarwodhosok ‘pansus-century’

bailout
Illustrasi: bailout (www.jakartapress.com)

Jarwo dhosok (kerata bahasa) itu dalam ilmu bahasa kurang lebih bisa diartikan “mempresentasikan satu kata dari sukukatanya dengan cara diotak-atik agar nyambung demi satu tujuan kebaikan, dalam istilah jawanya dikatakan ‘negesi tembung saka wandane kanthi diothakathik gathuk amrih becike’.

Sebagai contoh adalah kata ‘wanita’ yang bisa di jarwodhosok-kan sebagai wani nata uga wani ditata, berani menata ‘wani temata’, ‘wani nata’, selain pula ‘wani ditata’. Artinya, barang siapa berjati diri sebagai wanita harus rajin dan pintar menata rumah tangga, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga. Sekalipun akhir-akhir ini fakta demikian banyak disangkal, setidaknya kearifan ‘jarwo dhosok’ kata ‘wanita’ ini dapat digunakan sebagai pengingat.

Tak bisa disebutkan secara rinci sejak kapan hal ini terjadi, namun dalam tradisi masyarakat Jawa pemakaian entitas kebahasaan demikian ini merupakan salah satu bentuk kearifan.

Pansus Century
Sebagai warga biasa yang berpangkat rakyat jelata saya mungkin tak terlalu risau dengan keadaan Negeri yang sedang dilanda banjir century ini, namun sebagai anaknya Ibu pertiwi yang berusaha patuh, sedikit banyak saya tak ketinggalan juga untuk (sedikit) mengikuti apa yang sedang membuat resah karena ada luka pada tubuh  Ibu Pertiwi tersebut. Hanya sekedar itu yang bisa saya lakukan dan rasakan.

Saya sama sekali tak punya kehendak dan rasa berharap (cemas) tentang bakal terjadi kabar apa pada hajatan yang di sebut Pansus Century. Karena memang pada dasarnya secara pribadi sepertinya tak ada nilai untung ataupun rugi sehubungan dengan hal tersebut bila dilihat dari sisi materi. Yach, hanya karena saya tak memiliki uang yang berada pada cengkraman Bank Century, jadi sikap cuek-pun akan menjadi aksi.

Sambil menunggu pengumuman mengenai bailout (yang katanya) sesegera mungkin akan dipublikasikan sebagai buah dari hasil kinerja pansus century, tak seperti  saya, ternyata masih ada yang setia menungguinya, yaitu mereka-mereka yang telah dirugikan atas jasa keuangan yang disimpan pada Bank Century.

Masih berhubungan dengan tema jaewodhosok, Sebagaimana ‘kupat’ dapat dijarwodhosokkan ‘ngaku lepat’ alias ‘mengakui kesalahan’ dengan anggota keluarga lainnya. Maka tidak menutup kemungkinan apabila  Pansus Centuripun bisa di jarwodhosokkan juga sebagai Papan nggedebus supaya ‘cent’ bisa oncat metu mburi, yaitu yang mengandung makna tempat berbicara (tanpa makna) yang bisa menyelamatkan uang (cent) meskipun harus lewat pintu belakang. Bukankah hal itu syah-syah saja seperti pada saat kebanyakan orang juga menjarwodhosokkan kata Januari yaitu Hujan Sehari-hari, atau desember, ‘gedhe-gedhenya sumber’ sehingga mampu membuat banyak orang yang benci deengan tabiat itupun tak begitu diambil pusing karena konotasi ‘benci’ menurut mereka adalah bener-bener cinta. Tak ada kata haram dan tiada rasa bersalah  apabila tetap nggedebus dengan kata-kata semacam bangsat sekalipun…

Ini hanyalah jarwodhosok yang secara iseng saya sampaikan, sama sekali tak mengandung unsur filosofis seperti kebanyakan yang sudah ada. Untuk  itu dalam meng-intepretasikan tentang segala hal terutama yang berhubungan dengan Pansus Centuri   ya saya persilahkan pada teman-teman tercintaku semuanya, ada yang sependapat ya syukur enggakpun tak ada motif yang bersifat lost-profit dari saya, pokoknya ya  ‘monggo-monggo’ saja!

Bukankah bahasa itu memang hakekatnya multi-intepretasi..? [uth]